Sukses

Menyingkap Mitos dan Fakta Seputar Sleep Apnea

Meski terasa asing, sleep apnea tetap tidak terlepas dari balutan mitos yang menyesatkan. Cari tahu fakta medisnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda pernah mendegar istilah sleep apnea? Ini merupakan gangguan tidur akibat adanya masalah pada pernapasan. Akibat kondisi tersebut, aliran udara menjadi terhambat masuk ke paru. Sleep apnea bisa menyebabkan henti napas untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali normal seperti sedia kala.

Berdasarkan penjelasan dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah penyebab tersering kejadian sleep apnea. OSA adalah kurangnya udara yang masuk ke dalam saluran pernapasan akibat sumbatan jalan napas.

“Saat tertidur, otot tubuh menjadi lebih lemas, termasuk otot pada saluran pernapasan atas. Inilah yang menyebabkan tertutupnya saluran napas atas. Sleep apnea merupakan salah satu penyebab nyeri kepala saat bangun tidur di pagi hari,” ujar dr. Alvin.

Di sisi lain, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter menjelaskan bahwa sumbatan jalan napas itu sendiri dapat terjadi pada beberapa keadaan berikut:

  • Lemahnya otot di saluran pernapasan yang menyebabkan saluran pernapasan menutup ketika tidur (karena merokok).
  • Gangguan posisi rahang yang dapat disebabkan oleh otot yang tegang.
  • Obesitas yang menyebabkan deposit lemak di sekitar saluran napas dan leher yang pendek.
  • Sumbatan mekanik di saluran napas, seperti amandel, kelenjar adenoid.
1 dari 2 halaman

Mitos dan fakta sleep apnea

Sampai detik ini, masih banyak mitos yang berkembang seputar sleep apnea, ngorok, dan gangguan sumbatan pernapasan secara keseluruhan. Dilansir dari WebMD, berikut adalah beberapa mitos beserta fakta medis yang sebenarnya:

1. Sleep apnea hanya gangguan mengorok saja

Ini sepenuhnya mitos. Orang yang mengalami sleep apnea bisa benar-benar berhenti bernapas hingga 400 kali sepanjang malam. Jeda tersebut berlangsung 10 hingga 30 detik, dan biasanya diikuti oleh mendengus saat mulai bernapas lagi. Kejadian itu memecah siklus tidur dan dapat membuat orang yang mengalaminya kelelahan di siang hari.

2. Sleep apnea bukan masalah yang berarti

Lagi-lagi, mitos. Semua perilaku yang terjadi ketika tidur akan memiliki dampak pada tubuh dan pikiran orang yang merasakannya. Jadi, ketika kondisi tersebut tak segera ditangani, cedera yang berkaitan dengan pekerjaan, kecelakaan mobil, serangan jantung, dan stroke mungkin saja terjadi.

3. Cuma orang tua yang menderita sleep apnea

Mitos. Dokter memperkirakan bahwa lebih dari 18 juta orang Amerika mengalami sleep apnea. Meski lebih sering terjadi pada usia 40 tahun ke atas, bukan berarti mereka yang masih muda tak dapat mengalami gangguan tidur yang satu ini.

Karena, terlepas faktor dari usia, risiko sleep apnea itu sendiri juga turut dipengaruhi oleh kondisi berat badan berlebih (obesitas), berjenis kelamin pria, dan keturunan Afrika-Amerika atau Latin.

4. Jika susah tidur, minumlah alkohol

Mitos yang sungguh menyesatkan. Ketahuilah, kesulitan tidur tetap mendatangkan perasaan mengantuk, meski Anda tidak bisa mengelola perasaan tersebut untuk mendapatkan tidur yang berkualitas.

Di satu sisi, alkohol dapat melemaskan otot-otot di belakang tenggorokan Anda dan mempermudah jalan napas tersumbat. Jadi, minum alkohol saat kesulitan tidur justru meningkatkan risiko terjadinya sleep apnea.

5. Sleep apnea jarang terjadi pada anak-anak

Ya, ini juga mitos. Sleep apnea tergolong sebagai keluhan umum dalam usia anak-anak. Menurut data yang ada, sebanyak 1 dari 10 anak terbukti mengalami sleep apnea.

Meski demikian, sleep apnea pada anak umumnya memberikan gejala yang ringan. Namun, jika dibiarkan, keadaan bisa berubah menjadi akut, dan bisa meningkatkan risiko terjadinya suatu penyakit di waktu mendatang.

Itu dia fakta medis di balik mitos seputar sleep apnea. Meski nama keluhan ini terasa asing di telinga, bukan berarti Anda terbebas dari incarannya. Karenanya, jika Anda mendeteksi adanya hal-hal yang terkait dengan sleep apnea pada diri sendiri atau anggota keluarga lainnya, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar