Sukses

Bagaimana Mendeteksi Telinga Tuli pada si Kecil?

Gangguan pendengaran alias tuli dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak. Lakukan cara ini untuk mendeteksinya.

Klikdokter.com, Jakarta Tuli merupakan salah satu masalah kesehatan yang menyebabkan hilangnya fungsi indra pendengaran. Gangguan kesehatan ini dapat terjadi pada siapa saja, tak terkecuali anak-anak.

Banyak hal yang dapat menyebabkan kejadian tuli pada anak. Sebagian besar kasus tersebut terjadi akibat kelainan genetik, yang didasari oleh adanya gangguan pendengaran serupa di keluarga. Selain itu, anak juga bisa mengalami ketulian jika:

  • Saat hamil, sang ibu mengonsumsi obat-obatan yang bersifat ototoksik.
  • Adanya infeksi yang terjadi saat masih berada di dalam kandungan.
  • Mengalami cedera atau trauma saat lahir.
  • Mengalami cedera di bagian kepala.
  • Terkena infeksi di bagian tulang belakang atau kepala.

Seorang anak yang mengalami telinga tuli perlu segera diatasi sedini mungkin. Namun sayangnya, tuli yang terjadi pada anak termasuk sulit dideteksi karena si Kecil belum sepenuhnya mampu mengeluhkan adanya gangguan pendengaran yang terjadi pada dirinya.

Atas alasan itu, setiap orang tua dituntut untuk lebih waspada dan peka terhadap setiap gejala yang berhubungan dengan gangguan pendengaran pada anak.

Mendeteksi tuli pada anak

Untuk mendeteksi ketulian pada anak, orang tua harus bisa membedakan respons yang dikeluarkan oleh si Kecil yang memiliki pendengaran sehat. Melansir cochlear.com, berikut adalah respons yang terjadi pada anak dengan kondisi pendengaran sehat:

  • Anak yang baru lahir. Pada usia ini, si Kecil umumnya akan terkejut atau tersentak sebagai respons terhadap suara keras yang tiba-tiba. Mereka juga terkadang memutar kepala ke arah datangnya suara.
  • Usia 2 bulan. Di usia ini, si Kecil dengan kondisi pendengaran normal dapat membedakan nada, intonasi, dan gaya suara yang berbeda-beda.
  • Usia 3-4 bulan. Si Kecil dengan pendengaran normal yang sudah masuk ke usia ini akan mampu mengenali suara orang tua dan dapat melafalkan bunyi huruf konsonan M, K, G, P dan B, serta beberapa suara huruf vokal.
  • Usia 5-6 bulan. Si Kecil akan mulai mengoceh dan tertawa bila diajak berbicara.
  • Usia 8-9 bulan. Di usia ini, si Kecil mulai memahami hubungan antarkata dan ekpresi yang dikeluarkan saat orang lain berbicara.
  • Usia 11-12 bulan. Si Kecil dengan pendengaran normal yang sudah berada di usia ini akan mampu memahami kata-kata sederhana, dan mampu mengucapkan “mama”.

Lantas, apakah anak yang tidak memiliki kemampuan di atas saat usianya sudah mencukupi bisa dikatakan mengalami gangguan pendengaran atau tuli? Jawabannya: belum tentu.

Setiap anak memiliki gaya tumbuh kembang yang berbeda. Begitu pula saat gangguan pendengaran terjadi; anak yang mengalami kondisi ini tak selalu menunjukkan kelainan yang serupa.

Waspadai juga gejala ini

Anak yang tidak memiliki kemampuan di atas saat usianya sudah mencukupi sebaiknya segera dibawa berobat ke dokter. Apalagi, jika si Kecil juga mengalami hal-hal berikut ini:

  • Tidak merespons perkataan orang yang mengajaknya berbicara, atau si Kecil tidak menyadari bahwa dirinya sedang diajak berbicara dengan orang di sekitarnya.
  • Benar-benar bingung mendeteksi arah datangnya suara.
  • Mengalami keterlambatan berbicara dibandingkan anak lain seusianya.
  • Mengalami kesulitan untuk fokus mendengarkan satu suara saat banyak orang sedang berbicara.
  • Hanya menggunakan satu telinga untuk fokus mendengarkan sesuatu.
  • Sering murung, karena tidak bisa mendengarkan suara yang ditujukan untuknya.
  • Mengalami kesulitan untuk berperilaku, karena tidak bisa mendengar perintah dengan jelas.
  • Sering lelah dan badan lemas, meski aktivitasnya tidak terlalu padat.

Jangan sampai lalai atau terlambat mendeteksi adanya gangguan pendengaran pada si Kecil. Sebab, telinga tuli atau masalah pendengaran lain dapat menyebabkan berbagai gangguan tumbuh kembang yang sangat berarti.

Jadi, jika Anda merasa bahwa si Kecil memiliki beberapa kondisi yang telah disebutkan di atas, tak perlu menunda hingga esok hari untuk membawanya berobat ke dokter umum atau dokter spesialis THT. Ingat, deteksi dini serta pengobatan secara dan tepat mampu menyelamatkan anak Anda dari berbagai gangguan yang menyertai di kemudian hari.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar