Sukses

Konsumsi Pemanis Buatan Picu Rasa Lapar Berlebihan?

Konsumsi pemanis buatan dihubungkan dengan peningkatan rasa lapar yang berujung pada berat badan berlebihan. Berikut ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Penggunaan pemanis buatan pada makanan dan minuman sudah menjadi hal yang lumrah di era sekarang. Meski dapat menjadi sebuah terobosan di dunia pangan, zat yang memiliki nama lain artificial sweetener tersebut diduga dapat mengundang sejumlah masalah kesehatan.

Pada dasarnya, pemanis buatan adalah zat pengganti gula yang tidak mengandung kalori sehingga tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Pemanis buatan yang beredar di pasaran terbagi menjadi beberapa macam, termasuk sakarin, aspartam, sukralosa, neotame, acesulfame-K, dan stevia. Dua jenis pemanis buatan yang paling sering digunakan dalam makanan ataupun minuman adalah aspartam dan sukralosa.

Berdasarkan Food and Drug Administration (FDA), kesemua jenis pemanis buatan yang telah disebutkan di atas terbukti aman bagi kesehatan selama dikonsumsi dalam batas wajar. Sebaliknya, jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus, beberapa penyakit mungkin akan terjadi di kemudian hari.

1 dari 3 halaman

Efek negatif pemanis buatan

Beberapa studi pada hewan dan manusia mempelajari hubungan pemanis buatan dan masalah kesehatan. Diketahui bahwa pemanis buatan yang dikonsumsi berlebihan berhubungan dengan peningkatan rasa lapar. Artinya, semakin banyak pemanis buatan yang dikonsumsi, rasa lapar yang datang juga kian tidak terkendali.

Terkait itu, sebuah studi dari Cell Metabolism mendapatkan hasil bahwa lalat buah yang diberikan pemanis buatan dapat mengonsumsi kalori 30% lebih banyak daripada lalat yang diberikan pemanis alami.

Hal yang sama terjadi pada studi menggunakan mamalia tikus. Peneliti mengemukakan bahwa tikus yang diberikan pemanis buatan mengalami 50% kenaikan konsumsi makanan.

Dua penelitian di atas menyebutkan latar belakang alasannya. Masing-masing studi mengatakan bahwa peningkatan rasa lapar akibat konsumsi pemanis buatan disebabkan oleh ketidakseimbangan antara rasa manis dan energi (kalori) yang diterima.

Jadi, ketika Anda mengonsumsi pemanis buatan, otak menganggap bahwa jumlah energi (kalori) yang didapatkan tubuh masih belum mencukupi. Hal ini membuat otak mengirimkan sinyal lapar berulang-ulang, agar tubuh bisa segera mendapatkan asupan berkalori atau gula alami (mengandung kalori). Jika ini terjadi secara berkelanjutan, peningkatan berat badan hingga obesitas sangat mungkin untuk terjadi.

Tak berhenti di situ, pemanis buatan juga terbukti dapat memberikan efek hiperaktivitas, insomnia hingga penurunan kualitas tidur. Anehnya, ketiga hal tersebut juga ditemukan pada orang yang sedang kelaparan. Adanya temuan ini menguatkan angapan yang menyebut bahwa pemanis buatan dan rasa lapar memiliki suatu ikatan kuat yang tidak kelihatan oleh mata telanjang.

2 dari 3 halaman

Apakah pemanis buatan harus dihindari?

Jawabannya: belum tentu. Studi di atas membuktikan bahwa konsumsi pemanis buatan secara berlebihan dapat menyebabkan peningkatan rasa lapar. Ini berarti, jika pemanis buatan dikonsumsi pada porsi yang tidak terlalu banyak, efek negatif tersebut belum tentu terjadi.

Di samping itu, respons otak terhadap pemanis buatan juga unik dan berbeda-beda pada tiap orang. Karenanya, setiap orang mungkin akan merasakan efek yang berbeda jika dirinya mengonsumsi pemanis buatan.

Bagaimanapun juga, segala sesuatu yang dikonsumsi berlebihan sangat tidak baik bagi kesehatan. Karenanya, Anda dianjurkan membatasi segala sesuatunya agar tidak melebih batas wajar. Ini berlaku untuk semuanya, terlepas apakah itu pemanis buatan, pemanis alami, atau zat-zat lainnya.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar