Sukses

Kenali Gejala Phantosmia, si Bau Hantu

Apa itu phantosmia (bau hantu) dan bagaimana gejalanya? Simak fakta medisnya sebagai berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah saat Anda sendirian di rumah, tiba-tiba muncul samar-samar wangi melati di dekat Anda? Padahal tak ada bunga melati di rumah, dan Anda tak sedang memasak apa pun. Ini mungkin membuat tengkuk Anda merinding karena mengira ada hantu di dekat Anda. Tenang, fenomena 'bau hantu' ini bisa dipahami lewat logika, kok. Dalam dunia medis disebut dengan phantosmia, atau membaui bau yang sebenarnya tidak ada.

Di Indonesia, phantosmia sering dikaitkan dengan segala hal yang berbau mistis. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih meyakini bahwa kondisi tersebut bisa jadi pertanda adanya makhluk gaib di dekat Anda. Misalnya: bau melati artinya ada kuntilanak atau hantu-hantu perempuan yang sedang mendekati, atau bau singkong bakar pertanda adanya genderuwo di sekitar Anda.

Mengerikan? Memang. Namun, sekali lagi, ini bisa ditelaah dari sisi ilmiah.

Apa saja gejala phantosmia

Pada phantosmia, pengidapnya dapat membaui bau yang sebenarnya tidak ada. Hanya si penderita yang bisa menciumnya, orang lain tidak. Bebauan yang muncul ini bervariasi antara satu orang dengan lainnya, bisa beraroma busuk atau malah menyenangkan.

Dilansir NBC News, biasanya pengidap phantosmia melaporkan mencium aroma telur busuk, parfum yang tidak enak, sampah, gas bocor, bahkan kotoran. Ada juga orang-orang yang kesulitan mengidentifikasi bau yang muncul, atau bau tersebut tidak familiar untuk mereka. Hal ini bisa menyusahkan si pengidap dan mungkin membuat aktivitas terganggu. Serta dapat memengaruhi indra perasa, sehingga mengurangi nafsu makan dan menyusutkan berat badan.

Ironisnya, beberapa pengidap dapat mengalami gangguan psikiatrik, seperti depresi dan keinginan bunuh diri akibat kondisi phantosmia yang mereka alami.

“Kira-kira setengah dari pasien saya pernah ingin bunuh diri. Mereka putus asa karena semua makanan menjadi berbau seperti daging busuk bahkan lebih buruk lagi,” kata Dr. Donald Leopold dari University of Nebraska Medical Center, kepada NBC News.

Terkadang juga pengidapnya berpikir bahwa bau itu berasal dari diri mereka sendiri sehingga mereka akan sering mencuci tangan dan tak ingin keluar rumah. Mulanya memang phantosmia, yang akhirnya kemudian berkembang menjadi paranoia.

Phantosmia umumnya disebabkan oleh infeksi seperti demam, flu, dan sinusitis. Ada juga penyebab lainnya yang tidak terlalu umum, antara lain polip hidung, migrain, epilepsi, depresi, cedera kepala, dan tumor otak.

Mengenai pengembangannya, phantosmia bisa terjadi secara bertahap selama beberapa hari, bahkan hingga beberapa tahun. Sensasi phantosmia pada awalnya dapat bertahan beberapa menit tetapi mungkin secara bertahap meningkat menjadi berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Jika disebabkan oleh infeksi sinus, biasanya akan sembuh sendiri.

Menangani phantosmia dan penyakit terkait lainnya

Untuk mendiagnosis phantosmia, dokter pertama-tama akan melakukan pemeriksaan fisik kepala dan leher seseorang. Mereka mungkin akan bertanya tentang gejala lain yang dialami dan melakukan tes untuk memeriksa fungsi indra lainnya.

Dokter dapat melakukan endoskopi atau rinoskopi untuk melihat ke dalam rongga hidung dan memeriksa masalah yang menyebabkan phantosmia tersebut. Mereka juga mungkin meminta tes spesifik dan komprehensif atau merujuk pasien pada spesialis.

Tes pencitraan, termasuk CT scan, scan MRI, dan scan EEG, terkadang digunakan untuk memeriksa kelainan pada rongga hidung, otak, atau sistem saraf. Hal ini mengingat permasalahan phantosmia tak hanya berkutat di hidung dan otak saja, tapi bisa merembet ke alat indra lain.

Kenali gejala phantosmia dengan membaca informasi yang telah dijelaskan. Phantosmia biasanya tidak menimbulkan kekhawatiran dan sering kali hilang dengan sendirinya. Namun, Anda harus waspada karena kondisi tersebut bisa menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius. Segera periksakan ke dokter jika Anda merasa memiliki phantosmia sehingga dapat diketahui penyebab di baliknya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar