Sukses

Jenis-Jenis Gangguan Mental yang Perlu Anda Tahu

Gangguan mental banyak macamnya, mulai dari yang ringan hingga berat. Yuk, kenali jenis-jenis gangguan mental yang ada.

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan mental masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikeluarkan pada 2016, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, dan 47,5 juta terkena demensia di seluruh dunia.

Melansir WebMD, gangguan mental adalah penyakit atau kondisi yang memengaruhi cara berpikir, merasakan sesuatu, bertindak, atau berhubungan dengan orang lain serta lingkungan. Gejala dari kondisi ini bisa berkisar dari ringan hingga berat, juga bervariasi pada setiap penderitanya.

Jenis-jenis gangguan mental

Beberapa jenis gangguan mental yang umum terjadi dan mungkin sudah Anda ketahui, di antaranya:

  • Gangguan cemas

Orang dengan gangguan kecemasan merespons objek atau situasi tertentu dengan ketakutan dan rasa ngeri, serta dengan tanda-tanda fisik seperti detak jantung yang cepat dan berkeringat.

Gangguan kecemasan terdeteksi jika respons seseorang tidak sesuai dengan situasi, tidak dapat mengendalikan respons, atau jika kecemasan mengganggu fungsi tubuh.

  • Gangguan mood

Gangguan ini juga disebut gangguan afektif, yakni melibatkan perasaan sedih yang terus-menerus, perasaan terlalu bahagia, atau gejolak dari kebahagiaan ekstrem hingga kesedihan yang mendalam.

Gangguan suasana hati (mood) yang paling umum adalah depresi, gangguan bipolar, dan gangguan siklotimik.

  • Gangguan psikotik

Gangguan psikotik melibatkan kesadaran dan pemikiran yang terdistorsi. Dua gejala yang paling umum dari gangguan psikotik adalah halusinasi dan delusi. Skizofrenia adalah contoh dari gangguan psikotik.

  • Gangguan makan

Gangguan makan melibatkan emosi, sikap, dan perilaku ekstrem yang melibatkan berat badan dan makanan. Anoreksia nervosa dan bulimia nervosa adalah dua contoh gangguan makan yang paling umum terjadi.

  • Kontrol impuls dan gangguan kecanduan

Gangguan kontrol impuls membuat penderitanya tidak dapat menahan keinginan atau dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri atau orang lain. Sering kali, orang-orang dengan gangguan ini menjadi begitu terlibat dengan objek kecanduan mereka, sehingga cenderung mengabaikan tanggung jawab.

Pyromania (menyalakan api), kleptomania (mencuri), dan perjudian kompulsif adalah contoh gangguan kontrol impuls.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  • Gangguan kepribadian

Orang dengan gangguan mental ini memiliki ciri-ciri kepribadian yang ekstrem dan tidak fleksibel, yang menyusahkan orang atau menyebabkan masalah dalam pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial.

Beberapa yang termasuk gangguan kepribadian, misalnya antisosial, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, dan gangguan kepribadian paranoid.

  • Obsesif-Compulsive Disorder (OCD)

Orang dengan OCD diselimuti oleh pikiran atau ketakutan konstan, yang menyebabkan mereka melakukan ritual atau rutinitas tertentu. Pikiran yang mengganggu disebut obsesi dan ritual disebut kompulsif.

Contoh OCD adalah seseorang dengan rasa takut yang tidak masuk akal terhadap kuman sehingga ia terus-menerus mencuci tangannya.

  • Gangguan stres pasca-trauma (PTSD)

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang dapat berkembang mengikuti peristiwa traumatis atau menakutkan, seperti serangan seksual atau fisik, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, atau bencana alam. Orang dengan PTSD sering memiliki pikiran dan kenangan yang abadi dan cenderung “mati rasa” secara emosional.

2 dari 3 halaman

Gangguan mental lain yang perlu Anda tahu

Sementara itu, beberapa gangguan mental yang mungkin belum Anda ketahui adalah sebagai berikut:

  • Sindrom respons stres

Keadaan ini terjadi ketika seseorang mengembangkan gejala emosional atau perilaku dalam menanggapi peristiwa maupun situasi yang menegangkan. Sindrom respons stres biasanya dimulai dalam waktu tiga bulan semenjak terjadinya peristiwa, dan berakhir dalam enam bulan setelah faktor penyebab stres berhenti atau hilang.

Sindrom respons stres bisa muncul akibat bencana alam, misalnya:

  • Gempa bumi atau angin puting beliung
  • Peristiwa atau krisis, seperti kecelakaan mobil atau diagnosis penyakit mematikan
  • Masalah interpersonal, seperti perceraian, kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan masalah penyalahgunaan zat.
  • Gangguan disosiatif

Penderita gangguan disosiatif cenderung mengalami perubahan dalam ingatan, kesadaran, identitas, dan kesadaran umum tentang diri maupun lingkungannya. Gangguan ini biasanya dikaitkan dengan stres luar biasa yang mungkin merupakan akibat dari peristiwa traumatis, kecelakaan, termasuk bencana yang mungkin dialami atau disaksikan.

  • Gangguan factitious

Gangguan yang bersifat menipu ini adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang secara sadar dan sengaja menciptakan atau mengeluhkan gejala fisik maupun emosional untuk menempatkan dirinya dalam peran pasien.

  • Gangguan seksual dan gender

Ini termasuk gangguan yang memengaruhi hasrat seksual, kinerja, dan perilaku. Disfungsi seksual, gangguan identitas gender, dan paraphilias adalah contoh gangguan seksual dan gender.

  • Gangguan gejala somatik

Gangguan gejala somatik sebelumnya dikenal sebagai gangguan psikosomatis. Penderitanya mengalami gejala seperti nyeri dengan tingkat berlebihan dan tidak proporsional.

  • Gangguan tic

Orang dengan gangguan ini membuat suara atau melakukan gerakan tubuh yang tidak teratur dan berulang, cepat, secara tiba-tiba, serta tidak terkendali.

Dalam banyak kasus, orang dengan gangguan mental bisa mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karenanya, jika Anda merasa mengalami salah satu gangguan mental di atas, tak perlu menunda lagi untuk berobat ke dokter atau psikiater.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar