Sukses

Garam Himalaya vs Garam Dapur, Mana yang Lebih Sehat?

Dewasa ini garam Himalaya dianggap lebih berkhasiat bagi kesehatan dibandingkan garam dapur. Benarkah demikian? Berikut ini fakta medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Garam merupakan bumbu dasar wajib yang ada di dapur rumah tangga. Salah satu jenis garam yang cukup populer saat ini adalah garam Himalaya. Popularitas garam berwarna merah muda ini pun mulai menggeser penggunaan garam dapur.

Disebut garam Himalaya karena garam berbentuk kristal-kristal kecil ini berasal dari pegunungan Himalaya yang terletak di antara Pakistan, India, Tiongkok, Bhutan dan Nepal. Garam ini menjadi semakin dicari karena diklaim lebih sehat dibandingkan dengan garam dapur.

Perbedaan garam dapur dan garam Himalaya

Garam dapur berasal dari air asin laut yang mengalami penguapan dan menjadi berbentuk kristal-kristal garam. Setelah itu kristal garam akan mengalami pemurnian untuk menyingkirkan mineral-mineral lainnya selain natrium klorida yang merupakan zat utama dalam garam.

Umumnya garam dapur juga difortifikasi dengan yodium untuk mencegah kekurangan yodium, yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, serta gangguan metabolisme tubuh. Meski mengonsumsi garam dapur sering dianggap tidak baik karena dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, pada dasarnya tubuh membutuhkan garam untuk mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, memperlancar hantaran aliran listrik di saraf, dan berperan dalam kontraksi otot.

Berbeda dengan garam dapur, garam Himalaya tidak melalui proses pemurnian, sehingga dianggap lebih alamiah. Sebenarnya komponen utama dari garam Himalaya juga natrium klorida, serupa dengan garam dapur. Tetapi garam jenis ini mengandung komponen mineral lain.

Diperkirakan terdapat sekitar 80 jenis mineral di dalam garam Himalaya, termasuk zat besi di dalamnya. Kandungan tersebutlah yang menyebabkan warna garamnya menjadi merah muda.

Kesimpulannya, garam dapur memiliki kandungan natrium yang lebih tinggi, sedangkan garam Himalaya memiliki kandungan mineral lain yang lebih tinggi. Sebagai perbandingan, dalam 1 gram garam dapur terdapat 381 miligram natrium dan 0,01 miligram zat besi. Sementara itu, dalam 1 gram garam Himalaya terkandung 368 miligram natrium dan 0,03 miligram zat besi.

1 dari 2 halaman

Jadi, mana yang lebih baik?

Lebih dari sekedar pemberi rasa bagi makanan, garam Himalaya dipercaya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, seperti menjaga keseimbangan tingkat keasaman tubuh, mencegah penuaan, menjaga keseimbangan gula darah, dan membantu mengatasi gangguan pernapasan.

Namun sebenarnya hal-hal tersebut belum terbukti secara medis. Belum ada penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa garam Himalaya lebih baik bagi kesehatan dibandingkan dengan garam dapur. Jadi, pilihan untuk menggunakan garam Himalaya atau garam dapur dikembalikan pada Anda.

Pada prinsipnya, yang dibutuhkan tubuh dari garam adalah kandungan natrium kloridanya. Zat ini bisa ditemui pada kedua jenis garam ini.

Batas konsumsi garam

Terlepas dari jenis garam yang dipilih, hal yang perlu diingat adalah perlunya membatasi jumlah garam yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya. World Health Organization (WHO) menyarankan konsumsi garam per hari adalah 3,5-4 gram. Jumlah ini sudah termasuk dengan makanan sehari-hari yang sudah mengandung garam, seperti keripik, kentang goreng, sosis, kornet, dan sejenisnya.

Anda tidak dianjurkan untuk mengonsumsi garam lebih atau kurang dari 3,5-4 gram sehari. Sebab mengonsumsi garam lebih dari batas tersebut dapat meningkatkan tekanan darah. Sebaliknya, asupan garam yang terlalu sedikit dapat menyebabkan tubuh kekurangan natrium, yang bisa berujung pada gangguan saraf dan penurunan kesadaran.

Tren memang selalu berdatangan silih berganti, salah satunya tentang penggunaan garam Himalaya ini. Yang perlu diperhatikan jika Anda lebih memilih garam Himalaya dibandingkan dengan garam dapur, pastikan bahwa Anda mendapatkan asupan yodium yang cukup dari makanan lain seperti rumput laut, udang, tuna, dan telur.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar