Sukses

Sering Merasa Rendah Diri, Jangan-Jangan Anda Echoist?

Orang yang terlalu percaya diri alias narsis kini punya lawan baru, yaitu echoist. Mereka bersikap sebaliknya, yaitu terlalu rendah diri.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam kehidupan sosial, berhadapan dengan orang yang terlalu percaya diri alias narsis bisa membuat Anda senang sekaligus kesal. Namun, apa jadinya bila Anda bertemu dengan orang yang punya kepribadian echoist?

Echoist adalah kebalikan dari sifat terlalu percaya diri. Ya, orang-orang echoist sangat rendah diri. Mereka bisa menyalahkan dirinya sendiri atas semua permasalahan atau kemarahan orang lain, meski itu bukan salahnya. Intinya, orang echoist selalu cemas atas ketidakmampuan dirinya sendiri dan merasa ‘bertanggung jawab’ atas perlakukan buruk yang menimpa mereka.

Apa sebenarnya echoist itu?

Dilansir dari Psychology Today, echoist merupakan karakter yang sangat takut narsis dengan alasan apa pun. Mereka dikenal sebagai orang yang sangat santun, takut membebani orang lain, tidak nyaman dengan perhatian terutama pujian, dan mudah setuju dengan pendapat orang lain karena tidak ingin berdebat. Orang-orang echoist sangat takut dianggap istimewa.

Meski demikian, orang echoist belum tentu orang yang pasif. Ini karena mereka bisa sangat aktif untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Mereka pun pendengar yang amat baik, tetapi bukan orang mudah terbuka atau berani membicarakan dirinya sendiri.

Mereka pun bisa saja marah karena merasa tidak nyaman, misalnya saat Anda menghujaninya dengan begitu banyak perhatian akibat pekerjaan. Intinya, orang echoist benci merasa spesial dan berpikir bahwa hal tersebut hanya akan membebani temannya sendiri.

Penyebab munculnya echoist

Di masa kecil, ketika anak memang sedang membutuhkan (bukan menginginkan) sesuatu namun tidak terpenuhi dan dirinya disalahkan karena ketidakmampuannya, ia berpotensi menjadi echoist di kemudian hari. Apalagi bila anak tersebut memiliki orang tua narsis, yang sering menyalahkan orang lain atas rasa tidak puasnya.

Anak yang demikian pun berisiko tumbuh sebagai orang yang takut membicarakan sudut pandang dirinya sendiri, karena takut kehilangan atau disalahkan. Menurut Psychology Today, mereka sebenarnya menderita dengan sifat seperti ini. Pasalnya, setiap orang perlu sedikit diistimewakan saat mengalami masa sulit agar tidak depresi.

Apakah echoist termasuk gangguan mental?

Berdasarkan Psychology Today, echoisme merupakan sifat, bukan gangguan mental. Atau lebih tepatnya lagi adalah strategi bertahan hidup dari rasa kecewa. Orang-orang echoist terkadang bisa bersikap dewasa dan sepenuh hati untuk menyenangkan orang yang mereka kasihi.

Meski bukan dianggap sebagai gangguan mental, tidak ada salahnya seorang echoist pergi berkonsultasi ke terapis mental. Hal ini dilakukan guna membantu dirinya untuk selalu mengingat bahwa setiap orang berhak diperlakukan spesial.

Bila memang tidak salah, seorang echoist harus melatih dirinya untuk tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kekacauan yang ditimbulkan oleh orang lain. Introspeksi diri memang baik, tapi bila berlebihan tentu bukan tindakan yang bijaksana.

Setelah membaca ulasan di atas, apakah Anda merasa memiliki sifat echoist? Jika ya, cobalah untuk menghargai diri Anda sedikit demi sedikit mulai saat ini. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan―entah itu rasa percaya diri atau rendah diri―tidak akan memberikan keuntungan. Hal tersebut justru akan membuat diri Anda terbelenggu dan ‘tersiksa’ dari dalam.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar