Sukses

Gangguan Kesehatan Kelamin Rentan Picu Depresi pada Pria

Sudahkah Anda menjaga kesehatan kelamin? Waspada, gangguan di area vital tersebut rentan picu depresi!

Klikdokter.com, Jakarta Alat vital pria kerap diidentikan sebagai simbol kejantanan. Tak heran, hampir setiap pria di dunia benar-benar memperhatikan kesehatan organ kelamin yang mereka miliki. Hal ini tidak salah sama sekali, malah sangat dianjurkan dari segi medis. Faktanya, menjaga kesehatan kelamin tak hanya mencegah pria mengalami gangguan kesehatan di organ vital tersebut. Tindakan ini juga dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya depresi.

Jika Anda bertanya mengapa, maka jawabannya adalah karena gangguan kesehatan pada kelamin bisa membuat pria lebih mungkin untuk mengalami depresi. Contohnya, pada kasus impotensi, kemampuan pria untuk ereksi akan hilang sama sekali. Secara logika, hal ini tentu akan membuat “kejantanan” yang melekat pada pria menjadi hilang sepenuhnya.

Kondisi kelamin dan depresi dari segi medis

Analisis menunjukkan, terdapat pola hubungan antara kondisi urologi, suasana hati, dan masalah tidur yang berujung pada depresi. Sebuah makalah tentang penelitian baru-baru ini diterbitkan lewat International Journal of Impotence Research.

Peneliti dari Departemen Urologi UCI, Arman S. Walia mengatakan bahwa penyakit non-urologi dapat berdampak negatif pada penyakit urologi. Kondisi ini membuat para urolog harus menyadari keterkaitan ini ketika melihat kondisi pasien.

Depresi dan gangguan tidur sering terjadi bersamaan dengan masalah kesehatan lainnya, termasuk gangguan kesehatan pada kelamin. Walia serta peneliti lain mengevaluasi prevalensi dan asosiasi dari kondisi itu lewat partisipan pria yang mengalami gangguan pada alat vitalnya.

Penelitian kemudian menemukan hasil bahwa risiko depresi dan masalah tidur adalah umum di antara pria, terutama para lansia, pengidap obesitas, dimana mereka lebih mungkin mengalami masalah pada kelamin.

Dari hasil tersebut, diketahui bahwa depresi ringan hingga berat diindikasikan pada 38,6 persen kelompok. Sementara 55,2 persen lannya menunjukkan risiko sedang hingga tinggi untuk sleep apnea. Sisanya, 18,1 persen, mengindikasikan insomnia sedang hingga berat.

Risiko depresi dan masalah tidur juga umum terjadi pada pria dengan hipogonadisme―suatu kondisi dimana tubuh pria tidak cukup memproduksi hormon seks, seperti testosteron.

Risiko lain akibat gangguan kelamin

Tiga perempat dari partisipan, yakni 77,3 persen, memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas 25. Ini mengindikasikan bahwa mereka adalah golongan orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sementara itu, empat dari lima orang atau sekitar 79 persen positif mengidap gejala testosteron rendah.

Lebih jauh, sekitar setengah dari pria (47,9 persen) mendapat skor sedang hingga berat menderita disfungsi ereksi. Sedangkan dua dari lima orang (42,9 persen) mengalami gangguan pada prostat.

“Jika terjadi masalah atau gangguan pada prostat, maka penanganan yang dapat diberikan dokter adalah pemberian obat atau operasi. Namun, untuk penanganan yang tepat, kami sarankan sebaiknya periksakan keluhan Anda kepada dokter spesialis urologi agar dapat dievaluasi lebih lanjut,” kata dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.

Waspada, gangguan kesehatan pada kelamin rentan memicu depresi dan masalah kesehatan yang lebih berbahaya lagi. Karenanya, bagi Anda para pria, mulailah untuk memperhatikan kesehatan alat vital dengan saksama. Jika Anda merasakan adanya gejala yang tidak wajar pada alat kelamin Anda, jangan malu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar