Sukses

Waspada, Perut Buncit Rentan Picu Demensia!

Tak hanya mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri, perut buncit ternyata juga bisa meningkatkan risiko demensia.

Klikdokter.com, Jakarta Perut buncit merupakan salah satu keadaan yang dapat mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri. Di samping itu, tahukah Anda bahwa kondisi tersebut juga turut meningkatkan risiko terjadinya demensia di kemudian hari?

Memang agak mengejutkan, namun itulah kenyataannya. Perut buncit dapat membuat Anda mengalami demensia alias penyakit lupa, apalagi bila kondisi perut yang demikian sudah terjadi dalam waktu lama dan tidak diatasi dengan cara yang benar.

Perut buncit dan efeknya pada kesehatan

Perut buncit terjadi karena adanya penumpukan lemak viseral, yaitu lemak yang terdapat di dalam organ dalam perut. Hal tersebut dipaparkan lebih spesifik oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi dari KlikDokter.

“Perut buncit sering terjadi pada orang dengan berat badan berlebih dan obesitas. Selain membuat Anda kurang percaya diri, kondisi tersebut juga membahayakan bagi kesehatan karena berhubungan erat dengan beberapa penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, dan lainnya,” ujarnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada dua cara untuk menentukan apakah Anda memiliki perut buncit atau tidak. Cara pertama adalah dengan menghitung perbandingan antara pinggang dan pinggul (waist-to-hip ratio). Jika ditemukan perbandingan 0,85 pada wanita dan 0,9 pada pria, maka orang tersebut dapat dikatakan memiliki perut buncit.

Sedangkan cara kedua untuk menentukan buncit atau tidaknya seseorang adalah dengan mengukur lingkar pinggang (waist circumference). Untuk orang Asia, perut buncit terjadi apabila lingkar pinggang di atas 80 cm pada wanita dan 90 cm pada pria.

1 dari 2 halaman

Perut buncit dan demensia

Dilansir dari WebMD, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa memiliki perut buncit di usia setengah baya berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes, masalah jantung dan stroke, juga kerentanan terhadap penyakit demensia di masa yang akan datang.

"Ini adalah penelitian pertama yang menghubungkan obesitas sentral pada usia paruh baya dengan demensia di kemudian hari," kata peneliti dari Kaiser Permanente Division of Research di Oakland, California, Rachel Whitmer.

Whitmer dan rekan-rekannya mengikuti catatan medis 6.583 anggota Kaiser Permanente dari California Utara sejak mereka berusia 40-an sampai 70-an. Tim peneliti melihat catatan ujian medis tahun 1964 dan 1973―ketika para anggota berada di usia paruh baya (40-45 tahun)―dan kemudian pada 1994 hingga 2006.

Selama penelitian, 1.049 peserta didiagnosis positif demensia, termasuk penyakit Alzheimer. Uniknya lagi, ukuran perut buncit pada partisipan tersebut juga berhubungan langsung dengan seberapa besar risiko demensia yang mereka miliki.

"Kami menemukan bahwa orang-orang yang berada di 20% atas ukuran perut memiliki risiko 2,72 kali lebih besar terhadap demensia dibandingkan dengan orang-orang di bawah 20%. Jika Anda mengalami obesitas dengan perut buncit atau besar, risiko demensia adalah 3,6 kali lebih tinggi," kata Whitmer.

Penelitian tersebut memang tidak menyebutkan secara spesifik mengapa lemak perut berhubungan dengan risiko demensia. Namun demikian, penelitian oleh Whitmer dan rekan-rekannya tersebut diharapkan bisa membuka jendela pengetahuan Anda bahwa perut buncit bukanlah suatu perkara yang bisa dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja.

Maka dari itu, jika saat ini Anda memiliki kondisi perut buncit, berupayalah sekuat tenaga agar segera terbebas dari kondisi itu. Anda bisa memulai untuk menerapkan gaya hidup aktif dan sehat, agar lemak di perut bisa kembali ke taraf normal dan tidak meningkatkan risiko demensia maupun penyakit lainnya di kemudian hari.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar