Sukses

Diet Bernstein, Diet Rendah Karbohidrat Penderita Diabetes Tipe 1

Diabetes perlu pengaturan pola diet, misalnya diet Bernstein, diet rendah karbohidrat bagi penderita diabetes tipe 1. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Diet Bernstein merupakan diet rendah karbohidrat yang populer di kalangan penderita diabetes tipe 1. Pada praktiknya, diet ini juga diadopsi oleh orang-orang yang tidak memiliki diabetes, yang punya keinginan “terselubung”, yaitu menurunkan berat badan. Nah, apa, sih yang menyebabkan diet Bernstein menjadi andalan penderita diabetes tipe 1?

Awal mula diet Bernstein tercipta

Diet Bernstein ditemukan oleh Dr. Stanley K. Bernstein, yang merupakan seorang penderita diabetes tipe 1. Perjalanan diabetes tipe 1 yang dideritanya membuat dirinya tergerak untuk menemukan resep pola makan yang terbaik demi mengatur gula darahnya.

Dr. Bernstein terdiagnosis menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 dekade yang lalu, tepatnya pada tahun 1946 saat ia masih berusia 12 tahun. Pada saat itu, ia memiliki gula darah yang sangat tidak stabil, yang ketika itu diperkirakan akibat kesalahan pola makan yang dipilihnya. Selain itu, pada masa itu lemak adalah “tersangka” dari segala jenis penyakit, sehingga pola makan Dr. Bernstein kala itu adalah rendah lemak tapi tinggi karbohidrat

Setelah berulang-ulang memeriksakan kadar gula darahnya yang dibandingkan dengan jenis makanan yang dikonsumsinya, Dr. Berstein mengaku menemukan formula diet yang tepat. Gula darahnya cenderung stabil dan sesuai estimasi saat dirinya menggunakan insulin ditambah pola makan rendah karbohidrat. Sejak saat itu, diet Bernstein semakin populer, khususnya untuk kalangan penderita diabetes tipe 1.

1 dari 3 halaman

Ini dia formula diet Bernstein

Diet Dr. Bernstein terdiri dari pola makan rendah karbohidrat, tinggi protein, dan lemak dalam jumlah sedang. Dirinya merekomendasikan pola diet ini karena diklaim akan membutuhkan insulin dalam jumlah sedikit. Dr. Bernstein juga mengklaim bahwa perbaikan kesehatan tubuhnya dari komplikasi diabetes juga adalah akibat kesuksesan pola makan ini. Berikut adalah penjelasan pola diet Bernstein untuk tiap makronutrien.

  1. Karbohidrat

Rekomendasi Dr. Bernstein adalah tidak mengonsumsi lebih dari 30 gram karbohidrat setiap harinya. Ia menyarankan untuk mengonsumsi 6 gram karbohidrat pada saat sarapan, 12 gram saat makan siang, dan 12 gram saat makan malam. Menurutnya, karena karbohidrat diubah menjadi glukosa di dalam tubuh, maka karbohidrat sangat memengaruhi gula darah dan seharusnya diminimalkan.

Dr. Bernstein juga merekomendasikan untuk tidak memakan segala jenis gandum, buah-buahan, kacang-kacangan, sayur-sayuran yang mengandung pati seperti kentang, dan semua jenis pemanis buatan.

  1. Lemak

Menurut Dr. Bernstein, lemak tidak sepenuhnya buruk karena otak terbentuk dari asam lemak. Selain itu, menurutnya berbagai jenis penyakit lebih berkaitan dengan kelebihan asupan glukosa dibandingkan kelebihan asupan lemak.

  1. Protein

Protein menjadi komponen penting dalam pola diet Dr. Bernstein. Baginya, bila kadar gula darah normal, maka penderita diabetes sekalipun tidak akan mengalami masalah pada ginjalnya akibat konsumsi protein dalam jumlah besar.

Selain pengaturan atas komposisi makronutrien di atas, diet Bernstein juga meliputi daftar panjang untuk berbagai makanan yang dilarang atau dianjurkan. Bagaimana pandangan pola diet Dr. Bernstein dari sisi medis?

2 dari 3 halaman

Baik atau tidaknya diet Bernstein dilihat dari sisi medis

Faktanya, ahli gizi tetap berpegang pada diet seimbang sebagai bentuk diet yang paling baik, sekalipun bagi penderita diabetes mellitus tipe 1. Secara fisiologis tubuh manusia, memang benar bahwa saat asupan glukosa (karbohidrat) begitu rendah, tubuh akan terinduksi untuk memecah lemak sebagai bahan bakar. Hal ini memang menyebabkan terjadinya penurunan berat badan.

Sayangnya, saat tubuh mengalami kekurangan glukosa berat secara mendadak, akan muncul gejala hipoglikemia (kekurangan glukosa darah), yang tentunya sangat mengganggu. Gejala tersebut antara lain:

  • Nyeri kepala
  • Kelemahan
  • Kram otot
  • Lelah dan lunglai
  • Sulit berkonsentrasi dan fokus
  • Bau mulut
  • Diare atau konstipasi

Gejala di atas akan lebih berat, utamanya dirasakan pada saat awal memulai diet. Memang ada kemungkinan tubuh lama-lama akan beradaptasi dengan gejala di atas, tapi ada juga potensi gangguan kesehatan lain dari pola diet ini.

Pola diet yang menghindari buah-buahan dan beberapa macam sayur-sayuran akan menyebabkan tubuh kekurangan vitamin dan mineral. Belum lagi kondisi tubuh yang kekurangan serat akan mengakibatkan risiko sembelit atau susah buang air besar.

Pola makan seimbang tetap dianggap yang terbaik

Untuk diet dalam kondisi apa pun, pola makan seimbang tetap menjadi primadona. Pastikan karbohidrat sebaiknya tetap 45 persen dari total kalori yang masuk ke dalam tubuh. Bila asupan karbohidrat sangat rendah bahkan kurang dari 20 gram sehari, maka dapat terjadi proses yang disebut ketosis.

Ketosis adalah substansi yang diproduksi secara sampingan dari proses pemecahan lemak. Kadar ketosis yang tinggi dapat menyebabkan mual, nyeri kepala, gangguan mental, lemah dan lunglai, dan aroma napas tidak sedap.

Diet tinggi protein seperti yang ditawarkan diet Bernstein sesungguhnya belum tentu aman untuk penderita diabetes tipe 1. Memang benar bahwa saat gula darah terkontrol, risiko kerusakan ginjal menjadi berkurang.

Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya beberapa penderita yang telah memiliki kerusakan pembuluh darah kecil (mikropangiopati) pada ginjal, yang merupakan suatu komplikasi khas penyakit diabetes mellitus. Bila telah terjadi kerusakan ginjal, tentunya asupan protein dalam jumlah besar seperti pada diet Bernstein akan memberikan beban tambahan pada ginjal.

Diet Bernstein yaitu diet rendah karbohidrat yang populer untuk kalangan diabetes tipe 1, ternyata memikat orang-orang yang tidak memiliki kondisi diabetes. Mereka melirik diet ini karena mendambakan penurunan berat badan. Meski demikian, ada baiknya mengenali risiko dan efek samping dari setiap diet sebelum Anda menerapkannya. Dengan mengonsultasikannya terlebih dulu dengan dokter, kesehatan akan lebih terjaga.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar