Sukses

Wajib Waspada, Neuropati Kini Banyak Menyerang Anak Muda

Menurut penelitian, 1 dari 4 orang merasakan gejala neuropati pertama kali di usia muda.

Klikdokter.com, Jakarta Neuropati, atau gangguan saraf, bisa terjadi pada siapa saja. Anak muda, orang paruh baya, lansia. Tapi faktanya, kini 1 dari 4 orang merasakan gejala neuropati pertama kali di  usia 26-30 tahun. Demikian menurut dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat, pada konfefensi pers yang diselenggarakan Merck, Selasa (31/7) siang.

“Hal ini ditunjang oleh faktor gaya hidup dengan aktivitas keseharian yang terus-menerus dan berulang, seperti beraktivitas dengan gadget, mengendarai motor atau mobil, duduk dengan posisi yang sama dalam waktu yang lama, dan mengetik dengan komputer,” katanya.

Jika dilihat dari studi klinis 2018 NENOIN (penelitian nonintervensi dengan vitamin neurotropik), sering beraktivitas dengan gadget menempati urutan pertama sebagai penyebab utama neuropati dengan angka 61,5% Disusul oleh mengendarai motor dan mobil 58,5, dan duduk lama di posisi yang sama 53,7%. Selebihnya adalah gerakan yang berulang, mengetik di komputer, main games, dan memakai sepatu hak tinggi.

Dikatakan oleh dr. Manfaluthy, lebih dari 50% masyarakat melakukan aktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang berisiko neuropati. Dengan demikian, Anda pun dapat terkena neuropati jika tidak memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Salah satu contoh gangguan saraf yang sering ditemui dr. Manfaluthy adalah carpal tunnel syndrome, yang bisa terjadi salah satunya karena sering mengetik. “Dalam kondisi parah, CTS ini bisa menyebabkan rasa nyeri dan membuat fungsi tangan menjadi terbatas.”

1 dari 2 halaman

Bagaimana mencegah neuropati

Neuropati yang terjadi pada anak muda tak hanya disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari yang telah dijelaskan. “Neuropati memiliki beragam jenis, seperti neuropati akibat penyakit sistemik (menyerang sistem tubuh, contohnya diabetes), neuropati focal, neuropati karena keracunan, neuropati karena kekurangan vitamin B,” ujar dr. Manfaluthy.

Gejala neuropati yang harus diwaspadai meliputi mati rasa yang bersifat sementara atau permanen; kesemutan, kram, nyeri seperti ditusuk atau terbakar, lebih sensitif terhadap sentuhan; kelemahan pada otot; kelumpuhan; dan gangguan pada buang air kecil dan fungsi seksual. Tapi pada beberapa orang, bisa juga neuropati ini tidak menimbulkan gejala.

Bagi Anda yang memiliki diabetes juga harus waspada dengan neuropati. Jika sudah ada neuropati, maka Anda mesti lebih berhati-hati. “Infeksi makin parah ketika dialami orang dengan diabetes. Pada orang dengan diabetes, angka prevalensi neuropati meningkat menjadi 50% atau 1 dari 2 penderita,” ujar dr. Manfaluthy.

Mencegah pastinya selalu lebih baik daripada mengobati. Ada berbagai cara yang dapat Anda lakukan untuk menghindarkan diri dari neuropati, seperti olahraga rutin, istirahat dengan cukup, serta mengelola pola makan. Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengonsumsi vitamin neurotropik satu kali sehari. 

Dr. Yoska selaku Medical Manager Merck Consumer Health mengatakan, “Studi  klinis yang dilakukan MERCK yang telah dipublikasikan di jurnal medis tahun 2018 membuktikan bahwa konsumsi vitamin neurotropik tak hanya mencegah tapi juga mengurangi gejala kerusakan saraf tepi seperti kesemutan dan kebas hingga 62,9% dalam 3 bulan periode konsumsi.”

Menurut dr. Yoska, vitamin neurotropik terdiri atas vitamin B1, B6, dan B12 yang berfungsi memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik.

Untuk mencegah terserang neuropati, penting untuk menerapkan gaya hidup sehat dalam keseharian. Jika Anda merasa memiliki gejala neuropati, segera periksakan diri ke dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar