Sukses

Yuk, Kenali Gejala Difteri pada Anak!

Difteri kembali merebak. Kenali berbagai gejala difteri yang mungkin saja terjadi pada anak Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Setelah tahun 2017 lalu Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan total 656 kasus dan 30 kematian anak akibat difteri, kini penyakit ini datang menyerang kembali. Gejala difteri bisa bermacam-macam, jadi Anda perlu mengetahuinya agar dapat melakukan penanganan dini.

Berdasarkan penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), faktor yang menyebabkan difteri kembali muncul adalah menurunnya imunitas suatu kelompok akibat dari program imunisasi yang tidak lengkap, hingga adanya gerakan antivaksin di masyarakat.

Tak hanya itu, tidak adanya pelaksanaan vaksin ulang dalam kurun waktu 10 tahun serta kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit difteri yang masih kurang juga turut memicu wabah difteri terulang kembali.

Kejadian Luar Biasa (KLB) 2017 di Indonesia

Data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada akhir November 2017 menyatakan bahwa dari kasus difteri pada anak yang terjadi di Indonesia, daerah penyumbang kasus terbanyak jatuh pada Provinsi Jawa Timur dengan 271 kasus dan 11 kematian akibat difteri.

Angka ini kemudian disusul oleh Provinsi Jawa Barat dengan 95 kasus dan 10 kematian yang disebabkan oleh penyebaran penyakit difteri.

Tren kasus difteri di Indonesia sendiri bisa diketahui dari naiknya angka kejadian yang sebelumnya terjadi 252 kasus pada 2015, meningkat menjadi 415 di tahun berikutnya, hingga menyebabkan Indonesia mengalami KLB.

Itulah sebabnya pada Desember 2017 kembali digalakkan imunisasi difteri di Indonesia dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) dengan memberikan vaksin DPT-HB, DT dan Td pada anak, penguatan imunisasi dasar pada bayi dan imunisasi lanjutan pada balita serta anak sekolah dasar.

Pelaksanaan imunisasi ulang di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pun dilakukan untuk mencegah kenaikan angka kejadian.

Untuk menangani hal tersebut, Kemenkes pun bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat dengan memberikan pengobatan pada penderita difteri dan memberikan obat untuk orang yang melakukan kontak erat dengan penderita.

1 dari 2 halaman

Kenali gejalanya pada anak

Dilansir dari Kidshealth, difteri dapat menyebar dengan mudah dan mempengaruhi organ hidung serta tenggorokan. Anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa di atas 60 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terserang difteri.

Saat  anak terkena difteri, kondisi fatal bisa terjadi karena anak mengalami sesak napas. Kemungkinan masalah lain yang terjadi adalah gagal ginjal atau timbulnya masalah jantung akibat toksin difteri yang dilepaskan dalam darah.

Agar dapat melakukan penanganan sejak dini, Anda perlu mengenali berbagai gejala difteri.

Dijelaskan oleh dr. Kartika Mayasari kepada KlikDokter bahwa gejala difteri yang paling terlihat dan umum dirasakan oleh penderita adalah demam yang tidak begitu tinggi (sekitar 38 derajat celsius), munculnya lapisan abu-abu tebal pada tenggorokan dan mudah berdarah jika dilepaskan.

Gejala umum lainnya yang perlu Anda waspadai menurut dr. Kartika adalah sebagai berikut:

  • demam menggigil,
  • leher terlihat bengkak (bull neck),
  • batuk,
  • sakit tenggorokan,
  • sesak napas,
  • suara serak,
  • kesulitan menelan,
  • kulit pucat, dingin dan berkeringat,
  • jantung berdetak cepat

Dari berbagai gejala di atas, dr. Kartika kemudian mengingatkan agar Anda dan keluarga lebih waspada saat melakukan kontak dengan penderita.

“Bakteri Corynebacterium diptheriae penyebab difteri menyebar melalui tiga rute, yaitu bersin, kontaminasi barang pribadi seperti penggunaan alat makan yang sama, dan kontaminasi barang yang digunakan secara bersamaan seperti mainan,” terangnya.

Gejala difteri pada anak tidak bisa dianggap remeh. Bila Anda melihat anak mengalami hal yang serupa dengan gejala difteri, segera bawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan tepat dari dokter.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar