Sukses

Mengenal Penyakit Liver yang Renggut Jiwa Faldy Albar

Lama tak terdengar kabar, Faldy Albar dikabarkan meninggal dunia akibat penyakit liver. Sebenarnya, apa yang jadi penyebab penyakit ini?

Klikdokter.com, Jakarta Kabar duka datang dari kalangan artis Tanah Air. Putra ketiga dari penyanyi rock legendaris Achmad Albar, Faldy Albar, dikabarkan meninggal pada hari Rabu, (29/8/18), setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit liver dan mag yang dialaminya.

Berdasarkan pernyataan sang ayah yang ditemui saat pemakaman, Faldy mengalami penyakit liver dan mag yang sudah menahun. Penyakit inilah yang menimbulkan berbagai komplikasi, hingga akhirnya merenggut jiwa Faldy di usianya yang masih terbilang muda.

Seluk-beluk penyakit liver

Beratnya yang mencapai 1,3 kilogram menjadikan liver (hati) sebagai organ tubuh terbesar kedua setelah kulit. Hati memiliki fungsi yang sangat vital dalam tubuh manusia, mulai dari pencernaan, metabolisme, daya tahan tubuh, penyimpanan zat gizi dalam tubuh, hingga produksi sel darah. Ini berarti, adanya penyakit yang menyerang liver akan secara otomatis mengganggu fungsi organ tubuh lainnya.

Penyakit liver itu sendiri terdiri dari berbagai jenis. Sejauh ini, belum diketahui tipe mana yang dialami oleh Faldy Albar. Namun, setidaknya, dari sekian banyak jenis penyakit liver, beberapa di bawah ini adalah yang cukup sering terjadi dan berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi hingga kematian.

  1. Alcoholic liver disease (ALD)

Liver yang sehat hanya memiliki sedikit lemak. Bila lemaknya terlalu banyak, akan terjadi penumpukan dan menyebabkan fatty liver atau perlemakan hati. Penyebab perlemakan hati tersering adalah alkohol.

Di dalam tubuh, alkohol memicu pemecahan sel lemak (lipolisis) yang berakibat pada peningkatan asam lemak bebas di dalam darah. Asam lemak tersebutlah yang akhirnya menumpuk di hati.

Alcoholic liver disease (ALD) biasanya terjadi pada mereka yang mengonsumsi alkohol secara rutin dan dalam jangka waktu yang lama. Gejalanya meliputi badan lemas, perut terasa begah dan kembung, rasa tidak nyaman di ulu hati, dan gangguan metabolik lain―seperti kolesterol tinggi, peningkatan tekanan darah, dan peningkatan kadar gula darah.

  1. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD)

Pada kondisi NAFLD, hati mengalami perlemakan yang disebabkan oleh penyebab selain alkohol. Umumnya, penyebabnya adalah obesitas atau kelebihan berat badan, kolesterol tinggi, dan penyakit gula (diabetes). Kesemua kondisi inimenyebabkan lemak dalam tubuh relatif lebih tinggi, sehingga mudah menumpuk di hati.

Gejala dari NAFLD serupa dengan perlemakan hati akibat alkohol, yaitu badan lemas, gangguan pencernaan, dan perut yang tampak membesar.

  1. Hepatitis

Hepatitis merupakan sebutan umum untuk proses peradangan yang terjadi di liver. Ada banyak penyebab hepatitis, tetapi yang tersering adalah virus.

Hepatitis akibat virus terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Dari jenis tersebut, yang paling sering menyebabkan berbagai komplikasi adalah hepatitis B dan C yang ditularkan melalui penggunaan jarum suntik tidak steril dan hubungan seksual yang tidak sehat.

Gejala penyakit hepatitis bervariasi bergantung pada fasenya. Di awal, gejalanya berupa demam, mual, muntah. Pada fase selanjutnya, kulit dan mata penderitanya akan mulai tampak kuning. 

  1. Sirosis hati

Sirosis hati adalah kondisi di mana bentuk dan struktur hati mengalami perubahan, sehingga fungsi hati mengalami penurunan. Sebagian besar penyakit liver dapat berakhir menjadi sirosis bila tidak tertangani atau menetap selama bertahun-tahun. Sederhananya, sirosis hati adalah kondisi lanjut dari berbagai penyakit hati.

Gejala dari sirosis hati adalah kulit dan mata yang tampak kuning (ikterus), perut membesar karena berisi cairan (asites), muntah darah, buang air besar bercampur darah hingga penurunan kesadaran karena kadar amonia di dalam tubuh sangat tinggi.

Mengetahui bahayanya penyakit liver yang merenggut nyawa Faldy Albar, alangkah baiknya bila Anda lebih menjaga kesehatan liver mulai saat ini. Cara yang bisa Anda lakukan antara lain tidak menggunakan obat tanpa anjuran dokter dan menghindari konsumsi alkohol. Selain itu terapkan pola makan tinggi serat dan rendah lemak jenuh, serta melakukan aktivitas fisik rutin. Yang tak kalah penting, hindari faktor risiko seperti menggunakan jarum suntik tidak steril.

[NB/ RVS]

1 Komentar