Sukses

Hubungan Antara Diabetes dengan Demensia

Benarkah penderita diabetes lebih cepat mengalami demensia? Berikut ini penjelasan yang perlu Anda ketahui.

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes dan demensia sekilas merupakan dua penyakit yang sangat berbeda satu sama lain. Namun, studi menunjukkan bahwa keduanya mungkin dapat saling berhubungan.

Demensia sering disebut juga dengan pikun. Pikun pada demensia berbeda dengan pikun akibat proses penuaan yang normal. Pada demensia, gangguan daya ingat dan penurunan fungsi kognitif yang terjadi membuat penderitanya sulit melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Pada dasarnya, makin tua seseorang, makin meningkat pula risiko terjadinya demensia. Namun pada penderita diabetes, risikonya lebih besar dan usia timbulnya bisa lebih cepat.

Hasil kajian dari berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa risiko demensia pada penderita diabetes dua kali lipat lebih besar dibandingkan individu yang sehat. Peningkatan risiko ditemukan tertinggi pada mereka yang mengalami diabetes sebelum usia 65 tahun.

Risiko ini menjadi makin tinggi dengan makin lama dan makin beratnya diabetes yang dialami. Begitu pun bila penderita diabetes memiliki penyakit penyerta lain seperti obesitas, penyakit jantung, kelainan pembuluh darah, kolesterol atau tekanan darah tinggi.

Bila dilihat dari usia timbulnya gejala, didapatkan bahwa mulainya gejala demensia pada penderita diabetes rata-rata 2,2 tahun lebih cepat dibandingkan dengan individu yang sehat. Kematian akibat demensia pada penderita diabetes juga rata-rata 2,6 tahun lebih cepat dibandingkan dengan individu yang sehat.

1 dari 2 halaman

Bagaimana diabetes mempercepat demensia?

Kadar gula darah yang terus-menerus tinggi dan tidak terkendali, lama-kelamaan akan memicu kerusakan pembuluh darah di seluruh tubuh. Tak terkecuali, pembuluh darah otak. Kerusakan pembuluh darah ditandai dengan adanya penumpukan plak yang akan memicu peradangan dan pembentukan radikal bebas. Pada akhirnya, sel-sel otak akan kekurangan oksigen.

Sebagai akibatnya, otak mulai kehilangan fungsi baik kemampuan untuk berespons terhadap stimulus maupun untuk melakukan koordinasi antar sistem tubuh. Wujud nyatanya yakni turunnya daya pikir dan daya ingat seseorang.

Demensia bisa dicegah

Meski risikonya meningkat, tidak serta-merta semua penderita diabetes akan mengalami demensia. Dari berbagai studi ditemukan bahwa daya ingat dan fungsi kognitif penderita diabetes yang mendapatkan pengobatan lebih baik daripada yang tidak. Ditemukan pula bahwa penderita diabetes yang mencapai target pengendalian kadar gula darah cenderung lebih lambat atau bahkan tidak mengalami demensia.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa penderita diabetes harus memiliki kontrol gula darah yang baik untuk memperlambat atau mencegah munculnya demensia. Kontrol gula darah dianggap baik bila kadar HbA1c di bawah 7%. Akan lebih baik lagi, bila mampu mencapai kadar di bawah 6,5%.

Selain mengontrol kadar gula darah, gaya hidup berikut juga sebaiknya dilakukan penderita diabetes untuk mencegah timbulnya demensia:

  • Mengonsumsi makanan sumber vitamin D, asam folat, vitamin B6, dan B12
  • Sediakan waktu untuk melakukan aktivitas fisik selama 30 menit per hari
  • Melakukan “senam” otak melalui brain games
  • Selau ingin mempelajari atau mencoba hal baru
  • Membiasakan diri untuk membaca dan merangkum isi bacaan dalam bentuk tulisan
  • Tetap aktif secara sosial

Satu hal yang perlu diingat, jangan maklum dengan pikun. Apalagi, bila ini terjadi akibat demensia. Kendalikan gula darah (ini berlaku bagi mereka yang memiliki diabetes maupun yang tidak), jalani pola hidup sehat, miliki interaksi sosial yang positif, dan sering-seringlah melatih otak. Dengan melakukan ini semua, niscaya Anda akan terhindar dari demensia pada kemudian hari.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar