Sukses

Tips agar Orang Tua Bebas Stres Setelah Anak Divonis Leukemia

Tak meremehkan, tapi orang tua sebaiknya hindari stres setelah anak divonis leukemia. Jika orang tua kuat, anak pun akan merasakan aura positif tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Kanker adalah penyakit yang menakutkan bagi setiap orang karena menyebabkan kematian yang tak sedikit, termasuk anak-anak. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2012, setiap tahunnya penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang, yang 4 persennya adalah anak-anak. Kanker yang umumnya menyerang anak-anak adalah leukemia, dengan penderita berkisar 25-30 persen dari seluruh jenis kanker yang diderita anak-anak di Indonesia.

Mendengar anak divonis leukemia bukanlah sesuatu yang mudah. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk bebas stres karena Anda harus terus mendampingi anak dalam menjalani berbagai perawatan dan perubahan demi proses kesembuhannya. 

Leukemia atau kanker darah merupakan penyakit yang menyerang sel darah dan sumsum tulang. Dalam kondisi normal, sumsum tulang akan menghasilkan sel darah seperti sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit). Pada leukemia, terjadi masalah dalam produksi komponen darah tersebut. Sumsum tulang belakang dipenuhi oleh sel kanker, sehingga produksi sel darah normal terganggu. Sel darah yang sering menjadi sel kanker adalah sel darah putih (leukosit).

Dijelaskan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong kepada KlikDokter, tidak seperti jenis kanker lainnya yang lebih sering dialami saat usia lanjut, kanker darah bisa dialami saat usia muda, tak terkecuali anak-anak.

“Leukemia menjadi salah satu kanker yang paling sering dialami oleh anak-anak. Dari berbagai tipe leukemia, acute lymphoblastic leukemia (ALL) adalah yang paling sering ditemukan pada anak-anak,” kata dr. Sepri.

Diagnosis kanker pada anak adalah pengalaman yang traumatik. Ini karena kanker bisa menghasilkan rasa sakit yang signifikan, ancaman terhadap tubuh sendiri, dan kemungkinan akan kematian. Kaget, sedih, dan bingung adalah reaksi umum yang dirasakan orang tua saat mendengar anak terdiagnosis leukemia.

Tak hanya pada saat itu, nantinya orang tua harus mendampingi anak saat melakukan pengobatan yang bersifat invasif, risiko untuk relaps (kambuhnya penyakit setelah dinyatakan bebas penyakit), dan kemungkinan adanya efek samping. Anak dengan leukemia pasti akan mengalami ketergantungan akibat keterbatasan dan ketidakmampuan sebagai respons dari rasa sakit dan trauma), terutama pada orang tua.

 

1 dari 2 halaman

Tips agar orang tua tidak mengalami stres saat anak leukemia

Meski bagai mimpi buruk, ketika anak divonis leukemia, sebisa mungkin orang tua harus optimis dan tetap semangat, karena anak akan bisa merasakannya. Setelah diagnosis, akan ada banyak sekali hal yang dilakukan sebagai bagian dari pengobatan anak. 

Untuk itu, menghindari stres sangat penting supaya Anda tetap bisa mendampingi dan menyemangati anak. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah hal-hal yang bisa dilakukan:

  1. Memberi tahu anak diagnosis leukemia

Ketika anak divonis leukemia, pertama-tama orang tua harus menerima kenyataan pahit tersebut dengan lapang dada. Jika perlu, carilah bantuan untuk membantu Anda menginformasikan kepada anak mengenai penyakitnya. Bagaimanapun caranya, Anda harus berkata jujur.

“Anak bisa mengetahui apa yang terjadi. Jika Anda tidak berterus terang, mereka justru akan membayangkan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Gunakan bahasa dan deskripsi yang sesuai dengan usia anak dengan nada pengertian,” kata Robin Goodman, PhD, direktur AboutOurKids.org dan direktur Public Education Program dari New York University Child Study Center, Amerika Serikat, kepada Everyday Health.

Untuk anak usia 3–5 tahun, cobalah untuk:

  • Gunakan bahasa sederhana tentang penyakitnya dan ulangi informasi hingga beberapa kali.
  • Tanyakan anak sesekali apakah ia mengerti apa yang terjadi.
  • Beri tahu anak untuk mengekspresikan amarahnya, misalnya seperti memukul bantal atau melampiaskannya dengan menggambar.
  • Tetapkan jadwal tidur siang, makan, dan bermain.
  • Jika anak melihat orang tuanya menangis, katakan bahwa Anda merasa sedih dan menangis membuat Anda merasa lebih baik.

Sedangkan untuk anak 6–12 tahun, lakukan ini:

  • Yakinkan anak bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahannya.
  • Beri tahu anak bahwa rasa marah, cemas, dan sedih yang ia rasakan adalah sesuatu yang normal.
  • Dorong ia untuk menuliskan apa yang ia rasakan.
  • Bantu anak untuk tetap berhubungan dan berinteraksi dengan teman-temannya.
  • Jaga jadwal aktivitasnya senormal mungkin.

Bila anak berusia 13–18 tahun, pastikan untuk:

  • Ikut sertakan ia dalam semua diskusi dengan tim medis.
  • Jika ada pertanyaan yang tak bisa Anda jawab, mintalah bantuan profesional untuk menjawabnya.
  • Dorong ia untuk bertemu dengan pasien leukemia seusianya.

Satu hal yang penting, anak dengan leukemia akan mengkhawatirkan banyak hal. Misalnya: ia akan ketinggalan pelajaran karena tidak masuk sekolah, penampilannya, dan tidak mampu untuk beraktivitas fisik atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang mereka suka seperti sebelum terdiagnosis leukemia. Sudah pasti bahwa hidup anak akan berubah secara drastis, tapi tugas Andalah untuk membuat hal-hal di rumah senormal mungkin.

“Jika Anda memperlakukan anak secara rapuh, mereka akan tumbuh rapuh. Jika Anda memperlakukan anak dengan rasa takut, mereka akan tumbuh menjadi penakut. Jika Anda memperlakukan anak dengan rasa penuh pengertian, seperti memberi tahu anak bahwa apa yang ia jalani memang berat tapi kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, nantinya akan tumbuh menjadi pribadi yang seperti itu,” Robin menjelaskan.

  1. Tetap positif

Jangan pernah memberi tahu anak informasi seperti siapa saja yang meninggal dunia karena kanker. Jangan melihatnya seperti ia adalah pesakitan. Teruslah tersenyum dan bersikap ramah, tak hanya pada anak dengan leukemia, tapi juga dengan semua anggota keluarga.

  1. Berkata jujur

Mereka tidak butuh mendengar perkataan  seperti, “Keajaiban akan menyembuhkanmu.” Jujurlah dengan apa yang terjadi. Informasikan anak mengenai leukemia dan berbagai terapinya. Anak punya beberapa pilihan terapi dan kesehatannya adalah yang utama. Kecuali Anda adalah satu tim dokter anak, jangan berikan ia saran medis.

  1. Diagnosis leukemia juga akan memengaruhi anggota keluarga lain

Kembali lagi, merawat anak dengan leukemia tidak mudah. Orang tua pun juga harus berjuang dengan buncahan emosi yang dirasakan, seperti syok, penyangkalan, rasa takut, sedih, marah, dan rasa bersalah. Bahkan, ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa orang tua yang merawat anak dengan kanker dapat membuat mereka mengalami posttraumatic stress disorder (PTSD).

Jika anak dengan leukemia memiliki kakak atau adik, jangan lupakan mereka karena ini pun juga berat untuk mereka. Tetap curahkan waktu untuk mereka, berikan pengertian, dan dorong mereka untuk saling mendukung satu sama lain.

  1. Coping untuk orang tua

Dalam sebuah penelitian kualitatif yang dipublikasikan di “Jurnal Psikologi Psibernetika” vol. 9 tahun 2016, didapatkan kesimpulan bahwa untuk menangani stres dalam merawat anak dengan leukemia secara spesifik ALL—orang tua perlu melakukan usaha coping.

Untuk coping ini, orang tua dianjurkan melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Melakukan kegiatan positif yang dapat meringatkan beban pikiran sejenak, misalnya dengan melakukan hobi bersama anak jika kondisinya memungkinkan.
  • Orang tua juga bisa mendekatkan diri kepada Tuhan dalam menghadapi masalah selama merawat anak, bisa dengan cara berdoa bersama anak.
  • Mencari atau bergabung dengan komunitas orang tua yang memiliki anak dengan leukemia agar dapat saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.
  • Untuk kerabat terdekat orang tua dengan anak yang menderita leukemia, berikan selalu dukungan morel yang akan berdampak baik bagi psikologis orang tua. Misalnya dengan menjadi tempat berkeluh kesah, memberikan semangat, memberikan informasi yang dibutuhkan, dan lain-lain.

Mendengar anak divonis leukemia memang bukanlah hal yang mudah. Banyak orang tua yang merasa kewalahan atau kebingungan setelah mendengar diagnosis anak. Tetaplah kuat, semangat, dan optimis, sehingga anak pun akan menghadapi dan menjalani segala perubahan dan proses pengobatannya dengan perasaan yang sama.

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar