Sukses

Atlet Asian Para Games Perlu Waspada 3 Jenis Kram Ini

Agar dapat bertanding dan mempersembahkan hasil terbaik, atlet yang akan berlaga dalam Asian Para Games harus mewaspadai jenis kram ini.

Klikdokter.com, Jakarta Gelaran Asian Para Games tinggal 4 hari lagi. Pesta olahraga penyandang disabilitas ini akan mempertandingkan 18 cabang olahraga. Bagi para atlet yang bertanding, waspadai ancaman kram yang bisa mengganggu.

Kram sebenarnya adalah ancaman yang bisa menyerang siapa saja, baik atlet atau yang bukan atlet, dari anak-anak hingga orang dewasa. Akan tetapi, pada atlet, hal ini menjadi rentan karena intensitas penggunaan otot, baik saat latihan maupun pertandingan.

Anda mungkin ingat ketika di Asian Games, pebulu tangkis Anthony Ginting mengalami kram saat tampil di final beregu melawan Shi Yuqi dari Tiongkok. Dia seketika terkapar tak mampu melanjutkan pertandingan dan itu mencerminkan betapa berbahayanya kram.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter, kram merupakan kontraksi otot yang terjadi secara spontan dan tidak terkendali. Nyeri yang terasa akibat kram otot bisa seperti ditusuk-tusuk dan penderitanya kesulitan menggerakkan otot.

Kondisi ini tentu membuat tidak nyaman dan tidak menguntungkan bagi atlet yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsanya. Performa di arena secara keseluruhan juga bisa terganggu. Maka dari itu, kram sangat perlu diwaspadai.

Berdasarkan lokasinya, ada beberapa jenis kram yang rentan dialami atlet yang sedang berlatih atau bertanding:

  1. Kram di pinggang

Kram jenis ini biasanya terjadi di daerah pinggang atau perut bawah bagian kiri dan kanan. Kram ini bisa membuat penderitanya kesulitan bernapas disertai keluhan nyeri di sekitar tulang iga. Penyebabnya adalah karena teknik pernapasan yang dangkal.

Menurut dr. Resthie, biasanya seseorang bernapas demikian jika sedang mengalami stres. Selain itu, kekurangan elektrolit, seperti kalsium, kalium, dan natrium, juga bisa memicu kram ini.

  1. Kram di tungkai

Biasanya terjadi di otot paha atau betis. Untuk kram di betis, ini adalah jenis kram yang dialami oleh Anthony Ginting beberapa waktu lalu. Kram di betis biasanya karena penumpukan asam laktat di otot. Asam laktat timbul akibat kontraksi otot yang berlebihan.

Sementara itu, kram di otot paha paling sering disebabkan oleh dehidrasi. Kondisi dehidrasi menyebabkan otot paha kaku dan tegang. Jika berlangsung berkepanjangan, kram pun tak dapat dihindari.

  1. Kram perut

Waspada buat atlet, jangan sampai kebanyakan makan sebelum berlatih atau bertanding. Ini bisa menyebabkan kram perut. Selain itu, kram perut juga bisa disebabkan oleh karena kurangnya elektrolit.

1 dari 2 halaman

Tips atasi kram otot

Kram otot bisa diatasi dengan segera lewat acara sederhana. Menurut dr. Dyan Novita Anggraini dari KlikDokter, jika suatu saat Anda mengalami kram otot, Anda dapat menangani gangguan tersebut dengan beberapa langkah berikut ini:

  • Segera istirahat, regangkan, luruskan dan pijat bagian yang mengalami kram. Memang akan ada rasa nyeri, tapi dapat dibantu dengan menarik napas secara teratur.
  • Kompres area otot yang mengalami kram dengan cold pack atau kompres es dengan dibungkus kain selama beberapa menit.
  • Segera minum air putih.
  • Jika nyeri tidak tertahankan, Anda dapat konsumsi obat antinyeri namun dengan pengawasan dari dokter.
  • Jika perawatan di atas tidak mengurangi rasa kram, segera konsultasi lebih lanjut ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan melihat apakah ada kondisi medis yang mendasarinya.

Dengan mengenal beragam penyebab kram tersebut, para atlet yang akan bertanding di Asian Para Games bisa lebih berhati-hati agar tidak mengalami kondisi tersebut. Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan pemanasan secara optimal sebelum bertanding. Minum dua liter air per hari juga penting. Jangan lupa juga mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung banyak air dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar