Sukses

Awas, Hipertensi Bisa Picu Alzheimer

Studi terbaru kembali menemukan bukti bahwa hipertensi bisa menjadi salah satu faktor risiko Alzheimer.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi para ilmuwan, penyakit Alzheimer merupakan sebuah misteri. Berbagai studi pun masih dilakukan hingga kini untuk menemukan penyebab utama hingga obatnya. Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dikepalai Dr. Zoe Arvanitakis dari Rush Alzheimer’s Disease Center menemukan bukti bahwa hipertensi bisa menjadi salah satu faktor risiko Alzheimer.

Sebelumnya beberapa penelitian juga menarik kesimpulan yang sama, bahwa ada kaitan antara tekanan darah tinggi dengan hipertensi. Meski demikian, hanya ada sedikit penelitian yang mengeksplorasi bagaimana tekanan darah memengaruhi jaringan di otak, khususnya di kalangan orang lanjut usia.

Penelitian pada orang lanjut usia

Lewat penelitian ini, Arvanitakis dan rekan-rekannya mencoba menganalisis orang-orang lanjut usia dan faktor risiko mereka terhadap Alzheimer. Mereka mengajak hampir 1.300 partisipan berusia 59 hingga 102 tahun untuk diperiksa tekanan darahnya. Mereka bertahun-tahun memantau tekanan darah partisipan, bahkan sampai beberapa meninggal dunia.

Sekitar delapan tahun kemudian, para ilmuwan melakukan otopsi pada otak partisipan untuk mendokumentasikan keberadaan lesi otak, termasuk tanda-tanda penyakit Alzheimer, yang terlihat dari adanya plak amiloid dan serat-serat tau yang kusut bertautan. 

The American Heart Association mengatakan bahwa tekanan darah idealnya harus 120/80 mmHg atau di bawah itu. Selama penelitian, tekanan darah rata-rata partisipan adalah sekitar 134/71 mmHg yang dianggap prahipertensi.

Hasilnya, partisipan dengan tekanan darah tinggi ditemukan cenderung memiliki lebih banyak lesi otak yang dikenal sebagai infark (jaringan otak yang mati akibat tidak mendapat cukup aliran darah). Infark ini dapat menyebabkan stroke. Bahkan, peningkatan tekanan sistolik dari 134 mmHg menjadi 147 mmHg dikaitkan dengan kemungkinan 46% lebih tinggi memiliki satu atau lebih infark otak.

Penelitian ini memberikan bukti bahwa tekanan darah mungkin menjadi salah satu dari banyak faktor yang berkontribusi pada proses penuaan otak, termasuk pembentukan lesi dan ciri-ciri penyakit seperti Alzheimer.

Arvanitakis dan timnya mengatakan bahwa mereka berencana untuk terus menganalisis data dari para peserta untuk lebih memahami bagaimana tekanan darah memengaruhi otak. Mereka juga berharap hasil penelitian tersebut dapat mendorong orang untuk lebih peduli dan menjaga tekanan darah. Tak hanya untuk kesehatan jantung, tetapi juga otak.

1 dari 2 halaman

Mencegah Alzheimer dan hipertensi

Menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, risiko seseorang mengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan usia. “Umumnya seseorang dapat terkena Alzheimer mulai usia 60 tahun,” kata dr. Fiona.

Berdasarkan penjelasan dr.Fiona, seseorang yang mempunyai riwayat keluarga Alzheimer memiliki risiko hampir serupa bahkan bisa meningkat jika kedua orang tuanya menderita kondisi yang sama. Orang dengan sindrom Down juga juga memiliki risiko terkena Alzheimer.

Ada sejumlah faktor risiko penyakit Alzheimer, antara lain trauma serius, penuaan, defisiensi estrogen, riwayat keluarga dengan gen ApoE positif, hingga meningkatnya homosistein serum.

Sampai saat ini, belum ada metode penyembuhan mutlak untuk Alzheimer. Pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan menghambat perkembangan penyakit.

Untuk membantu mencegah Alzheimer, kuncinya adalah perbaikan gaya hidup. Mulai dari olahraga rutin, konsumsi makanan sehat, dan tidur cukup. Jika berbicara Alzheimer yang menurut penelitian bisa dipicu dari hipertensi, maka kestabilan tekanan darah juga harus diperhatikan.

Meski belum ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dapat benar-benar mencegah Alzheimer, Anda tidak rugi, kok, dengan memulainya. Karena gaya hidup sehat tetap dapat mencegah Anda dari berbagai penyakit kronis dan tentunya hipertensi. Semoga bermanfaat!

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar