Sukses

Makanan dengan Pengawet Picu Gangguan Kesehatan Anak

Makanan berpengawet marak ditemui dan dikonsumsi, termasuk oleh anak. Apa bahaya mengonsumsinya bagi kesehatan anak? Simak di sini.

Pengawet pada makanan pasti sudah sangat umum ditemui. Dengan adanya bahan pengawet di dalam beragam makanan maupun pembungkusnya, sebetulnya sulit untuk menghindari paparannya sama sekali.

Selain pada orang dewasa, bahaya pengawet tentu juga mengintai kesehatan anak. Karena tubuh anak masih berkembang, lebih banyak risiko yang dapat merugikan.

Karena berat badannya yang lebih rendah dari orang dewasa, dosis kimia apa pun tentunya akan lebih tinggi kadarnya apabila dikonsumsi anak.

Lalu, usia anak yang masih muda membuat bahan kimia bisa lebih lama menyebabkan kerusakan terhadap tubuh.

Apa saja bahaya makanan berpengawet? Berikut ulasannya!

1. Terganggunya Kelenjar Endokrin

Kandungan bisfenol (seperti BPA) yang terdapat di wadah plastik polikarbonat dapat mengganggu kerja kelenjar endokrin.

Bisfenol bisa berperan sebagai hormon estrogen dan mampu meningkatkan kadar lemak tubuh, serta menyebabkan masalah pada daya tahan tubuh dan sistem saraf.

Kandungan ini sering ditemukan pada kaleng soda, plastik dengan kode 3 atau 7, dan bon kasir.

Dulu, bisfenol sering ditemukan pada botol plastik bayi dan gelas anak. Namun, sekarang produksinya sudah dilarang.

1 dari 4 halaman

2. Beracun bagi Jantung

Kandungan phthalate dalam wadah penyimpanan yang digunakan dalam produksi makanan, selang air, dan mainan yang dapat ditiup dapat memicu kardiotoksisitas atau bersifat racun terhadap jantung.

Hal ini dapat memicu penyakit jantung. Tak hanya itu, karena dapat bersifat sebagai hormon, phthalate juga dapat mengganggu perkembangan alat kelamin laki-laki.

Artikel Lainnya: Makanan dan Minuman Ini Efektif untuk Daya Ingat Anda

3. Penurunan Daya Tahan Tubuh

Perfluoroalkyl chemicals (PFCs) dalam kertas anti-minyak dan kertas karton dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Caranya, dengan menurunkan respons daya tahan tubuh terhadap vaksin, memicu perubahan metabolisme tubuh, dan bahkan bisa mengganggu kelenjar tiroid.

2 dari 4 halaman

4. Pemicu Tumbuhnya Sel Kanker

Nitrat dan nitrit yang sering ditambahkan sebagai pengawet dan penguat warna, terutama pada daging, mampu meningkatkan risiko terjadinya sebagian penyakit kanker.

Selain itu, nitrat dan nitrit pun bisa mengganggu kelenjar tiroid.

5. Rendahnya Berat Badan Lahir

PFCs juga dapat memicu rendahnya berat badan lahir bayi dan mengganggu sistem daya tahan tubuh.

3 dari 4 halaman

6. Memicu Obesitas

Risiko obesitas pada anak dapat meningkat akibat phthalate. Kandungan ini ditemukan pada bungkus plastik, kuteks, hairspray, losion, dan wewangian.

Artikel Lainnya: 3 Kiat Bunda Ajari Si Kecil untuk Tidak Jajan Sembarangan

7. Gangguan Hormon Tiroid

Fungsi kelenjar tiroid dapat terganggu akibat perklorat, suatu senyawa yang ditemukan pada bungkus makanan kering untuk mengurangi listrik statis.

Perklorat juga bisa mengganggu perkembangan otak. Meski bahan pengawet sulit dihindari, Anda tetap bisa mengurangi paparannya dengan melakukan tips di bawah ini:

  • Beli lebih banyak buah yang segar atau dibekukan.
  • Kurangi konsumsi daging yang banyak diproses, terutama saat hamil.
  • Karena suhu panas dapat menyebabkan plastik meleleh dan membuat BPA dan phthalate masuk ke makanan, hindari menggunakan wadah plastik di dalam microwave.
  • Gunakan gelas dan peralatan makan besi tahan karat dibandingkan plastik.
  • Hindari menggunakan plastik dengan kode 3, 6, dan 7. Kode ini dapat dilihat di bagian bawah wadah.
  • Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah memegang bahan makanan. Jangan lupa bersihkan buah dan sayuran sebelum diolah.

Selain itu, kurangi konsumsi makanan cepat saji dan makanan yang melalui banyak proses. Tak lupa, bacalah label dengan teliti sebelum membeli dan menggunakan suatu produk.

Dengan begitu, Anda dapat mengurangi paparan bahan pengawet terhadap anak. Konsultasi ke dokter seputar keamanan makanan untuk anak bisa lebih mudah lewat LiveChat dari Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar