Sukses

Perubahan Iklim Rentan Picu Keinginan Bunuh Diri

Menurut penelitian, ada hubungan antara perubahan iklim dengan meningkatnya kasus bunuh diri. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Perubahan iklim menyebabkan suhu dunia kian panas dan cuaca yang ekstrem makin sering terjadi. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dalam 130 tahun terakhir, suhu bumi menghangat sekitar 0,85 Celsius. Dan menurut penelitian, cuaca panas ini dapat melejitkan kasus bunuh diri.

Berdasarkan penjelasan dr. Anita Amalia Sari dari KlikDokter, perubahan iklim memengaruhi kesehatan dalam berbagai hal. Bahkan, perubahan iklim dapat memperparah ancaman kesehatan yang ada dan membuat bahaya baru.

“Pemanasan global menyebabkan kondisi bumi kian panas, dan hal ini disebabkan oleh meningkatnya kadar CO2 di udara. Dalam 50 tahun terakhir, aktivitas manusia seperti melonjaknya konsumsi minyak bumi, batu bara serta berkurangnya jumlah hutan di bumi merupakan penyebab peningkatan kadar CO2,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Anita memperkirakan bahwa antara tahun 2030-2050, perubahan iklim dapat menyebabkan tambahan 250.000 kematian per tahun. Kematian tersebut biasanya disebabkan oleh malnutrisi, malaria, diare dan tekanan panas.

Tak pelak, hal itu juga dapat memengaruhi aspek sosial dan lingkungan penentu kesehatan, seperti udara bersih, air minum yang aman, kecukupan makanan dan tempat perlindungan yang aman. Bahkan dalam tahap lanjut, perubahan iklim rentan memicu hasrat untuk bunuh diri. Bagaimana itu bisa terjadi?

1 dari 2 halaman

Hubungan antara perubahan iklim dan bunuh diri

Dilansir CNN, sebuah studi baru menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change tersebut menunjukkan bahwa ketika suhu panas yang tidak normal terjadi dalam sebulan, tingkat bunuh diri bisa lebih banyak pada bulan itu dibandingkan saat suhu normal.

Lalu, ketika peneliti menggunakan data untuk memprediksi lebih lanjut, didapati bahwa tingkat bunuh diri di Amerika Serikat dan Meksiko meningkat pada setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celcius.

“Kami menemukan hubungan yang konsisten antara peningkatan suhu dan peningkatan risiko bunuh diri,” kata Marshall Burke, asisten profesor di Department of Earth System Science di Stanford University dan penulis utama penelitian tersebut.

Burke menambahkan bahwa temuan penelitian tersebut tidak bermaksud mengatakan bahwa perubahan iklim adalah satu-satunya faktor – atau faktor terpenting – dari bunuh diri. “Bunuh diri adalah fenomena yang sangat kompleks. Hal ini masih belum terlalu dipahami, dan banyak faktor risiko lainnya di luar iklim,” katanya.

Selain itu, para peneliti memperkirakan bahwa pada tahun 2050, perubahan iklim dapat dikaitkan dengan total 14.020 kasus bunuh diri di Amerika Serikat dan 7.460 kasus bunuh diri di Meksiko. Itu baru dua negara saja, belum negara daerah lain yang tak terjangkau oleh para peneliti.

Selanjutnya, para peneliti menelaah apakah suhu bulanan juga berkorelasi dengan pola posting di media sosial yang mengandung kata kunci tertentu, seperti “depresi”, “kesepian” atau “bunuh diri”. Hasilnya, kenaikan 1 derajat Celcius dalam suhu rata-rata bulanan meningkatkan kemungkinan ekspresi bahasa depresif sebesar 0,79 persen.

Seperti yang dikatakan Burke, temuan tersebut hanya menunjukkan hubungan antara peningkatan suhu dan tingkat bunuh diri yang abnormal. Dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk menentukan mengapa kaitan antara dua hal ini bisa terjadi.

Meski begitu, Anda tetap harus menjaga diri dengan perubahan iklim ini. Selalu waspada dengan kesehatan fisik maupun kesehatan mental Anda. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau mencurigai orang terdekat memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, sangat disarankan untuk segera menghubungi psikolog atau psikiater. 

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar