Sukses

Bisakah Kanker Limfoma Dicegah?

Limfoma, kanker yang satu ini termasuk agresif dan mematikan. Adakah cara untuk mencegahnya?

Klikdokter.com, Jakarta Secara global, lebih dari 62 ribu orang didiagnosis limfoma Hodgkin. Di Indonesia jumlah kasus baru limfoma Hodgkin pada 2012 mencapai 1.168 dengan jumlah kematian sebesar 687. Menurut data Globocan, angka ini diprediksi mengalami peningkatan pada 2020 dengan kasus baru mencapai 1.313 dan dengan angka kematian sebesar 811.

Kanker limfoma, atau kanker kelenjar getah bening, merupakan salah satu jenis kanker yang paling berbahaya. Kondisi ini akan memengaruhi sel darah putih yang dikenal sebagai limfosit. Limfosit memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Kanker limfoma dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Dua jenis kanker kelenjar getah bening ini memiliki gejala yang hampir serupa. Namun, limfoma non-Hodgkin lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin.

Pada tahap awal, limfoma tidak selalu memunculkan gejala yang kentara. Akan tetapi, jika diperiksa oleh dokter, mungkin akan ditemukan kelenjar getah bening yang membesar. Gejala lainnya antara lain berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam, batuk terus-menerus, dan gatal-gatal.

Sebagian besar dari limfoma yang terdiagnosis tidak memiliki penyebab pasti. Namun, beberapa orang dianggap berisiko tinggi untuk terkena kanker ini. Siapa saja?

Faktor risiko limfoma non-Hodgkin meliputi:

  • Imunodefisiensi

Ini bisa disebabkan oleh sistem kekebalan yang lemah, yang disebabkan HIV atau AIDS. Atau karena menggunakan obat penekan sistem kekebalan tubuh setelah transplantasi organ.

  • Penyakit autoimun

Orang dengan penyakit autoimun tertentu, seperti artritis reumatoid dan penyakit celiac, memiliki peningkatan risiko limfoma.

  • Usia

Limfoma paling sering terjadi pada orang di atas 60. Namun, beberapa jenis limfoma lebih sering terjadi pada anak-anak dan bayi.

  • Jenis kelamin

Ada beberapa jenis limfoma tertentu yang lebih mungkin menyerang wanita. Hal yang sama berlaku untuk pria.

  • Ras

Orang Amerika kulit putih di Amerika Serikat lebih mungkin terkena sebagian jenis limfoma daripada orang Afrika-Amerika atau Asia-Amerika.

  • Infeksi

Orang yang pernah mengalami infeksi seperti human T-cell leukemia/lymphotropic virus (HTLV-1), Heliobacter pylori, hepatitis C, atau virus Epstein-Barr (EBV), dinilai memiliki risiko tinggi.

  • Paparan kimia dan radiasi

Mereka yang terpapar bahan kimia dalam bentuk pestisida, pupuk, dan herbisida juga berisiko tinggi. Radiasi nuklir juga dapat meningkatkan risiko untuk mengembangkan limfoma non-Hogdkin.

  • Obesitas

Obesitas telah banyak dikaitkan dengan limfoma. Meski begitu, perlu lebih banyak penelitian untuk memahami kemungkinan faktor risiko ini.

Faktor risiko limfoma Hodgkin adalah:

  • Usia

Banyak kasus limfoma Hodgkin terjadi pada orang berusia antara 20 dan 30 tahun, dan pada orang berusia di atas 55 tahun.

  • Jenis kelamin

Pria lebih mungkin terkena limfoma jenis ini dibandingkan wanita.

  • Riwayat dalam keluarga

Jika saudara kandung didiagnosis menderita kanker jenis ini, risiko Anda untuk terkena juga lebih tinggi.

  • Infeksi mononukleosis

Infeksi ini dapat meningkatkan risiko limfoma.

  • Kemakmuran

Orang dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih berisiko.

  • Imunodefisiensi

Orang dengan HIV memiliki risiko lebih besar untuk terkena limfoma.

Baik limfoma Hodgkin maupun limfoma non-Hodgkin, sejauh ini tidak ada cara yang diketahui dapat mencegah keduanya. Namun, Anda dapat menurunkan risiko kanker kelenjar getah bening dengan menghindari faktor risiko seperti obesitas dan HIV.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar