Sukses

Lyme Disease yang Disebabkan Gigitan Kutu, Adakah Vaksinnya?

Lyme disease dapat menyebar ke manusia melalui kutu yang terinfeksi. Adakah vaksin untuk mencegah penyakit ini?

Klikdokter.com, Jakarta Penyanyi Avril Lavigne pernah didiagnosis Lyme disease atau penyakit Lyme pada tahun 2014, dan sempat absen dari dunia hiburan selama dua tahun. Sekarang ia sudah pulih dan rencananya akan mengeluarkan album baru tahun ini. Lyme disease merupakan penyakit yang disebabkan oleh Borrelia yang ditularkan melalui gigitan kutu. Meski kelihatan sepele, kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah mental serius.

Seekor kutu harus menempel di kulit selama 24-48 jam untuk menyebarkan infeksi. Gejala awal yang sering terjadi adalah adanya ruam merah melingkar di sekitar gigitan kutu, serta gejala seperti flu. Orang yang tinggal atau menghabiskan lebih banyak waktu di daerah hutan, serta mereka yang memiliki hewan peliharaan lebih mungkin untuk terkena penyakit ini.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Psychiatry menemukan bahwa pasien penyakit Lyme stadium akhir dapat mengalami masalah neurologis dan kejiwaan, termasuk gangguan memori, depresi, disleksia, kejang, kecemasan, serangan panik, dan psikosis.

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan bahwa Lyme disease yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya dapat menyebabkan masalah mental yang berhubungan dengan perubahan suasana hati, gangguan tidur, perilaku kompulsif obsesif, serta ADD atau ADHD.

1 dari 2 halaman

Vaksin untuk Lyme disease

Mengingat efeknya yang membahayakan jika tidak ditangani dengan baik, apakah Lyme disease ini bisa dicegah dengan vaksin?

Dilansir New York Times, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa kasus penyakit Lyme bisa terjadi sebanyak 30 ribu kali dalam setahun. Parahnya lagi, angka tersebut meningkat selama 20 tahun dan masih terus naik. Malah, para peneliti memprediksi bahwa terdapat 300 ribu kasus yang tak terekspos.

Vaksin Lyme disease pernah dikeluarkan sekitar 15 tahun yang lalu. Namun sayang, kurang efektif sehingga peneliti masih terus mencari cara demi menemukan formula yang tepat.

"Jelas, masalahnya semakin parah. Selama bertahun-tahun, kami telah menganjurkan agar masyarakat menerapkan konsep pencegahan sebelum mengobati, seperti menggunakan losion antikutu. Ini baik untuk dilakukan, meski ternyata tidak cukup,” kata Paul Mead, peneliti dari CDC.

Vaksin untuk Lyme disease yang disebut LYMErix, dirilis oleh SmithKline Beecham (sekarang GlaxoSmithKline) pada tahun 1998. Vaksin ini dinilai memiliki efektivitas hingga 76 persen pada orang dewasa setelah tiga dosis. Namun karena sejumlah masalah, vaksin ini mesti ditarik dari peredaran.

Pihak perusahaan menarik vaksin dari pasar selama kurang lebih 4 tahun dijual bebas dengan alasan penjualan rendah. Tak hanya itu, kondisi vaksin yang belum matang malah menimbulkan efek samping lain seperti radang sendi hingga mengganggu sistem daya tahan tubuh.

Sejumlah studi tidak pernah menunjukkan hubungan langsung antara LYMErix dan komplikasi serius yang terjadi. Namun, klaim pasien dan sorotan media pada saat itu cukup membuat para dokter dan pasien waswas.

Tak ayal, pihak perusahaan saat ini tengah berusaha mematangkan dan meningkatkan kualitas vaksin agar dapat efektif membunuh bakteri penyebab Lyme disease. Butuh beberapa kali penelitian dan uji coba untuk dapat mewujudkan hal tersebut.

Guna mencegah dampak buruk yang bisa timbul akibat penyakit Lyme, National Health Service UK menyarankan Anda untuk menutup kulit ketika berjalan di area hutan atau rerumputan. Penggunaan losion antiserangga atau menggunakan pakaian berwarna terang juga dapat membantu memperkecil risiko tergigit kutu.

Meski tidak ada vaksin, tetapi sejumlah cara tersebut dapat dilakukan untuk mencegah agar Anda tidak terjangkit Lyme disease. Segera konsultasikan kepada dokter jika Anda mengalami ciri-ciri berkaitan dengan penyakit ini.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar