Sukses

Sering Sesak Napas, Apakah Selalu Asma?

Serangan asma memang ditandai dengan sesak napas, tetapi sesak napas tidak selalu dipicu asma.

Klikdokter.com, Jakarta Sesak napas merupakan salah satu gejala dari asma. Namun, tidak semua sesak napas disebabkan oleh asma. Ada berbagai hal di luar asma yang dapat menjadi pemicu sesak napas.

Lalu, bagaimana cara membedakan sesak napas dengan asma?

Sesak napas vs. asma

Dilansir Everyday Health, sesak napas – istilah kedokterannya dikenal dengan dispnea – merupakan kondisi ketika dada terasa kencang dan terasa seperti tercekik. Gangguan kesehatan ini cukup umum dan dapat terjadi pada beberapa orang yang aktif secara fisik.

Tanda-tanda kesulitan bernapas yang berat adalah pernapasan dan denyut jantung yang cepat, terengah-engah, mengi, retraksi tulang rusuk, pembengkakan hidung, dan sianosis di mana tangan dan kaki menjadi kebiruan karena kekurangan oksigen.

Seseorang dengan kesulitan bernapas yang parah menggunakan otot leher dan dada untuk bernapas. Sesak napas dapat dikaitkan dengan gejala nyeri dada, pleuritis, kecemasan, nyeri leher, dan cedera dada.

Membedakan sesak napas dengan asma memang agak sulit. Tapi ketahuilah bahwa pada gejala asma, mengi yang terjadi dapat menjadi makin buruk saat suhu dingin, saat berolahraga, atau ketika sedang mulas. Mengi juga biasanya memburuk pada pagi atau malam hari. Selain itu, gejala asma adalah batuk dan nyeri dada.

Meskipun gejala-gejala tersebut khas asma, mereka juga dapat menandakan masalah pernapasan lainnya. Ada beberapa gangguan kesehatan yang gejalanya sama seperti asma, yaitu:

  • Penyakit paru obstruktif kronis
  • Pneumonia
  • Alergi
  • Emboli paru
  • Serangan jantung
  • Gagal jantung kongestif
  • Polutan lingkungan (seperti debu)
  • Obesitas atau jarang berolahraga
  • Serangan panik
  • Hiatal hernia
  • Tumor di paru-paru dan dada

Apa yang harus dilakukan jika sesak napas?

Jika Anda tiba-tiba merasa sulit bernapas tetapi tidak tahu penyebabnya, tetaplah tenang dan cobalah mencari sumber masalahnya. Hal-hal yang dapat memicu kesulitan napas, antara lain alergi (seperti jamur, bulu, atau serbuk sari), debu, dan polutan di lingkungan, seperti karbon monoksida.

Berada di ketinggian juga dapat menyebabkan sesak napas. Ketinggian di atas 4.000 kaki, misalnya, dapat menurunkan oksigen dalam darah Anda yang pada akhirnya menyebabkan pusing dan mual juga.

Beberapa orang mengalami kesulitan bernapas saat melakukan olahraga atau kegiatan lainnya dimana tubuh aktif secara fisik, seperti saat berhubungan seksual. Anda mungkin bisa mengurangi gerak atau berhenti bergerak sama sekali ketika mengalaminya. Namun, harap waspada karena Anda juga dapat mengalami sesak napas saat sedang istirahat.

Jadi jika Anda mengalami sesak napas, cobalah untuk mengendurkan otot-otot Anda, jangan panik, dan pertimbangkan penyebab di atas. Mayoritas kasus sesak napas adalah asma, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronis, dan kondisi psikologis yang menyebabkan kecemasan dan serangan panik.

Untuk mencegah sesak napas, Anda dapat menerapkan hal-hal berikut ini:

  • Berhenti merokok
  • Hindari paparan terhadap polutan
  • Menurunkan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas
  • Lakukan pola hidup sehat

Penanganan untuk sesak napas tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Biasanya penanganan sesak napas termasuk terapi oksigen, antibiotik, obat-obatan diuretik, dan obat-obatan untuk mengi. Jika penyebabnya memang asma, Anda harus menggunakan inhaler sesuai dengan instruksi dokter.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar