Sukses

Antisipasi Difteri Merebak Lagi, Kenali Cara Penularannya

Baru-baru ini, difteri kembali merebak di berbagai daerah di Indonesia. Untuk mengantipasinya, kenali cara penularan penyakit ini.

Klikdokter.com, Jakarta Tahun lalu masyarakat Indonesia dibuat khawatir akan penyakit difteri yang menyerang beberapa daerah di Indonesia. Beberapa minggu terakhir, informasi menyebutkan bahwa di beberapa kota di Indonesia seperti di Semarang dan Garut, difteri muncul lagi. Dengan mengenali cara penularannya, akan lebih mudah bagi Anda dalam melakukan upaya pencegahan terhadap penyakit difteri yang merebak kembali.

Berbagai cara penularan difteri

Gejala difteri berupa nyeri di tenggorokan yang disertai demam dan terdapat tanda khas berupa selaput bewarna putih atau abu – abu di tenggorokan. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria yang mampu menghasilkan racun perusak jaringan pada manusia, terutama pada hidung dan tenggorokan.

Bakteri tersebut dapat mudah menyebar kepada orang lain, penularannya dengan cara yang sederhana, seperti:

  • Percikan ludah penderita saat bersin atau batuk yang kemudian dihirup orang di sekitarnya melalui udara.
  • Barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri penyebab difteri seperti pada mainan, remote, tissue bekas penderita difteri, handuk, gelas penderita yang belum dicuci.
  • Bersentuhan langsung dengan luka di kulit penderita.

Selain itu terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit difteri seperti:

  • Tidak mendapatkan vaksinasi difteri.
  • Memiliki gangguan sistem imun di tubuh seperti penyakit AIDS.
  • Memiliki sistem imun yang lemah seperti pada anak-anak dan orang lansia.
  • Tinggal di lingkungan yang padat penduduk.
1 dari 2 halaman

Pemberian vaksin difteri sesuai usia

Untuk memberantas penyakit difteri ini perlu adanya deteksi dini dengan melakukan pencegahan, yaitu dengan melakukan imunisasi difteri sesuai jadwal agar vaksin yang diberikan dapat bekerja secara optimal.

Vaksin untuk imunisasi difteri dibagi dalam 3 jenis, yaitu: vaksin DPT-HB-HiB, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda secara bertahap.

  1. Imunisasi dasar pada bayi (di bawah usia 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-HiB dengan jarak masing-masing 1 bulan.
  2. Imunisasi lanjutan (booster) saat anak usia 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-HiB.
  3. Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 1 SD  sebanyak 1 dosis vaksin DT.
  4. Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 2 SD  sebanyak 1 dosis vaksin Td.
  5. Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 5 SD  sebanyak 1 dosis vaksin Td.
  6. Imunisasi ulangan setiap 10 tahun sekali pada orang dewasa.

Perlindungan di atas dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup meskipun tidak sebesar 100%. Jika sudah pernah mendapatkan vaksin, Anda masih dapat terkena difteri, namun tidak akan memberikan efek separah orang yang belum pernah mendapatkan vaksin. Oleh sebab itu, jika Anda mencurigai ada orang yang menderita difteri, pastikan gunakan masker di lingkungan tempat tinggalnya.

Selain dengan melakukan imunisasi, asupan makanan yang sehat dan bergizi serta olahraga secara teratur sangat disarankan. Upaya ini dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh Anda, sehingga mampu melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Difteri bisa merebak kembali salah satunya karena kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini. Setelah mengenali berbagai gejala difteri seperti di atas, jangan ragu untuk mengunjungi dokter saat Anda atau salah satu anggota keluarga mengalami tanda-tanda tersebut, agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar