Sukses

Benarkah Bunuh Diri Selalu Berkaitan dengan Kesehatan Mental?

Apakah kasus bunuh diri selalu berkaitan dengan gangguan kesehatan mental pelakunya? Simak penjelasan berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Menurut data statistik, angka bunuh diri di Indonesia menunjukkan peningkatan pada tahun 2012, yaitu sekitar 10.000 per tahun. Sedangkan berdasarkan data World Federation of Mental Health (WFMH), setiap 40 detik seseorang di suatu tempat di dunia meninggal akibat bunuh diri. Benarkah bunuh diri berkaitan erat dengan kesehatan mental seseorang? Baca terus dan simak faktanya.

Banyak orang yang menyepelekan bunuh diri, yang menganggap pelakunya adalah seorang “pengecut” atau aksi tersebut ditafsirkan sebagai suatu kebodohan. Padahal, kasus bunuh diri, merupakan masalah yang sangat kompleks karena melibatkan berbagai faktor penyebab seperti faktor psikologis, sosial, genetik, biologis, dan lingkungan. Selain itu, ada pula faktor risiko pada kasus bunuh sepeti kondisi kehilangan pekerjaan yang akhirnya jadi pengangguran, perceraian, atau mengalami kekerasan fisik maupun seksual.

Faktor psikilogis menempati urutan pertama penyebab seseorang bunuh diri. Lebih dari 90 persen pelaku bunuh diri adalah orang dengan gangguan kesehatan mental yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Seseorang dengan kesehatan mental yang baik dapat menggunakan kemampuan  dirinya secara maksimal dan menjalankan hidup yang penuh tantangan, sekaligus menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. Sedangkan orang dengan kesehatan mental yang terganggu, ia tak dapat menjalankan kemampuannya secara maksimal dan cenderung memiliki banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan bunuh diri

Berikut ini adalah beberapa gangguan kesehatan mental yang sering berkaitan dengan keinginan untuk bunuh diri, yakni:

  1. Depresi

Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih dalam waktu berbulan-bulan. Penderita depresi cenderung sulit menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal, karena dalam dirinya terjadi kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu, menjadi kurang percaya diri, adanya perasaan bersalah, dan cenderung memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bahkan ingin  bunuh diri.

  1. Gangguan kecemasan

Gangguan kecemasan adalah suatu kondisi ketika seseorang memiiki rasa cemas berlebihan dan tak dapat mengendalikannya sehingga berdampak negatif terdapat kehidupannya sehari-hari. Selain rasa cemas, penderita biasanya memiliki rasa percaya diri, sulit konsentrasi, dan menjadi penyendiri.

  1. Stres

Stres adalah suatu keadaan seseorang yang tertekan secara emosional maupun mental. Seseorang yang memiliki gangguan stres tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, tidak ingin mengerjakan apa pun karena menurunnya motivasi dalam hidup, serta mudah tersinggung.

Sering kali seseorang yang sudah memiliki niat untuk bunuh diri sudah menunjukkan beberapa gejala psikologis seperti yang disebutkan di atas. Namun, karena beberapa gejala di atas dianggap biasa saja atau diabaikan, orang-orang di sekitarnya banyak yang “terkecoh” dan akhirnya pertolongan yang bisa diberikan pun terlambat.

1 dari 2 halaman

Upaya Kementerian Kesehatan dalam menurunkan angka bunuh diri

Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Kesehatan saat ini sedang berupaya untuk mengurangi angka kasus bunuh diri di Indonesia. Beberapa pesan yang disampaikan kepada masyarakat Indonesia dalam memberantas kasus bunuh diri antara lain:

  • Peranan keluarga, guru, dan masyarakat untuk menanamkan nilai kesehatan jiwa sejak awal kehidupan anak untuk mengurangi dan mencegah kejadian bunuh diri.
  • Peranan pelayanan kesehatan dasar dapat ditingkatkan sehingga mampu untuk mengidentifikasi, menilai, mengelola, dan merujuk orang yang memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.
  • Menambah jumlah tenaga ahli profesional dalam menangani masalah kesehatan jiwa.

Selain itu, tersedia pula nomor darurat 119 untuk mencegah aksi bunuh diri. Warga diharapkan menghubungi nomor tersebut jika melihat orang yang ingin melakukan aksi bunuh diri. Nomor darurat tersebut bisa dimanfaat untuk pencegahan dan bisa untuk kesehatan mental. Selain bersifat darurat, 119 juga bisa dimanfaatkan untuk menampung keluh kesah masyarakat yang tidak bisa secara terbuka menceritakan masalahnya dengan orang-orang terdekatnya.

Dalam rangka memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap 10 September, masyarakat diajak untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen untuk ikut serta dalam usaha pencegahan bunuh diri. Jika Anda memiliki teman dekat, kerabat, atau pasangan yang menunjukkan gejala-gejala yang berkaitan dengan kesehatan mentalnya, segera rangkul mereka, pahami, jangan menggurui, dan jangan menyalahkan kondisi yang sedang ia alami.

Jika apa yang Anda coba lakukan tak memperbaiki kondisinya atau depresi yang dialami sudah terlalu berat, ajak ia untuk menemui tenaga kesehatan profesional seperti psikolog atau psikiater. Ini pun berlaku juga untuk diri Anda. Jika Anda mengalaminya, jangan malu untuk terbuka mengenai apa yang Anda rasakan, ceritakan kepada orang-orang terdekat, dan temui tenaga ahli jika perlu. Pertolongan sedini mungkin dapat mencegah kejadian bunuh diri.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar