Sukses

Ini Bedanya Gejala ADHD pada Anak Laki dan Perempuan

Tahukah Anda bahwa gejala ADHD atau gangguan hiperaktif pada anak laki-laki dan perempuan tidaklah sama? Cari tahu perbedaannya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta ADHD alias Attention Deficit and Hyperactivity Disorder termasuk dalam salah satu gangguan psikologis anak. Keadaan ini terdiri atas tiga gejala utama, yaitu hiperaktif, impulsif, dan gangguan atensi.

ADHD pada anak sering tidak terdeteksi. Saat mulai masuk sekolah, orang tua biasanya mendapatkan laporan guru mengenai perilaku anak yang tidak dapat diam. Dari hal ini, barulah gangguan ADHD pada anak terdeteksi dan dieksplorasi lebih lanjut.

Kenali gejala ADHD pada anak

Pada anak laki-laki dan perempuan, ADHD memberikan gejala yang berbeda. Biasanya, ADHD yang dialami oleh anak laki-laki akan memberikan gambaran berupa perilaku impulsif dan ekspresif, seperti:

  • Tidak bisa diam
  • Sering naik ke atas meja atau kursi
  • Sulit ditenangkan
  • Sering menggangu teman atau orang di sekitarnya
  • Sulit memusatkan kosentrasi terhadap suatu hal

Sementara pada anak perempuan, ADHD umumnya memberikan gejala yang lebih ringan sehingga kadang-kadang tidak terdeteksi oleh orang tua atau guru. Gejala yang dimaksud, di antaranya:

  • Sering berkeliling kelas atau berpindah dari satu meja ke meja lain tanpa menggangu teman-temannya.
  • Sulit mengerjakan pekerjaan rumah karena lupa atau mudah teralihkan dengan hal lain.
  • Tidak efisien dalam belajar, sehingga hasil ujian yang diperoleh tidak maksimal.
  • Sulit berteman baik. Anak perempuan dengan ADHD mungkin memiliki banyak teman lantaran sifatnya yang menyenangkan. Akan tetapi, ia sulit mendapatkan teman dekat karena dirinya sulit mengikuti pembicaraan, sering terlihat cemas, dan plin-plan.
  • Sering lupa.
  • Terlalu banyak bicara.
  • Banyak ide, namun tidak bisa mewujudkannya.
  • Sering terlambat.
  • Cepat mengalami perubahan mood.
1 dari 2 halaman

Deteksi dini ADHD pada anak

Bila ADHD pada anak tidak dideteksi dan segera diatasi, dampak yang akan muncul adalah prestasi belajar yang buruk, serta kemungkinan terjadinya gangguan mental. Jika keadaan ini terjadi berkelanjutan, gangguan cemas dan depresi tingkat tinggi sangat mungkin untuk terjadi saat dirinya memasuki usia remaja. Ujung-ujungnya, mereka akan kesulitan membina interaksi sosial dengan teman atau anggota keluarganya.

Tak sekadar itu, penelitian juga menyebutkan bahwa penderita ADHD memiliki risiko kecelakaan saat mengemudi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal. Anak perempuan dengan ADHD juga cenderung melakukan perilaku berisiko, seperti seks bebas dan penggunaan obat-obatan terlarang.

Nah, jika Anda tak ingin si Kecil berakhir pada kondisi yang demikian, bersikaplah waspada terhadap gejala atau perilaku yang merujuk pada kondisi ADHD. Bila anak terbukti melakukannya, apalagi hingga berulang-ulang, tak ada salahnya untuk membawanya ke dokter spesialis atau psikiater anak.

Dengan membawanya ke dokter atau psikiater, anak bisa mendapatkan pemeriksaan dan skrining lengkap. Jika hasilnya menunjukkan bahwa anak mengalami ADHD, dirinya akan diberikan penanganan berupa terapi perilaku dan obat-obatan untuk menekan tingkat keparahan gejala ADHD. Pada akhirnya, perilaku anak dapat kembali ke tahap yang normal, sehingga dirinya akan memiliki pola pikir yang lebih baik dan terarah.

Jangan anggap sepele gangguan ADHD pada anak. Lakukan deteksi dini dan segera bawa ke dokter spesialis atau psikiater jika Anda menduga bahwa si Kecil menderita gangguan yang satu ini. Anda tak ingin masa depan si Kecil meredup gara-gara ADHD, bukan?  

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar