Sukses

Pahami Mengapa Depresi Rentan Picu Penyakit Jantung

Depresi serta penyakit jantung merupakan dua hal yang berkaitan. Seperti apa? Simak fakta medisnya berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Sudah menjadi rahasia umum bahwa penyakit jantung merupakan penyakit yang paling banyak merenggut nyawa di dunia. Belum lagi depresi, gangguan mental yang “sukses” meningkatkan angka bunuh diri di berbagai belahan dunia. Mengenai penyakit jantung dan depresi, tahukah Anda bahwa kedua gangguan kesehatan ini ternyata saling memengaruhi?

Kaitan antara depresi dan penyakit jantung

Dilansir dari John Hopkins Medicine, ada dugaan bahwa penyakit jantung dan depresi memang memiliki hubungan dua arah. Misalnya, orang yang terkena penyakit jantung bisa menjadi depresi setelahnya. Begitu pula sebaliknya, orang yang terkena depresi juga berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Depresi umumnya banyak diderita oleh wanita ketimbang pria. Maka, jika wanita mengalami sakit jantung, ada kemungkinan bahwa setelahnya ia akan mengalami depresi.

Setelah mengetahui dirinya terkena penyakit jantung, ada beragam hal yang bisa membuat seseorang turut terkena depresi. Sebab, tak dimungkiri bahwa ketika seseorang menyadari atau terdiagnosis penyakit kronis, akan muncul pemikiran-pemikiran negatif yang dapat berdampak pada kesehatan mentalnya, antara lain:

  • Perasaan bersalah tentang kebiasaan hidup sebelumnya.
  • Rasa malu dan keraguan atas diri sendiri karena kemampuan fisik yang berkurang.
  • Hilangnya rasa percaya diri karena merasa tak mampu menjadi orang yang produktif dan bertanggung jawab.

Jika sudah begitu, pengobatan dilakukan tak  hanya berfokus pada jantung, tetapi juga kejiwaan. Dalam hal ini, proses rehabilitasi bersama dengan psikiatri diperlukan untuk memulihkan depresi yang muncul.

Punya penyakit jantung dan depresi, risiko kematian makin tinggi

Sementara itu, penderita penyakit jantung yang juga mengalami depresi memiliki risiko kematian yang lebih tinggi daripada orang yang hanya sakit jantung. Itu karena, mereka benar-benar kehilangan motivasi untuk meminum obat, melakukan diet sehat, dan menghentikan kebiasaan merokok atau minum-minuman beralkohol.

Kombinasi antara jantung yang tidak berfungsi dengan baik dan depresi dapat membuat penderitanya rentan terhadap kelainan ritme jantung yang bisa berakibat fatal. Ditambah lagi saat Anda depresi, terjadi penggumpalan sel-sel darah yang bisa mempercepat pengerasan arteri, yang dapat memicu serangan jantung terulang kembali. Maka, bergabungnya depresi dan penyakit jantung dianggap sebagai "pembunuh" yang amat mematikan

Berbeda halnya jika Anda tidak depresi dan tetap berpikiran positif, Anda bisa terhindar dari berbagai penyakit fisik, salah satunya penyakit jantung. Jika Anda telanjur menderita penyakit jantung, tak perlu langsung berkecil hati hingga depresi. Sebab, menambahkan pikiran negatif pada suatu masalah hanya akan memperburuk kondisi yang Anda. Tentu Anda tak mau hal itu sampai terjadi, bukan?

1 dari 2 halaman

Jangan abaikan kesedihan

American Heart Association mengamini adanya hubungan signifikan antara kesedihan dan penyakit jantung. Mereka yang mengalami depresi meningkat risikonya terkena serangan jantung sebesar 33 persen. Hal tersebut terutama terjadi pada mereka yang mengalami kesedihan dalam jangka waktu lama.

Ada juga penelitian yang menyatakan bahwa kaum wanita yang memiliki masalah dengan pasangannya dan tidak bahagia dalam kehidupan rumah tangganya, mereka cenderung mengalami berbagai masalah jantung dan pembuluh darah. Mulai dari tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, stroke, hingga serangan jantung. 

“Saat merasa sedih, otak mengeluarkan berbagai zat kimia seperti interleukin-8 (IL-8) yang memicu reaksi peradangan di seluruh tubuh. Senyawa interleukin ini menyebabkan daya tahan tubuh relatif menurun sehingga mudah terserang penyakit.,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter menjelaskan.

Hormon stres (kortisol) juga meningkat saat seseorang merasa sedih. Hormon ini menyebabkan kadar gula tidak stabil, tekanan darah meningkat, dan gangguan tidur. Hormon kortisol dan interleukin juga secara tidak langsung memengaruhi struktur dan lebar dari pembuluh darah. Sehingga bila terjadi terus-menerus, pembuluh darah mengalami kerusakan dan akibatnya terjadi berbagai penyakit seperti stroke dan serangan jantung.

Selain itu, dr. Sepriani juga mengatakan, saat dilanda kesedihan, umumnya orang tidak memiliki kebiasaan yang baik. Mereka akan cenderung melampiaskan rasa sedihnya dengan makan makanan tidak sehat, merokok, bahkan minum alkohol. Orang yang merasa sedih pun biasanya jarang beraktivitas fisik. Hal-hal tersebut makin meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan sindrom metabolik lainnya.

Untuk mengelola kesedihan, dr. Sepriani memiliki beberapa tips, yaitu:

  • Identifikasi penyebab kesedihan dan sebisa mungkin cari jalan keluar dari masalah yang Anda hadapi. Jika perlu, buat janji temu dengan psikolog.
  • Apa pun kondisi Anda, usahakan untuk tetap hidup sehat. Lakukan pola makan sehat (perbanyak konsumsi buah dan sayur) dan aktivitas fisik selama 30 menit sebanyak 3-5 kali per hari. Saat berolahraga, tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin yang membuat sensasi nyaman dan bahagia.
  • Cara terbaik untuk menghadapi masalah adalah dengan menjadi berani dan optimis. Mengalihkan perhatian dengan kebiasaan merokok atau minum alkohol atau kebiasaan buruk lainnya sama sekali tidak menyelesaikan masalah Anda.

Jadi, kesedihan yang tidak dikelola dengan baik bisa menyebabkan stres, lalu depresi, dan kondisi ini rentan picu penyakit jantung. Jika Anda mengetahui ada orang yang mengalami depresi sekaligus penyakit jantung, ada baiknya Anda berusaha mengajaknya ke pusat rehabilitasi jantung dan selalu beri ia dukungan sosial. Bila depresi mereda dan sembuh, otomatis penyakit jantung yang dideritanya juga tidak memburuk, apalagi jika ia mematuhi anjuran dokter, disiplin dengan pengobatan, serta konsisten menerapkan diet sehat, tentunya pengobatan akan berjalan dengan optimal.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar