Sukses

Vandalisme di MRT Jakarta, Tanda Gangguan Mental?

MRT Jakarta yang belum resmi beroperasi dicorat-coret oleh oknum. Mungkinkah aksi vandalisme ini gangguan mental si pelaku?

Klikdokter.com, Jakarta Pada hari Jumat (21/9) lalu, media sosial heboh dengan viralnya foto gerbong MRT (Mass Rapid Transit) di depo Lebak Bulus. Pasalnya, gerbong MRT Jakarta yang bahkan belum resmi beroperasi ini, dicorat-coret menggunakan cat pilox warna-warni. Bisa jadi, aksi vandalisme ini merupakan tanda gangguan mental pelaku.

Masyarakat dan pihak terkait tentu menyayangkan hal ini bisa terjadi. Hingga kini belum diketahui siapa pelaku di balik aksi vandalisme di MRT Jakarta tersebut. Namun, pemerintah tengah bekerja keras untuk memperbaiki kondisi gerbong kereta agar kembali seperti sedia kala.

Mengenal vandalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), vandalisme adalah "perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya)" atau "perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas".

Dilansir oleh Stanford University, menurut sosiolog Inggris, Stanley Cohan, Vandalisme terbagi menjadi:

  1. Acquisitive vandalism

Yaitu perusakan properti dengan tujuan untuk mendapatkan uang atau barang, misalnya merusak mesin minuman dengan tujuan untuk mendapatkan minuman yang ada di dalamnya.

  1. Tactical vandalism

Yaitu merusak properti yang dilakukan dengan sengaja untuk menarik perhatian orang lain atau memicu reaksi orang lain. Contohnya saja tahanan yang merusak sel tahanannya sebagai bentuk protes terhadap fasilitas penjara.

  1. Ideological vandalism

Hampir mirip dengan tactical vandalism, tetapi tujuan disampaikan secara ekplisit dengan alasan ideologi tertentu, contohnya dengan menuliskan slogan anti pemerintah di gedung pemerintahan.

  1. Vindictive vandalism

Perusakan dilakukan untuk target individu tertentu dengan tujuan balas dendam pemilik properti. Salah satu contoh adalah merusak mobil milik orang lain yang dianggap pernah berbuat salah pada dirinya sebagai bentuk balas dendam.

  1. Play vandalism

Merusak properti dalam konteks bersenang-senang atau bermain-main. Jenis vandalisme inilah yang banyak dilakukan oleh sekelompok anak muda.

  1. Malicious vandalism

Merusak properti sebagai bentuk ekspresi kekecewaan atau kemarahan. Vandalisme ini sering kali dikaitkan dengan masyarakat kelas ekonomi bawah dengan merusak properti publik seperti transportasi publik, halte bus, stadion, dan lain sebagainya.

1 dari 2 halaman

Vandalisme dan kesehatan mental

Perlu diketahui, vandalisme merupakan bagian dari conduct disorder, yakni gangguan perilaku dan emosi (kesehatan mental) serius yang dapat terjadi pada anak – anak, remaja atau dewasa. Gejala yang ditimbulkan bisa beragam, tergantung dari usia anak dan tingkat keparahan gangguan tersebut.

Secara umum, tanda-tanda yang ditunjukkan oleh penderita dibagi menjadi 4 kategori:

  • Agresif

Gejala yang diperlihatkan termasuk berperilaku tidak sesuai norma di masyarakat atau tidak sesuai usia. Contohnya seperti membolos sekolah, mengerjai orang lain, dan aktif secara seksual di usia yang sangat dini.

  • Perilaku destruktif

Gejala yang diperlihatkan termasuk berperilaku tidak sesuai norma di masyarakat atau tidak sesuai usia. Contohnya seperti membolos sekolah, mengerjai orang lain, dan aktif secara seksual di usia yang sangat dini.

  • Tidak jujur

Berbohong terus menerus, mencuri di toko, hingga merampok mobil atau rumah.

  • Melanggar norma

Gejala yang diperlihatkan termasuk berperilaku tidak sesuai norma di masyarakat atau tidak sesuai usia. Contohnya seperti membolos sekolah, mengerjai orang lain, dan aktif secara seksual di usia yang sangat dini.

Banyak anak dengan gangguan mental conduct disorder cenderung memiliki emosi yang tidak stabil dan mudah marah (temper tantrum), mudah tersinggung dan memiliki rasa percaya diri yang rendah. Bahkan, kondisi ini juga erat kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba dan alkohol. Pada kasus ini, anak tidak menyadari bahwa tindakan yang dilakukannya dapat menyakiti orang lain, tidak menyadari dampak yang akan ditimbulkannya dan tak merasa bersalah.

Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam terjadinya conduct disorder, seperti kehidupan keluarga yang kurang harmonis, pelecehan seksual, pengalaman yang traumatik, riwayat keluarga menggunakan narkoba atau alkohol dan cara mendidik orang yang tidak konsisten serta tidak mendisiplinkan anak.

Perilaku vandalisme yang tergolong gangguan mental tentu perlu diwaspadai dan ditangani dengan baik agar vandalisme serupa seperti yang terjadi di gerbong MRT Jakarta tidak berulang lagi.

[NP/ RVS]

2 Komentar