Sukses

Mengatasi Trauma pada Anak Korban Gempa

Selain berdampak pada hancurnya berbagai infrastruktur dan perekonomian, gempa juga dapat menimbulkan trauma, terutama pada anak.

Klikdokter.com, Jakarta Gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu 29 Juli memporak-porandakan sejumlah bangunan rumah dan infrastruktur di wilayah tersebut. Gempa berkekuatan 6,4 skala richter itu juga menelan korban sekitar 16 jiwa, 233 luka-luka berat, dan 120 luka ringan. Tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, gempa juga menyebabkan gangguan trauma pascabencana, terutama pada anak-anak.

Seperti dikatakan Florence Halstead, peneliti Human Geography dari University of Hull, gempa dapat menyebabkan tingkat kecemasan dan trauma emosional yang tinggi bagi anak-anak.

"Hal ini pasti dapat mengarah pada perubahan perilaku anak, dan mungkin termasuk hal-hal seperti amarah, insomnia, hilangnya nafsu makan, dan penarikan sosial," tulis Florence seperti dikutip dari theconversation.com.

Kenali gejala gangguan trauma pascabencana

Sementara itu, menurut dr. Reza Fahlevi dari Klikdokter, gangguan trauma pascabencana merupakan kondisi terganggunya kesehatan mental karena dipicu oleh kejadian yang mengerikan, seperti gempa bumi atau bencana-bencana lain. Biasanya seseorang bisa mengalami trauma pascabencana setelah mengalami sendiri peristiwa tersebut, atau melihat seseorang yang mengalami kejadian tersebut.

Gejala-gejala gangguan trauma pascabencana yang timbul dan bisa dialami oleh seseorang yang pernah mengalami peristiwa tersebut, di antaranya:

  • Sering teringat atau terbayang kejadian pemicu trauma tersebut
  • Mengalami gangguan tidur
  • Sering memimpikan kejadian tersebut
  • Kecemasan yang tidak dapat dihindari
  • Mudah marah
  • Sulit berkonsentrasi

Dalam kondisi pascabencana, anak-anak yang juga menjadi korban sering melihat anggota keluarga mengalami stres dan dilanda rasa khawatir yang sangat besar. Mereka terpaksa tinggal di penampungan sementara dan mengalami banyak perubahan pada rutinitas dan lingkungan mereka.

Mengatasi trauma pada anak

Setelah terjadinya bencana – banjir  gempa bumi, atau tsunami – sangat penting untuk memberikan dukungan kepada korban yang merasa trauma, terutama anak-anak. Keluarga dan orang sekitar memiliki peran besar dalam menyembuhkan trauma pada anak setelah kejadian mengerikan tersebut.

Menurut Florence Halstead, peneliti bidang Human Geography dari University of Hull, ada beberapa cara untuk mengatasi trauma pada anak korban bencana. Berikut ini di antaranya:

1. Ajak anak-anak untuk bicara

Anak-anak korban bencana sering merasa tidak ada yang mau mendengarkan kekhawatiran atau masalah mereka. Di sisi lain, mereka tidak ingin membebani keluarga dan guru mereka dengan kekhawatiran ini.

Penting bagi orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka dalam periode ini. Anda bisa mengajak anak untuk berbicara, bermain game dan menikmati kebersamaan satu sama lain. Selain orang tua, guru di sekolah juga bisa mengajak anak bicara untuk mengurangi rasa khawatir mereka.

2. Libatkan anak-anak dalam kegiatan

Menurut Florence, melibatkan anak-anak korban bencana dalam proses pembersihan dan pemulihan, juga bisa membantu mengatasi trauma mereka. Hasilnya, anak-anak itu jadi memiliki perasaan yang jauh lebih baik terhadap situasi yang mereka alami. Trauma mereka pun sedikit mulai berkurang. 

Tentu saja, jangan memberikan tugas yang besar dan sulit kepada mereka. Berikan tugas yang sesuai dengan kapasitas mereka, tidak melelahkan dan tidak malah membangkitkan rasa trauma.

3. Paparkan fakta kepada anak

Ajarkan pada anak tentang penyebab bencana alam seperti gempa. Ajarkan pula apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama gempa, serta bagaimana dapat melindungi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

4. Ajak anak beraktivitas seperti biasa

Saat berada di lokasi pengungsian dan sekolah anak juga diliburkan karena terdampak oleh gempa, ajak anak untuk beraktivitas seperti biasa. Untuk mengatasi rasa sedih, ketakutan dan trauma yang dialami anak, ada beragam aktivitas yang dilakukan seperti bermain bersama teman-teman yang lain, belajar pengetahuan baru, atau aktivitas lain yang bisa membangkitkan minat dan semangatnya.

Bencana alam seperti gempa yang terjadi di Lombok, memang tidak memilih siapa yang akan menjadi korbannya. Dalam situasi tersebut, anak-anak adalah korban yang paling rentan mengalami trauma. Untuk itu diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk mengatasi trauma yang terjadi pada anak-anak korban bencana. Konsultasi dan bimbingan psikologis dari para relawan dan psikolog yang berkompeten bisa menjadi salah satu solusinya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar