Sukses

Pasien Fibrilasi Atrium Berisiko Terkena Stroke

Menurut studi, pasien fibrilasi atrium berisiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke.

Klikdokter.com, Jakarta Fibrilasi atrium (FA) merupakan kelainan irama jantung yang berupa detak jantung tidak teratur. Kondisi ini sering dijumpai di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menurut studi, pasien FA memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA.

Apa yang membuat FA dapat memicu kondisi stroke? Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K), seorang dokter spesialis saraf, menjelaskan kepada KlikDokter, “Fibrilasi atrium bisa menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat mengakibatkan stroke. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering ditemui pada kasus stroke dengan FA.”

Di Indonesia, pada sekitar 37% pasien FA dengan usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati. Lebih lanjut, jumlah penderita stroke di Indonesia mengalami peningkatan. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan peningkatan jumlah penderita stroke menjadi 12,1 per 1,000 penduduk. Peningkatan juga terjadi pada angka kematian akibat stroke.

Penggunaan obat antikoagulan untuk FA

Dilansir Everyday Health, hal pertama yang harus dilakukan untuk mencegah stroke pada fibrilasi atrium adalah meresepkan pengencer darah (antikoagulan). Obat-obatan ini bekerja untuk mencegah penggumpalan darah. 

Pasalnya, ketika Anda mengalami fibrilasi atrium, bilik jantung bagian atas mengalami fibrilasi (membuat gerakan bergetar) alih-alih berkontraksi sehingga darah menggenang dan menjadi statis, meningkatkan risiko penggumpalan darah. Jika jantung mengeluarkan gumpalan darah, itu bisa menyebabkan stroke dan serangan jantung.

Hanya membutuhkan waktu singkat dari episode fibrilasi atrium untuk meningkatkan risiko stroke – dan banyak orang tidak menyadari mereka memiliki ritme jantung yang abnormal sampai mereka mengalami stroke. Faktor risiko lain dapat menambah risiko stroke, termasuk hipertensi, diabetes, gagal jantung, dan sebagainya.

Faktor-faktor risiko ini, ketimbang jumlah fibrilasi atrium yang Anda alami, digunakan untuk menentukan apakah Anda membutuhkan pengencer darah, dan risiko stroke yang Anda miliki. Jika Anda memiliki dua atau lebih faktor risiko, berarti risiko stroke Anda cukup tinggi sehingga Anda memerlukan pengencer darah. Bila Anda pernah mengalami stroke sebelumnya, itu saja sudah cukup bagi Anda untuk menggunakan pengencer darah selama sisa hidup Anda.

1 dari 2 halaman

Solusi untuk pasien fibrilasi atrium

Untuk pasien fibrilasi atrium di wilayah Asia, ada kabar baik untuk Anda. Studi XANAP (Rivaroxaban for Prevention of Stroke in Patients with Atrial Fibrilation in Asia) yang dipublikasikan di Journal of Arrhythmia meneliti penggunaan antikoagulan oral antagonis nonvitamin K (NOAC) Rivaroxaban pada sejumlah pasien fibrilasi atrium. Studi ini mengonfirmasi bahwa Rivaroxaban memiliki tingkat keamanan yang kuat pada pasien di Asia.

“Pada XANAP, tingkat perdarahan mayor pasien yang diobati dengan Rivaroxaban rendah, yaitu 1,5% per tahun. Tingkat stroke juga rendah pada 1,7% per tahun. Hal ini menegaskan kembali keefektifan Rivaroxaban dalam mencegah stroke terkait FA,” kata dokter Mohammad.

Ia juga mengatakan, lebih dari 96% pasien yang diobati dengan Rivaroxaban dalam penelitian tersebut tidak mengalami perdarahan mayor, stroke/ emboli sistemik (SE), atau kematian karena penyebab apa pun.

Dalam pedoman internasional terbaru untuk manajemen FA yang dipublikasikan oleh European Society of Cardiology tahun 2017, NOAC seperti Rivaroxaban direkomendasikan sebagai antikoagulan pada lini pertama dalam pencegahan stroke terkait FA.

Obat-obatan antikoagulan adalah terapi kuat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit serius dan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa, termasuk fibrilasi atrium. Sebelum memulai terapi dengan obat-obatan antikoagulan, dokter akan menilai terlebih dahulu manfaat dan risiko untuk masing-masing kondisi pasien. Untuk itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum memutuskan untuk menggunakan antikoagulan.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar