Sukses

Bahaya Momo Challenge bagi Kesehatan Mental Remaja

Permainan Momo Challenge tengah ramai dibicarakan. Permainan ini menyebabkan gangguan kesehatan mental yang cukup serius pada remaja.

Klikdokter.com, Jakarta Belum selesai dengan berbagai kasus kecelakaan yang terjadi akibat dari Kiki Challenge, kini hadir Momo Challenge.  Permainan ini diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan mental dan meningkatnya kasus bunuh diri remaja di beberapa negara, yakni Argentina, Meksiko, Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman. Permainan ini menantang partisipannya untuk menyakiti diri hingga bunuh diri.

Seorang gadis remaja berusia 12 tahun mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di halaman belakang rumahnya yang terletak di Maschwitz, Argentina. Ponsel yang ia gunakan untuk mendokumentasikan aksi bunuh diri pun tergeletak di sampingnya.

Dilansir dari Buenos Aires Times, kasus bunuh diri yang memiliki pola mirip dengan Blue Whale Challenge ini tengah diselidiki oleh pihak yang berwajib.

Jika Anda masih ingat, setahun lalu Blue Whale Challenge sempat ramai juga dilakukan sebagai tren permainan yang menantang. Permainan ini pun menyebabkan 130 kasus bunuh diri remaja di Rusia.

1 dari 4 halaman

Tantangan berbasis aplikasi chat

Tantangan berbasis apilkasi chat WhatsApp ini dimulai dari sebuah akun media sosial yang memiliki akun grup di Facebook. Tujuannya, menantang orang untuk mulai berkomunikasi dengan nomor tak dikenal yang bernama Momo.

Dengan menambahkan nomor tersebut ke dalam buku telepon di ponsel, tak lama di profil WhatsApp nomor Momo akan muncul foto avatar instalasi karya seniman boneka Jepang bernama Midoru Hayashi. Profil ini tampak dengan mata yang menonjol ke luar dan bibir yang lebar dan menyeramkan.

Setelah menyapa Momo lewat WhatsApp, partisipan akan diberikan tantangan demi tantangan yang cenderung menyakiti diri. Setelah melakukan 49 tantangan, sebagai tantangan terakhir, partisipan akan diminta melakukan percobaan bunuh diri yang direkam dan dikirimkan kepada Momo.

Shane Andrews, seorang vlogger asal Georgia yang sempat mencoba tantangan ini mengaku pada InsideEdition.com bahwa Momo Challenge merupakan permainan yang sangat berbahaya.

Karena apabila partisipan tidak mau menjalankan tantangan yang diberikan, maka akan mendapatkan kiriman foto dan video yang dapat mengganggu kesehatan mental.

“Saya mendapatkan pesan yang sangat menakutkan, salah satunya ancaman pembunuhan. Momo mengatakan bahwa ia tahu berbagai hal tentang saya, termasuk di mana tempat tinggal saya. Padahal, saya tidak pernah memberikan informasi tersebut,” terang Andrews.

Beberapa tantangan yang pernah dilakukan Andrews adalah bangun di jam-jam aneh, melakukan hal-hal yang ditakuti, serta melompat dari atas rumah. Seluruh tantangan tersebut harus dilakukan dengan mendokumentasikannya dalam bentuk video dan mengirimkannya lewat WhatsApp.

“Semakin hari, tantangan akan semakin berat dan menyeramkan. Pada akhirnya, Momo akan meminta partisipannya untuk mengakhiri hidup,” tambahnya.

Melihat fenomena ini, pihak WhatsApp pun memohon bantuan kepada para pengguna untuk melaporkan nomor yang dicurigai sebagai penyebar tantangan bunuh diri ini, untuk kemudian diblokir.

2 dari 4 halaman

Targetnya remaja

Dilansir dari BBC, hingga kini belum diketahui secara pasti dari mana Momo Challenge berasal, atau siapa oknum di balik tren permainan bunuh diri ini. Meski demikian, telah ditemukan beberapa nomor yang diduga sebagai pelaku dengan kode negara Jepang dan beberapa negara Amerika Latin.

Menurut Unit Investigasi Komputer di Tabasco, Meksiko, permainan ini menyasar anak-anak golongan remaja yang dinilai masih labil dan memberikan informasi lengkap di akun media sosialnya.

Ketika mereka menolak tantangan Momo dan mendapat ancaman, mereka pun akhirnya mematuhi perintah permainan agar ingin cepat lepas dari segala bentuk gangguan yang diberikan.

Jika dilihat dari polanya, pelaku membuat permainan ini dengan tujuan untuk mencuri informasi pribadi, menghasut bunuh diri atau melakukan kekerasan, memeras, hingga menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan insomnia.

Menanggapi soal target yang dituju adalah para remaja, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter berpendapat, “Secara psikologis, anak berusia 10-17 tahun senang meniru dan mengikuti hal yang dianggap keren oleh dirinya.”

Dengan mengikuti permainan ini dan memperlihatkan kehebatannya telah menyelesaikan tantangan, remaja merasa keren. Apalagi, saat permainan ini semakin viral di media sosial, anak usia remaja bisa saja semakin tertantang untuk mencobanya.

“Agar terhindar dari bahaya mengikuti permainan berbahaya, orang tua harus waspada dan mampu mencegah anak untuk mencoba permainan seperti ini,” tambahnya.

3 dari 4 halaman

Bahaya media sosial dan upaya mencegahnya

Berselancar di dunia maya tentu saja tidak perlu dipermasalahkan. Karena selain dapat membuat wawasan anak semakin luas, hubungan sosial anak dengan teman-temannya juga akan lebih baik. Dengan aktif menggunakan media sosial, anak tidak akan tertinggal informasi seru seputar aktivitas teman-temannya.

Meski demikian, menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, penggunaan media sosial diibaratkan seperti sebilah pedang, ada sisi positif dan negatifnya.

“Media sosial memang dapat menjadi perantara untuk berbagi kabar dengan teman atau keluarga. Namun, di balik itu semua, penggunaan media sosial yang tidak tepat dan berlebihan dapat berakibat buruk bagi kesehatan mental maupun fisik,” jelasnya.

Sebuah survei menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara umum dapat mengakibatkan gangguan tidur, gangguan cemas, hingga depresi. Jadi, semakin banyak waktu yang digunakan untuk mengakses media sosial, maka risiko depresi juga akan semakin tinggi.

Oleh sebab itu, agar anak tetap dapat mendapatkan manfaat dari penggunaan media sosial dan terhindar dari bahaya mengikuti permainan seperti Momo Challenge, dr. Sepri menyarankan Anda para orang tua untuk memberi anak pengarahan tentang cara untuk menangani ajakan yang tidak baik.

“Akan lebih baik bila orang tua tetap memantau jalur komunikasi anak. Jika ada komunikasi yang tidak sesuai, block akun yang mengganggu dan buat perjanjian durasi penggunaan gawai dengan anak,” tambah dr. Sepri.

Apabila telah dibuat jadwal penggunaan gawai, saat anak tidak sedang menggunakannya, orang tua bisa turut memantau aktivitas anak di media sosial. Dengan demikian, anak terhindar dari dampak negatif teknologi.

Kasus bunuh diri belakangan ini ramai terjadi, baik dari kalangan remaja maupun orang dewasa. Pemicunya bisa bermacam-macam, salah satunya bisa lewat permainan seperti Momo Challenge. Pantau terus aktivitas media sosial anak Anda agar tidak terjebak dalam permainan berbahaya seperti Momo Challenge yang bisa mengganggu kesehatan mentalnya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar