Sukses

Leukemia pada Anak, Benarkah Selalu Faktor Genetik?

Meski terbilang langka, leukemia merupakan jenis kanker yang umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Benarkah penyebabnya karena faktor genetik?

Klikdokter.com, Jakarta Leukemia, atau biasa dikenal sebagai kanker darah, merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang. Penyakit ini bisa dialami baik orang dewasa maupun anak-anak.

Leukemia pada anak merupakan suatu jenis penyakit keganasan yang umum ditemui. Lantas, benarkah terjadinya leukemia disebabkan karena faktor genetik?

Kanker pada anak

Di antara sekian banyak jenis kanker, ada kanker yang kerap menyerang anak-anak. Kanker anak adalah kanker yang menyerang anak berusia di bawah 18 tahun, termasuk bayi dalam kandungan.

Sebetulnya jumlah kanker anak tidak lebih dari 2 persen dari keseluruhan penyakit kanker, tapi menjadi penyebab kematian terbesar pada anak rentang usia 5–14 tahun. Setiap tahunnya lebih dari 175.000 anak di dunia terdiagnosis kanker, dan estimasi 90.000 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian akibat kanker anak mencapai 50–60 persen karena umumnya penderita datang terlambat atau sudah dalam stadium lanjut akibat gejala kanker yang sulit dideteksi.

Menurut Sistem Registrasi Kanker di Indonesia (SriKanDI) tahun 2005–2007, perkiraan angka kejadian kanker anak (0–7 tahun) adalah sebesar 9 per 100.000 anak. Pada anak usia 0–5 tahun, angka kejadiannya lebih tinggi, yaitu 18 per 100.000 anak, sedangkan pada usia 5–14 tahun 10 per 100.000 anak.

Mengenal lebih dekat leukemia pada anak

Leukemia merupakan kondisi keganasan jumlah sel darah putih bertambah semakin banyak dibandingkan dengan jumlah sel darah merah. Jumlah keseluruhan kasus leukemia yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah (prevalensi) adalah yang tertinggi, yaitu 2,8 per 100.000. Leukemia sendiri dapat menimbulkan berbagai gejala yang berbeda seperti demam, sel darah merah yang rendah, hingga perdarahan.

Pada umumnya, terdapat beberapa gejala yang perlu dicermati oleh orang tua agar anak yang mengalami gejala leukemia dapat segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Lemah dan mudah lelah.
  • Pucat.
  • Anak mudah rewel.
  • Nafsu makan menurun.
  • Demam tanpa sebab yang jelas.
  • Sering terkena infeksi. Hal ini dikarenakan berkurangnya jumlah sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh.
  • Perdarahan kulit dan/ atau perdarahan spontan seperti tampak bintik-bintik merah atau mimisan.
  • Nyeri pada tulang.
  • Sering kali ditandai dengan anak tidak mau berdiri dan berjalan, dan lebih nyaman digendong.
  • Pembesaran kelenjar getah bening, hati, dan limpa.
  • Pembesaran buah zakar dengan konsistensi keras.

Gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak selalu sama pada setiap anak dan juga tidak selalu timbul secara bersamaan.

 

1 dari 2 halaman

Penyebab leukemia tidak selalu faktor genetik

Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya leukemia. Banyak orang tua yang langsung berkecil hati ketika anaknya divonis leukemia, dan merasa bersalah bahwa penyakit yang diderita anak ini dianggap akibat faktor genetik. Kenyataannya, ada banyak faktor yang berperan dalam terjadinya leukemia. Apa saja?

  1. Genetik

Adanya kelainan genetik merupakan salah satu keadaan yang ditemukan pada leukemia. Pada  orang-orang tertentu, DNA sel tubuh lebih rentan mengalami kelainan sehingga menjadi kanker. Inilah yang dimaksud dengan faktor risiko genetik dan hal tersebut dapat diturunkan dari orang tua.

Kejadian leukemia akut lebih tinggi, yaitu sebanyak 20 kali lipat, pada orang dengan riwayat leukemia pada keluarga. Kejadian leukemia juga lebih tinggi dari saudara kandung anak yang terserang. Hal ini membuktikan bahwa terdapat peran genetik pada kejadian leukemia.

  1. Infeksi virus

Selain faktor genetik, ternyata infeksi juga berperan dalam terjadinya timbulnya leukemia. Pada tahun 1980, ditemukan virus HTLV-1 pada limfosit seorang penderita limfoma, yang ternyata juga ditemukan pada serum penderita leukemia sel T. Hal ini menunjukkan adanya peran infeksi dalam terjadinya leukemia.

  1. Lingkungan

Faktor lain yang juga turut berkontribusi terhadap terjadinya leukemia adalah faktor lingkungan, seperti pengaruh paparan radiasi, zat kimia, dan polusi udara.

Zat kimia seperti benzena dan arsen dapat menyebabkan displasia (kelainan perkembangan pada organ atau bagian tubuh yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, dan organisasi sel dewasa) sumsum tulang belakang. Pada akhirnya, kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya leukemia.

Tak hanya itu, kemoterapi yang merupakan salah satu terapi kanker pun dapat memicu timbulnya sel kanker, meskipun kemungkinannya kecil.

Sebagai upaya mengendalikan kanker pada anak, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) telah melakukan berbagai seperti penyusunan buku penemuan dini kanker pada anak yang disebar ke berbagai provinsi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan imbauan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti: aktivitas fisik secara benar, teratur, dan terukur, makan makanan bergizi dengan pola seimbang, cukup makan buah dan sayur, serta mengelola stres dengan benar.

Nah, sampai di sini Anda sudah mengetahui bahwa selain faktor genetik, leukemia pada anak juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lain seperti infeksi virus dan faktor lingkungan. Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak lebih sulit dideteksi karena anak-anak pada umumnya belum mampu untuk mengemukakan apa yang dirasakan. Jika anak menunjukkan berbagai gejala yang disebutkan di atas, jangan berpikir dua kali untuk membawanya ke dokter.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar