Sukses

3 Ketakutan Pasutri dalam Melakukan Program Bayi Tabung

Program bayi tabung adalah salah satu cara untuk mendapatkan keturunan. Namun, banyak pasangan suami istri takut melakukan program ini.

Klikdokter.com, Jakarta Anak adalah dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Bagi pasangan yang sudah lama menikah tapi belum juga mendapatkan keturunan, bisa menempuh cara bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Akan tetapi, banyak juga pasangan yang takut menjalankan program bayi tabung ini.

Sulitnya pasangan suami istri memiliki keturunan bisa juga disebabkan oleh ketidaksuburan (infertilitas). Menurut WHO, infertilitas adalah keadaan ketika seorang wanita tidak bisa mendapatkan kehamilan setelah 1 tahun menikah dan berhubungan seks secara reguler 2-3 kali per minggu tanpa kontrasepsi. Ini yang membuat pasangan setelah menikah harus memeriksakan kesehatannya.

Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada 2012, total infertilitas wanita di Indonesia mencapai 15 persen atau setidaknya 6 juta wanita. Akan tetapi, ketidaksuburan tak melulu menyangkut soal wanita.

Menurut Dr. Ivan Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG, yang merupakan Sekretaris Jenderal Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (PERFITRI), keberhasilan mendapatkan anak ditentukan oleh kedua belah pihak.

"Pada wanita, penyebabnya dapat berupa gangguan ovulasi, endometriosis, perlekatan organ panggul, dan sumbatan pada telur. Sedangkan, pada pria yang bermasalah adalah kuantitas dan kualitas spermanya yang bisa jadi sangat rendah. Faktor ini karena merokok, olahraga yang salah, dan stres," ujar Dr. Ivan.

Namun, untuk pasangan yang mendambakan keturunan, salah satu terapi kesuburan yang bisa dilakukan adalah bayi tabung. Upaya mendapatkan keturuan lewat bayi tabung ini sudah teruji sejak 40 tahun lalu.

1 dari 2 halaman

Ketakutan melakukan program bayi tabung

Bayi tabung adalah salah satu cara untuk mendapatkan keturunan. Akan tetapi, masih banyak pasangan yang takut melakukan program ini. Biasanya karena berbagai faktor, mulai dari tidak mendapatkan informasi yang benar sampai kebiasaan orang Indonesia yang "dokter shopping" yakni berpindah-pindah dokter untuk menjalani terapi.

Semakin sering mereka seperti itu, semakin lama mereka mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Jika seperti itu, bagi wanita akan merugikan, karena kualitas sel telur semakin menurun seiring bertambahnya usia.

Selain itu, berikut tiga ketakutan yang sering dialami pasutri yang ingin melakukan program bayi tabung:

1. Mental

Angka keberhasilan program bayi tabung relatif tidak tinggi. Hal ini kerap membuat mental pasangan suami-istri menjadi tidak siap.

"Keberhasilan mencapai 40-50% ketika melakukan program bayi tabung pada usia 35 tahun ke bawah. Untuk usia 35-38 tahun tingkat keberhasilan sekitar 30-35 persen, lalu pada usia 38 tahun ke atas sekitar 25 persen. Sedangkan, untuk wanita di atas 40 tahun itu angka keberhasilannya hanya di kisaran 10 persen," ujar Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, selaku Presiden PERFITRI.

2. Fisik

Dr. Ivan menyebut bahwa fisik menjadi elemen penting dalam melakukan program bayi tabung. Harus dipastikan bahwa sperma sehat untuk pria. Lalu, cadangan telur yang bagus, tidak ada kista, dan tidak ada miom untuk wanita.

3. Finansial

Ini adalah ketakutan utama pasangan suami istri melakukan program bayi tabung.

"Rata-rata dana yang dibutuhkan adalah 60-80 juta. Tapi ini juga tergantung usianya. Jika usia memulai program bayi tabung, calon ibu sudah agak tua atau cadangan telur sedikit, itu bisa sampai 100 juta," ujar Dr. Ivan.

Sebagai informasi, Dr. Ivan menyatakan bahwa dari permulaan program sampai dinyatakan hamil, program bayi tabung hanya membutuhkan waktu sebulan. "Proses stimulasi dua minggu, tanam embrio dua minggu. Kemudian tes kehamilan," sambungnya.

Buat Anda para pasangan yang belum diberikan keturunan, tidak ada salahnya mencoba program bayi tabung. Meski ada ketakutan, bayi tabung adalah pilihan logis bagi pasangan yang menginginkan anak. Jika Anda ragu, segera temui dokter dan datang ke klinik-klinik khusus IVF.

[RS/ RVS]

2 Komentar