Sukses

Gempa dan Tsunami di Donggala, Ini yang Harus Dilakukan

Wilayah Palu dan Donggala diguncang gempa dan tsunami. Ini yang harus dilakukan segera untuk memulihkan kondisi warga!

Klikdokter.com, Jakarta Bencana alam kembali terjadi di sebagian wilayah Indonesia. Setelah beberapa waktu lalu Lombok diguncang gempa, kini gempa terjadi di sebagian Sulawesi. Dikutip dari situs resmi BMKG, gempa bumi tektonik telah terjadi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada hari Jumat, 28 September 2018, jam 17.02.44 WIB dengan magnitudo 7,7 Lokasi gempa berjarak 26 km dari Utara Donggala Sulawesi Tengah, dengan kedalaman 10 km.

Gempa tersebut selanjutnya disusul dengan tsunami di kawasan Teluk Palu yang membuat gelombang pasang menerjang sampai ke daratan. Kekuatan gempa tersebut dirasakan di wlayah-wilayah lain di Sulawesi, bahkan hingga ke Samarinda, Kalimantan Timur.

Akibat gempa dan tsunami tersebut, ratusan bangunan rumah dan sarana publik hancur. Landasan pacu (runway) Bandar Udara Mutiara di Palu mengalami kerusakan sepanjang 500 meter dari 2500 meter yang ada.

Jembatan Kuning atau Jembatan Ponulele di atas Teluk Talise yang menghubungkan wilayah Kecamatan Palu Barat dan Timur bahkan terputus. Kondisi ini berakibat terisolasinya beberapa wilayah di Palu dan Donggala.

Mengutip Liputan6, korban yang jatuh hingga artikel ini ditulis berjumlah 18 korban meninggal dan 196 korban luka-luka. Bukan tidak mungkin jumlah korban akan terus bertambah setelah data terbaru berhasil dikumpulkan.

Bantuan harus segera diberikan

Melihat gentingnya kondisi pasca gempa dan tsunami di wilayah Palu, Donggala dan sekitarnya, perlu tindakan cepat dari berbagai pihak untuk segera memulihkan kondisi masyarakat yang terkena dampak bencana. Koordinasi yang cepat, strategis dan taktis dari semua pihak yang berwewenang sangat mutlak dilakukan.

Di bawah ini adalah tiga hal penting yang harus segera dilakukan untuk masyarakat Palu dan Donggala yang terkena dampak bencana:

  • Bantuan makanan dan minuman

Menurut dr. Melyarna Putri dari KlikDokter, selain bantuan air bersih yang sangat krusial, bantuan makanan juga harus menjadi perhatian dengan saksama. Bantuan makanan yang diberikan seharusnya bisa memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin dan serat. Jenis makanan karbohidrat bisa mencakup nasi atau mi.

Untuk kebutuhan protein dan lemak, telur dan susu kemasan bisa menjadi alternatif utama karena mudah didapat dan bisa disimpan dalam jangka waktu lama bahkan tanpa disimpan dalam lemari pendingin. 

Alpukat juga bisa menjadi salah satu alternatif lainnya untuk memenuhi kebutuhan protein dan lemak para pengungsi. Sedangkan kebutuhan serat dan vitamin,  buah jeruk dan apel juga bisa menjadi pilihan karena cukup tahan lama.

  • Bantuan obat-obatan

Menurut dr. Mely, obat-obatan yang diperlukan bisanya berupa obat batuk, pilek dan salep kulit.  Vaksinasi sendiri diperlukan jika memang lokasi tersebut adalah daerah endemis malaria. Jika demikian kondisinya, maka relawan yang dikirim ke sana, perlu minum profilaksis.

Senada dengan dr. Mely, bantuan obat-obatan menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, biasanya berupa obat standar  gawat darurat  untuk mengatasi penyakit pasca gempa.  Obat anti-radang atau anti-nyeri untuk mengurangi nyeri setelah mengalami cedera juga sangat diperlukan. Begitu pula dengan obat antidepresan untuk mengatasi trauma kejiwaan. Meski demikian, obat ini perlu sangat dibatasi penggunaannya.

Selain itu perlu diwaspadai beragam penyakit yang rentan muncul setelah gempa dan tsunami, seperti infeksi saluran napas, infeksi saluran cerna, serangan jantung,  stroke dan hipertensi. Selain itu, penanganan luka cedera/ trauma seperti patah tulang, luka robek atau tergores juga tidak boleh disepelekan.

  • Trauma Healing

Masyarakat yang menjadi korban gempa dan tsunami yang rumahnya rusak dan tidak bisa ditempati, selanjutnya tentu saja akan beralih status menjadi pengungsi. Di lokasi pengungsian, mereka akan berhadapan dengan situasi yang tidak pasti dalam beberapa waktu mendatang.

Kondisi tersebut rentan menimbulkan stres dan jika tidak ditangani bisa mengarah pada kondisi depresi. Oleh karena itu mereka sebenarnya perlu segera mendapatkan terapi psikologis untuk memulihkan diri dari trauma (trauma healing)

Dikutip dari WebMD, setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika mengalami trauma. Akibatnya, post-traumatic stress disorder (PTSD) yang dialami pun bisa berbeda.

Oleh karena itu, trauma healing ini juga sebenarnya tidak hanya perlu diberikan kepada warga yang terkena dampak bencana –terutama anak-anak– namun juga kepada relawan yang dikirim ke lokasi bencana. Bahkan jika perlu, para prajurit TNI yang diterjunkan untuk mengirimkan bantuan dan memulihkan wilayah pun harus mendapatkan terapi psikologis.

Lalau kapan sebaiknya terapi tersebut diberikan? Trauma healing ini sebaiknya segera dilakukan dan tidak menunggu terlalu lama. Tujuannya agar semangat dan optimisme warga korban gempa dan tsunami bisa segera pulih.

Hingga saat ini, beberapa kali gempa susulan masih dirasakan oleh warga di wilayah Palu dan Donggala. Kerusakan sarana umum dan tempat tinggal akibat gempa dan tsunami di wilayah tersebut, Jumat kemarin, memang tidak bisa segera diperbaiki seperti semula. Namun yang terpenting adalah bagaimana segera  menyalurkan bantuan untuk para korban bencana, sekaligus menumbuhkan semangat dan optimisme mereka untuk kembali bangkit.

[RH]

0 Komentar

Belum ada komentar