Sukses

Trikotilomania, Gangguan Mental Apa Ini?

Supermodel Sara Sampaio mengungkapkan bahwa dirinya mengalami gangguan mental trikotilomania. Gangguan apa ini dan apa yang diakibatkannya?

Klikdokter.com, Jakarta Kini banyak media yang membicarakan tentang trikotilomania, gangguan mental yang dimiliki oleh supermodel asal Portugis, Sara Sampaio (27). Kondisi ini secara blak-blakan diungkapkannya lewat Instagram, saat menjawab pertanyaan dari para penggemarnya sekitar dua minggu yang lalu, yaitu bagaimana cara Sara merawat alisnya.

Jawaban Sara cukup mengejutkan. “Saya mencoba untuk tidak menyentuh alisku, tapi sayangnya saya menderita trikotilomania dan malah mencabutinya! Inilah kenapa ada banyak celah di alis saya, dan saya hanya mengandalkan pensil alis untuk menutup celah tersebut,” jawabnya lewat fitur “Ask Question”.

Berjuang melawan trikotilomania selama 12 tahun

Lewat sebuah wawancara dengan Stylecaster, Sara menjelaskan bahwa gangguan ini dialaminya sejak berusia 15 tahun. Saat itu ia belum mencabuti alis, melainkan bulu mata. Dari situ, ia mulai mencabuti alis dan berbagai episode lanjutan yang memburuk akibat stres. “Saya tidak mencabuti rambut saat sedang tidak melakukan apa pun seperti saat menonton TV atau membaca buku,” kata Sara.

Sara menyadari meski trikotilomania yang dialaminya ini bersifat ringan, tapi ia tetap berkonsultasi dengan dokter. Dokter pun memberinya obat N-acetylcysteine atau NAC, yaitu sejenis asam amino yang memengaruhi neurotransmiter yang berkaitan dengan mood.

Meski demikian, Sara juga mengaku bahwa meski obat tersebut membantu, tapi impuls mencabuti rambut ini tidak benar-benar hilang. Inilah yang membuatnya ingin bertanya kepada dokter tentang pemberian obat naltrexone, yaitu obat yang sering digunakan untuk mengobati ketergantungan obat dan alkohol.

1 dari 3 halaman

Apa itu trikotilomania?

Menurut dr. Sara Elise Wijono, Mres, dari KlikDokter, pada dasarnya trikotilomania merupakan kondisi seseorang sulit menahan keinginannya untuk mencabuti rambut, baik rambut pada kepala, wajah, ketiak, dada, kemaluan, maupun kaki.

Penyebab dari trikotilomania tidak diketahui secara pasti, tapi seperti banyaknya kelainan kompleks lain, kondisi ini diduga terjadi akibat kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor di bawah ini diduga dapat meningkatkan risiko trikotilomania, termasuk:

  • Riwayat keluarga

Genetik dapat berperan dalam berkembangnya kondisi trikotilomania, dan kelainan ini dapat meningkat risikonya pada orang dengan anggota keluarga dekat yang memiliki kondisi tersebut.

  • Usia

Trikotilomania umumnya berkembang tepat sebelum atau saat awal usia remaja, paling sering di antara usia 10-13 tahun. Kondisi ini sering kali berlangsung seumur hidup.

  • Kondisi kesehatan lainnya

Orang dengan trikotilomania juga dapat mengalami kondisi kesehatan lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan obsesif-kompulsif.

  • Stres

Situasi atau kejadian yang memicu stres dapat menyebabkan sebagian orang mengalami trikotilomania.

Tanda dan gejala trikotilomania yang dapat dikenali mencakup beberapa hal berikut ini:

  • Mencabut rambut secara berulang, umumnya dari kulit kepala, alis mata, atau bulu mata, atau area tubuh lainnya. Bagian tubuh juga dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu.
  • Rasa tidak nyaman yang semakin meningkat sebelum mencabut atau saat mencoba untuk menahan dorongan untuk mencabut.
  • Rasa puas atau lega setelah rambut tercabut.
  • Adanya kehilangan rambut yang nyata, seperti rambut yang lebih pendek atau tipis, pitak pada kulit kepala atau area lain pada tubuh, termasuk bulu mata atau alis mata yang tampak jarang atau tidak ada.
  • Memiliki preferensi untuk tipe rambut tertentu dan melakukan ritual tertentu saat mencabut rambut.
  • Menggigit, mengunyah, atau menelan rambut yang tercabut.
  • Bermain dengan rambut yang tercabut, serta menempelkannya pada bibir atau wajah.
  • Berulang kali mencoba untuk menghentikan atau mengurangi tindakan mencabut rambut, tapi tidak berhasil.
  • Bermasalah di tempat kerja, sekolah atau situasi sosial berkaitan dengan tindakan mencabuti rambut.
2 dari 3 halaman

Bagaimana cara mengobati trikotilomania?

Pada sebagian orang dengan gangguan trikotilomania, mencabut rambut dapat merupakan kegiatan yang terfokus atau disengaja untuk menghilangkan ketegangan atau stres. Namun, bagi sebagian lainnya, aktivitas mencabut rambut dapat terjadi tanpa disadari, misalnya saat sedang bosan, membaca, atau menyaksikan siaran televisi, yang untungnya ini tidak dialami Sara. Meski demikian, orang yang sama juga dapat melakukan pencabutan rambut baik secara disadari maupun tidak, bergantung dari situasi dan suasana hati.

Bagi sebagian orang, trikotilomania mungkin ringan dan umumnya bisa ditangani. Namun, untuk beberapa pengidap lainnya, dorongan kompulsif untuk menarik rambut bisa dirasakan sangat kuat.

“Kondisi ini merupakan suatu gangguan psikologis dan harus segera diatasi. Untuk itu, penderita perlu berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis psikiatri. Dokter akan melakukan wawancara secara mendalam untuk menggali apa penyebabnya. Selanjutnya, akan diberikan psikoterapi serta terapi obat agar penderita dapat mengontrol keinginan untuk mencabuti rambut di tubuh,” dr. Sara menjelaskan. Nantinya, bila kondisi sudah membaik, perawatan rambut akan diterapkan demi menumbuhkannya kembali.

Trikotilomania dapat menyerang siapa saja, termasuk seorang supermodel seperti Sara Sampaio sekali pun. Penyebab jenis gangguan mental ini belum diketahui secara pasti dan belum ada metode yang dapat mencegah terjadinya kondisi ini. Jadi jika Anda menemukan adanya gejala-gejala yang disebutkan di atas segera periksakan diri ke psikiater supaya kondisinya tidak memburuk.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar