Sukses

Waspada, Kanker Juga Bisa Muncul Akibat Dry Cleaning

Kanker bisa muncul dari mana saja, salah satunya dry cleaning. Berikut penjelasannya secara medis.

Klikdokter.com, Jakarta Kanker timbul akibat mutasi gen dan faktor lainnya yang terjadi dalam tubuh. Ada banyak sekali faktor risiko kanker, dari riwayat keluarga hingga merokok. Tapi mungkin Anda tidak akan menyangka bahwa baru-baru ini sebuah penelitian mengaitkan penyakit tersebut dengan metode pencucian dry cleaning.

Seperti Anda ketahui, dry cleaning adalah proses pencucian pakaian yang tidak melibatkan air sama sekali. Namun, proses ini tetap menggunakan cairan kimia dan berbagai pelarut untuk membersihkan kotoran. 

Dry cleaning diyakini sebagai metode alternatif mengingat air dapat merusak kain-kain tertentu seperti wol, kulit, dan sutra. Mesin cuci juga dapat menimbulkan kerusakan pada kancing, renda, payet, dan hiasan halus lainnya.

Namun sebenarnya, metode dry cleaning juga perlu dipertanyakan. Apalagi beberapa organisasi kesehatan dan lingkungan menilai bahan pelarut perkloretilena (perc) yang biasa dipakai untuk dry cleaning bisa menyebabkan kanker.

Dry cleaning dan hubungannya sebagai penyebab kanker

Sejumlah organisasi kesehatan termasuk Environment Protection Agency (EPA) dan International Agency for Research on Cancer (IARC) mengelompokkan perc sebagai racun yang masih banyak digunakan di industri dry cleaning. Tak hanya oleh industri dry cleaning, perc juga digunakan sebagai pembersih logam dalam pembersih industri.

Pada 2012 silam, EPA mengklasifikasikan perc sebagai kemungkinan penyebab karsinogen pada manusia. Paparan zat kimia yang berkepanjangan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.

Pada siaran pers EPA tahun 2012 lalu, studi menunjukkan adanya hubungan antara paparan perc dan beberapa jenis kanker, khususnya kanker kandung kemih, limfoma non-Hodgkin, dan multiple myeloma. Bahkan di tahun yang sama, lembaga ini menemukan perc sebagai sumber karsinogen berdasarkan bukti dari data epidemiologi dan penelitian pada hewan.

Paparan terhadap perc menjadi berbahaya tidak melalui pakaian, melainkan dari udara atau tanah. Berdasarkan penjelasan EPA, efek paparan perc jangka pendek atau menghirupnya dalam jumlah tinggi selama rentang waktu singkat adalah pusing, sakit kepala dan kehilangan kesadaran.

Pada paparan jangka panjang, perc dapat meningkatkan risiko kanker. Hal ini menempatkan pekerja dry cleaning dan orang-orang yang tinggal di dekat toko laundry dalam posisi yang terancam. Risiko tinggi tersebut, mungkin saja terus meningkat seiring naiknya popularitas metode pencucian dry cleaning.

1 dari 2 halaman

Risiko lainnya dari dry cleaning

Usut punya usut, senyawa perc yang tertinggal di baju setelah proses dry cleaning dapat menempel di kulit atau terhirup saat bernapas, lalu masuk ke paru dan aliran darah. Dalam jumlah sedikit, senyawa ini dapat dikeluarkan dari tubuh melalui urine.

Namun, bila semakin sering terpapar, maka jumlahnya akan semakin banyak dan menumpuk dalam tubuh. Menurut penuturan dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, hal inilah yang kemudian memicu timbulnya kanker.

“Tak sebatas menjadi penyebab kanker, senyawa perc ternyata juga menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Senyawa itu diketahui dapat menyebabkan sakit kepala, rasa ingin pingsan, hingga kerusakan otak dan sel saraf yang lebih parah,” ujarnya.

Menurut dr. Sepriani, demi keamanan bersama dan menghindari risiko kanker, akan lebih baik jika Anda menggunakan metode konvensional dalam mencuci pakaian. Bagaimana bila pada label pakaian tertulis “dry-clean-only”? Jangan khawatir, tak sedikit orang yang membersihkan pakaian berlabel demikian dengan cara cuci biasa, dan pakaian mereka tetap baik-baik saja setelahnya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar