Sukses

Kiat Atasi Nyeri Leher pada Anak

Bukan cuma orang dewasa yang bisa mengalami nyeri leher, kondisi ini juga bisa terjadi pada anak-anak. Bagaimana cara mengatasinya?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu nyeri yang sering dialami—selain nyeri pinggang—ialah nyeri leher. Nyeri leher biasanya dialami bila Anda terlalu lelah melakukan aktivitas tertentu atau “salah bantal” alias salah posisi tidur. Biasanya, nyeri leher bisa diatasi dengan istirahat, peregangan, atau konsumsi obat pereda nyeri, pijat, dan masih banyak lagi. Lantas, jika nyeri leher terjadi pada anak-anak, bagaimana cara mengatasinya?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari ketahui dulu penyebab anak mengalami nyeri leher, yakni:

  1. Postur dan posisi leher saat beraktivitas

Coba Anda ingat-ingat lagi, apakah anak sering menghabiskan waktu bermain dengan gawai? Atau anak sedang giat belajar sebagai persiapan ujian sekolah? Jika ya, kemungkinan anak terlalu lama berada pada posisi yang sama seperti memandangi layar gawai atau membaca.

Perlu Anda ketahui, setiap gerakan condong ke depan dan ke bawah akan memberi tekanan pada leher. Nah, bayangkan jika Anda terlalu lama di posisi tersebut, pasti lama-kelamaan leher akan terasa nyeri. Nyeri otot saat masa kanak-kanak bisa menandakan bahwa ketika dewasa, anak cenderung akan memiliki masalah kesehatan yang sama.

  1. Aktivitas fisik yang terlampau ekstrem

Anak yang aktif di bidang olahraga juga bisa mengalami nyeri leher karena adanya risiko terjatuh atau terbentur. Jika anak mengeluhkan nyeri leher akibat jatuh atau terbentur, lebih baik segera membawanya ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  1. Salah posisi tidur

Setuju ya, kalau ini juga sering Anda alami? Meski begitu, anak-anak mungkin tidak terlalu bisa menahan rasa nyeri di leher ketimbang orang dewasa. Ia pun akan kesulitan dalam beraktivitas di sekolahnya, seperti membaca atau sekadar menggendong tas di punggungnya.

  1. Penyakit lainnya

Ada beberapa penyakit yang dapat menimbulkan nyeri leher pada anak. Contoh pertama adalah membengkaknya kelenjar getah bening sebagai respons terhadap infeksi, misalnya pilek dan radang tenggorokan. Biasanya, rasa nyeri akan terasa di kedua sisi leher, tepatnya di area bawah telinga dan garis rahang.

Penyakit lain yang bisa mendasari nyeri leheri pada anak adalah meningitis. Untuk penyakit yang satu ini sebaiknya Anda harus waspada. Jika tidak ditangani dengan baik, meningitis dapat mengancam jiwa anak. Selain leher yang kaku, ciri meningitis lainnya adalah leher yang kaku, demam tinggi, timbulnya ruam, dan kehilangan nafsu makan.

Selain itu, nyeri leher pada anak juga bisa diakibatkan oleh penyakit Lyme, yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang disebarkan oleh gigitan kutu yang terinfeksi. Anak juga akan merasakan sakit otot dan sendi di sekujur tubuh serta merasa lemah.

Cara mengatasi nyeri leher pada anak

Nyeri leher pada anak sebaiknya tidak disepelekan. Jika nyeri yang dirasakan anak tidak terlampau parah dan penyebabnya sudah diketahui, Anda bisa memberikan perawatan sederhana di rumah, seperti dengan kompres dingin atau hangat untuk mengurangi rasa nyeri. Pastikan anak mengurangi atau sementara waktu menggentikan aktivitas yang memicu nyeri leher untuk menghindari nyeri leher datang kembali.

Jika nyeri leheri yang dialami anak disertai pusing, mati rasa, bahkan kesemutan, Anda disarankan untuk membawa anak segera ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti X-ray atau tes lainnya, sekaligus obat yang sesuai agar anak bisa cepat pulih dan melanjutkan aktivitasnya.

Seperti pada orang dewasa, nyeri leher juga bisa terjadi pada anak. Sangat penting bagi orang tua untuk tahu cara mengatasi nyeri leher, serta mengetahui penyebabnya sehingga Anda dapat menasihati anak untuk membatasi kebiasaan atau berbagai aktivitasnya yang bisa memicu nyeri leher.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar