Sukses

Inilah Ciri-ciri Makanan yang Mengandung Pewarna Buatan

Pewarna makanan yang tidak sesuai ketentuan bisa menyebabkan penyakit di kemudian hari. Kenali ciri makanan yang mengandung pewarna di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Pewarna buatan kerap digunakan produsen untuk memberikan daya tarik pada makanan atau minuman yang diproduksinya. Benar saja, mengedepankan penampilan bisa membuat minat masyarakat terhadap produk makanan atau minuman terkait menjadi meningkat.

Itu karena orang-orang akan lebih menikmati suatu makanan atau minuman ketika penampilannya terlihat menarik, baik dari segi bentuk maupun warna. Pertanyaannya, apakah penggunaan pewarna makanan diperbolehkan?

Jawabannya: boleh. Syaratnya, jenis dan jumlah pewarna makanan yang digunakan sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Penggunaan pewarna makanan, baik alami maupun buatan, diatur dalam Peraturan Kepala Pengawas Obat dan Makanan RI No 37 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna.

Peraturan tersebut memuat 15 jenis pewarna makanan alami dan 11 jenis pewarna makanan buatan yang diperbolehkan, beserta takaran yang benar-benar harus dipatuhi.

1 dari 2 halaman

Mengenal pewarna makanan

Pewarna makanan dibagi menjadi dua: alami dan buatan. Secara kasat mata, tidak mudah untuk membedakan kedua jenis pewarna makanan tersebut. Akan tetapi, bila membeli makanan atau minuman dari produsen terpercaya, Anda bisa menemukan daftar nama-nama pewarna pada label kemasan.

  • Pewarna makanan alami

Beberapa nama seperti karotenoid, klorofil, antosianin, karmin dan tumerik merupakan jenis pewarna makanan yang bersal dari bahan alami. Ambil contoh, karotenoid dan antosianin.

Karotenoid berasal dari beta karoten―warna jingga yang banyak terdapat dalam wortel atau kentang. Pewarna alami ini larut dalam lemak, karenanya sering ditambahkan pada mentega maupun keju.

Sementara untuk antosianin, pewarna makanan alami ini memiliki warna ungu dan sifatnya larut dalam air. Antosianin banyak digunakan sebagai campuran minuman ringan.

  • Pewarna makanan buatan

Berbeda dengan yang alami, pewarna buatan diciptakan dari pabrik dengan menggabungkan berbagai unsur kimia. Meski terdengar menyeramkan, ternyata badan pengawas pangan membolehkan penggunaan beberapa jenis pewarna buatan dalam makanan, seperti Tartrazine CI No.19140, kuning FCF CI No.15985, dan Eritrosin CI No.45430 yang berwarna merah.

Pewarna buatan umumnya lebih banyak digunakan produsen makanan karena relatif lebih murah dan lebih stabil terhadap perubahan suhu maupun kondisi lingkungan.

Apakah pewarna alami lebih baik dari buatan?

Jawabannya: tidak selalu. Meski terlihat lebih bersahabat, pewarna alami tidak selamanya lebih aman digunakan dibandingkan dengan pewarna buatan.

Pewarna alami jenis karmin misalnya. Pewarna ini dibuat dari pengolahan hewan dan berpotensi menyebabkan reaksi alergi bagi mereka yang memang sensitif. Efek yang timbul pun tidak hanya berupa gatal, namun keadaan yang lebih serius seperti sesak napas dan penurunan kesadaran.

Hal yang sama juga berlaku pada pewarna makanan buatan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan konsumsi makanan yang mengandung pewarna buatan dengan gangguan pola tingkah laku pada anak. Walau begitu, penelitian tersebut masih dianggap lemah dan tidak bisa dijadikan pedoman untuk melarang penggunaan bahan pewarna tersebut.

Jadi, sebenarnya, makanan yang mengandung pewarna boleh saja dikonsumsi asalkan jenis dan kadarnya sesuai dengan aturan yang diterapkan. Dengan kata lain, Anda tidak boleh mengonsumsinya berlebihan atau memilih produk makanan maupun minuman secara sembarangan, apalagi bila tidak ada label BPOM di kemasan.

Pastikan Anda selalu memilih makanan atau minuman yang diproduksi oleh produsen tepercaya, sehingga setiap detail bahan yang digunakan tercantum dengan benar. Selain itu, perhatikan pula apabila Anda memiliki kecenderungan alergi terhadap bahan pewarna makanan yang terkandung dalam suatu produk. Dengan memilih secara bijak, kesehatan tubuh dapat dijaga dengan lebih optimal.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar