Sukses

Remaja Hobi Main Gawai, Tanda Penyakit ADHD?

Remaja yang hobi main gawai dikaitkan dengan kejadian ADHD atau hiperaktif. Cari tahu fakta medisnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda memiliki anak remaja pria yang selalu lekat dengan gawai miliknya? Jika ya, hati-hati. Bisa jadi hal tersebut adalah tanda dirinya terkena ADHD alias hiperaktif. Orang yang mengalami kondisi itu digambarkan selalu bergerak dan sulit berkonsentrasi, sehingga sering dicap “kepala batu”.

Menurut National Institute of Mental Health di Amerika, perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan dengan ADHD adalah 3:1. Meski begitu, beberapa ahli jiwa menganggap bahwa keduanya memiliki jumlah yang sama, walau anak perempuan tidak terdiagnosis sesering anak laki-laki.

Apa itu ADHD?

Berdasarkan penjelasan dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, ADHD merupakan kondisi ketika seseorang tidak memiliki kemampuan penuh untuk mengendalikan dan mengatur tingkah lakunya.

“ADHD dapat menyebabkan gangguan kemampuan akademik dan interaksi sosial dengan teman. Kondisi itu juga berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol dan obat, depresi dan gangguan mental lain, termasuk kenakalan remaja, serta problem dalam pekerjaan,” ungkap dr. Karin.

1 dari 3 halaman

ADHD dan ketergantungan gawai

Walau tidak bisa membuktikan sebab-akibat, sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal JAMA menemukan hubungan antara hobi main gawai dan ADHD alias hiperaktif. Studi dilakukan oleh sekelompok peneliti yang melakukan survei pada lebih dari 3.000 siswa kelas 10 di California pada tahun 2014 silam.

Para peneliti menyebut bahwa ADHD yang dialami oleh remaja dapat menyebabkan mereka sulit dalam menyelesaikan tugas sekolah, serta permasalahan dalam hidup.

Pada awalnya, hobi main gawai tidak menunjukkan keterkaitan signifikan dengan ADHD. Namun lewat penelitian setiap enam bulan sekali, hal tersebut perlahan tampak jelas dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

Pada survei pertama, siswa melaporkan terlibat dalam kegiatan mengoperasikan gawai dalam taraf sering, yakni memeriksa media sosial, mengirim pesan, dan menelusuri gambar serta video di internet. Sepanjang jam pelajaran, setiap 9,5% dari 114 siswa memiliki kecenderungan ADHD.

Terkait hasilnya, para peneliti mencatat bahwa penelitian tersebut tidak dapat menyebabkan hubungan langsung antara menatap layar dan gejala ADHD. Namun, keduanya seolah punya kaitan yang erat. Kendati demikian, kaitan antara kebiasaan menatap layar gawai dan ADHD tak bisa diabaikan begitu saja.

2 dari 3 halaman

Tips mengatasi ADHD

Dering bunyi notifikasi dalam ponsel disebut dapat mengganggu konsentrasi dan keterampilan organisasi pada usia anak dan remaja. Tak hanya itu, keadaan tersebut juga dapat merusak pengendalian diri serta menurunkan taraf kesabaran.

Guna mencegah terjadinya efek negatif tersebut, dr. Karin menjelaskan bahwa gangguan hiperaktif dapat diatasi dengan cara berikut ini:

1. Terapi farmakologi

Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kombinasi obat dan terapi lain memberi hasil paling baik.

Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas, dan hiperaktivitas cukup berat. Pengobatan ini bertujuan untuk menghilangkan gejala dan sangat memudahkan terapi psikologis. Lamanya pengobatan tergantung ada atau tidaknya gejala yang ingin dihilangkan.

2. Terapi perilaku

Terapi psikososial atau perilaku, seperti pelatihan kemampuan sosial, dapat dilakukan sebagai langkah awal mengatasi gejala ADHD yang cukup ringan atau diagnosis ADHD yang masih belum jelas. Namun, untuk jangka panjangnya, terapi perilaku saja tidak cukup dalam menangani ADHD.

3. Terapi kombinasi

Inilah terapi yang diyakini terbaik. Sebab terapi kombinasi, yang merupakan gabungan dari terapi farmakologi dan terapi perilaku, mampu mengelola gejala ADHD dengan adanya konsumsi obat-obatan dan bimbingan perilaku ke arah yang lebih baik.

Remaja yang hobi main gawai memang tidak selalu mengalami ADHD atau gangguan hiperaktif. Namun keduanya tetap memiliki suatu hubungan yang masih diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu, jika Anda curiga memiliki anak remaja yang memiliki beberapa karakteristik ADHD, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter atau psikiater.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar