Sukses

Benarkah eSports di Asian Games Efektif untuk Kesehatan Otak?

Cabang olahraga eSports yang baru pertama kali digelar di Asian Games dinilai cukup efektif untuk kesehatan otak. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Game online tak dimungkiri memiliki reputasi buruk karena dapat mengganggu kehidupan sosial serta kesehatan mental dan fisik. Meski demikian, beberapa penelitian membuktikan bahwa game online seperti yang dipertandingkan di Asian Games untuk cabang olahraga (cabor) eSports juga memberikan manfaat bagi kesehatan otak.

Cabang olahraga baru di Asian Games

Asian Games 2018 menjadi panggung pertama game online dipertandingkan sebagai cabang olahraga eSports. Di cabor ini terdapat enam nomor yang dipertandingkan, yakni Clash Royale, Arena of Valor, Hearthstone, League of Legends, Pro Evolution Soccer, dan Starcraft II. Meski baru pertama diadakan, Indonesia berhasil meraih medali emas di cabang olahraga ekshibisi eSports Asian Games.

Adalah Ridel Yesaya Sumarandak atau BenzerRidel yang akhirnya mampu mengalahkan atlet eSports asal China, Lciop, dengan skor 3-1 pada nomor Clash Royale. Meski baru berstatus percobaan dan medali yang diperoleh tidak mempengaruhi leader board medali, perjuangan Ridel patut diapresiasi.

Dengan masuknya eSports sebagai salah satu cabor di Asian Games, AESF selaku Federasi Olahraga Elektronik Asia pun tengah melobi agar eSport juga bisa dipertandingkan di SEA Games berikutnya yang akan digelar di Filipina pada 2019.

Dilansir dari Philippine Daily Inquirer, Arniel Gutierrez selaku presiden AESF telah melakukan pembicaraan dengan Komite Olimpiade Filipina (POC). Gutierrez menawarkan setidaknya tiga medali emas untuk cabang olahraga tersebut. Jika berhasil, SEA Games akan menjadi perhelatan olahraga pertama yang mempertandingkan game online secara sah.

Cabang olahraga eSports sebenarnya telah diakui oleh Komite Olimpiade Korea (KOR) sebagai olahraga olimpiade tingkat kedua. Akreditasi inilah yang akan dibawa untuk memperkuat pengesahan dari komite olimpiade internasional. Perlu diketahui, eSports saat ini diletakkan sejajar dengan cabang olahraga catur, balap mobil, dan polo.

Profesor Ingo Froböse, seorang ilmuwan dari German Sports University, juga pernah melakukan penelitian terhadap atlet yang berkompetisi di cabor eSports. Hal ini dijelaskan pada situs berita Deutsche Welle. Penelitiannya selama lima tahun tersebut menguji permainan strategi seperti Counter Strike atau League of Legend yang sangat kompleks dan membutuhkan tingkat pemahaman taktis yang tinggi.

Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa eSports menghasilkan jumlah hormon kortisol yang sama dengan pembalap mobil, serta denyut jantung yang setara dengan pelari maraton. Menurutnya, eSports memiliki tuntutan yang sama dengan jenis olahraga lainnya.

1 dari 2 halaman

Game online dan kesehatan otak

Menurut American Psychological Association, game online memiliki manfaat serupa dengan program akademik dalam meningkatkan navigasi spasial, memori, dan penalaran.

Studi tersebut menjelaskan bahwa bermain game dapat membantu seseorang mencegah kesalahan yang sama terjadi lagi, bahkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Tak heran, kini bahkan ada iACADEMY, yakni sekolah pertama di Filipina yang menawarkan gelar Bachelor of Science untuk jurusan Game Development. Materi yang diajarkan dalam daftar kurikulumnya berupa penggabungan antara ilmu desain visual, teknik pembuatan cerita, serta Bahasa pemrograman.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Profesor Simone Kuhn dari Max Planck Institute menemukan bahwa game online dapat merangsang pertumbuhan neuron baru (neurogenesis) dan konektivitas di daerah otak yang bekerja dalam mengarahkan orientasi spasial, pembentukan memori dan perencanaan strategis, serta keterampilan motorik halus.

Dalam penelitian ini volume otak diukur menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) saat seseorang bermain Super Mario selama dua bulan. Hasilnya, orang yang bermain game mengalami peningkatan jumlah sel saraf di otaknya.

Semakin tinggi tingkat konekstivitas tersebut, maka tingkat kecerdasan dan kesadaran seseorang menjadi lebih tinggi.

Menurut Kuhn, strategi permainan yang mengharuskan pemainnya menavigasi berbagai hal secara bersamaanlah yang mungkin dapat merangsang pertumbuhan otak.

Hal ini serupa dengan apa yang dijelaskan oleh Profesor Adam Gazzaley dari University of California.

Dilansir dari BBC, penelitiannya terhadap pemain NeuroRacer memberikan manfaat untuk meningkatkan memori dan rentang perhatian seseorang. Mengarahkan kendaraan dan bereaksi terhadap tanda-tanda yang berbeda pada saat bersamaan adalah faktor penyebabnya.

Hasil penemuannya tersebut kemudian diterbitkan pada jurnal Nature edisi September 2013. Bahwa game online juga dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk multitasking atau melakukan banyak tugas dan tetap fokus pada aktivitasnya, meski harus memperhatikan informasi yang datang silh berganti.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan untuk mengontrol diri agar tidak kecanduan game online. Dijelaskan oleh dr. Karin Wiradarma kepada KlikDokter, tanda-tanda orang sudah mulai kecanduan adalah saat waktu yang digunakan untuk bermain game semakin meningkat,sulit berkonsentrasi, dan aktivitasnya mulai terganggu.

“Biasanya gejala yang muncul adalah mudah marah, tersinggung, sedih, bahkan depresi ketika aksesnya untuk bermain game online diputus. Bila sudah demikian, segera lakukan pemeriksaan ke ahli kejiwaan,” jelasnya.

Meski memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan, bermain game online ternyata juga memberikan manfaat bagi kesehatan otak. Tak heran kemudian permainan ini disertakan dalam Asian Games sebagai eSports. Meski demikian, Anda boleh-boleh saja menikmati game online, tapi sebaiknya tak mengabaikan gaya hidup sehat, ya!

[RVS]

1 Komentar

  • Hadi Oke

    haduh, saya juga merasa suka marah" sih, bukan karna tidak bisa main gamenya, tapi karena kalah saat bermain 😅