Sukses

Kecanduan Gawai Tingkatkan Risiko Gangguan Mental pada Anak?

Kecanduan gawai yang dialami anak-anak ternyata bisa berbahaya. Pengawasan ketat bisa menghindarkan mereka dari risiko gangguan mental.

Klikdokter.com, Jakarta Gawai atau gadget adalah suatu benda yang rasanya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masa kini. Tidak hanya dialami oleh orang dewasa, anak pun sudah mulai kecanduan gawai.

Generasi menunduk, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi anak-anak zaman sekarang. Ini karena mereka lebih sering menunduk melihat gawai miliknya, dibanding berbicara dengan orang sekitar.

Lebih mirisnya lagi, anak zaman sekarang juga sudah biasa memegang gawai berjam-jam hanya untuk bermain game. Memang, hal ini dapat mengusir kebosanan. Namun sayang, kebiasaan bermain gawai dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada anak. Tahukah Anda akan hal ini?

Kecanduan gawai

Anak yang kecanduan gawai berisiko lebih tinggi untuk mengalami gaming disorder. Seperti dilansir dari BBC.com, banyak negara sudah mengakui bahwa kondisi tersebut merupakan gangguan mental yang serius, di mana hal ini juga dikonfirmasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Adapun beberapa ciri anak yang sudah kecanduan gawai, antara lain:

  • Tidak bisa mengendalikan keinginan untuk bermain game.
  • Selalu memprioritaskan game daripada kehidupan social.
  • Tidak memandang durasi dalam bermain game.
1 dari 2 halaman

Risiko gangguan mental

Peneliti dari University of Southern California Keck School of Medicine di Amerika Serikat, Adam Leventhal, yakin bahwa anak yang menggunakan gawai berlebihan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami ADHD.

ADHD atau Attention Deficit and Hyperactivity Disorder adalah gangguan otak dengan berbagai gejala, misalnya kurang fokus, perilaku hiperaktif, dan impulsif. Hal-hal ini pada akhirnya dapat mengganggu perkembangan atau fungsi otak.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association itu menganalisis 660 remaja yang suka bermain game lewat gawai selama dua tahun. Hasilnya mengatakan, 24,6 persen anak yang menjadi partisipan mengalami gejala ADHD.

Tak sebatas itu, anak-anak tersebut juga menjadi rentan mengalami gangguan mental terhadap makanan atau eating disorder. Ini berarti, anak yang kecanduan gawai akan lupa dengan aktivitas makan sehingga mereka akan memiliki pola makan yang berantakan. Saat dewasa, anak yang mengalami keadaan ini akan menjadi susah makan.

Masih menuai perdebatan

Meski hasilnya terlihat jelas dan masuk akal, para ahli lain masih memperdebatkan keputusan final tentang gangguan mental akibat kecanduan gawai dan game. Pasalnya, peneliti lain, Killian Mullan, menyebutkan bahwa anak yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain gawai tidak serta-merta mengesampingkan aktivitas lain.

"Temuan pada penelitian kami menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pendukung kegiatan lainnya, seperti pekerjaan rumah," ujar Mullan.

Senada dengan itu, Profesor Kesehatan Internasional dari Johns Hopkins Blooomberg School of Public Health, Bruce Lee, juga tidak menyebut bahwa kecanduan game adalah masalah mental serius.

"Game dapat mengurangi stres, meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah, meningkatkan koordinasi fisik, serta hal-hal positif lain," kata Lee.

Jadi, bermain gawai atau game sebenarnya tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan mental anak. Namun untuk ini, orang tua tetap perlu memberikan pengawasan penuh, agar si Kecil tak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain gawai atau game. Jika Anda melihat anak Anda mulai kecanduan gawai, segera ajak bicara atau konsultasikan dengan psikolog untuk mencari solusi terbaik.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar