Sukses

Fakta di Balik 5 Mitos Populer Seputar PMS

Tak sedikit mitos PMS yang beredar di tengah masyarakat. Cari tahu fakta medis yang sebenarnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Ada berjuta anggapan yang beredar seputar Premenstrual Syndrome atau PMS. Sebagian memang benar secara ilmiah, namun tak sedikit pula yang hanya mitos dan tidak pernah terbukti kebenarannya.

Sindrom yang dialami sebulan sekali tersebut memang kerap dikaitkan dengan banyak hal, termasuk anjuran dan larangan yang harus dilakukan seorang wanita saat mengalaminya. Jangan biarkan diri Anda tenggelam pada hal-hal yang menyesatkan. Berikut fakta medis yang sebenarnya di balik mitos populer seputar PMS.

Mitos PMS #1. Dilarang keramas

Anggapan ini menjadi mitos yang paling populer di antara wanita. Tidak jarang pula, kepercayaan tersebut ditularkan ke wanita-wanita lainnya.

Keramas saat PMS dianggap dapat membuat rambut rontok atau cepat ditumbuhi uban. Sayangnya, anggapan tersebut hanya isapan jempol dan tidak pernah terbukti kebenarannya.

Selama dilakukan dengan wajar, keramas tidak akan membuat rambut rontok, baik saat PMS atau di waktu-waktu lainnya. Terkait uban, kemunculan rambut putih yang satu ini benar-benar tidak memiliki hubungan dengan keramas saat PMS. Uban itu sendiri dipengaruhi oleh faktor genetik dan usia.

Berlawanan dengan mitos, medis justru menganjurkan bagi wanita yang sedang PMS untuk terus menjaga kebersihan rambutnya. Ini berarti, wanita PMS sangat dianjurkan untuk keramas, agar rambut dan kulit kepala senantiasa sehat dan bebas kuman.

Mitos PMS #2. Tidak boleh berenang

Ini adalah anggapan yang melenceng dari fakta medis. Sebab, para pakar medis menyebutkan bahwa berenang atau melakukan olahraga jenis lain saat PMS bukanlah sesuatu yang dilarang.

Namun, memang, atas alasan kebersihan lingkungan, aktivitas berenang sebaiknya ditunda jika memang haid sudah mulai berlangsung dan sedang banyak-banyaknya. Untuk sementara waktu, berenang dapat digantikan dengan olahraga lain yang sama menyehatkan dan tetap seru untuk dilakukan. Olahraga yang dapat dilakukan, misalnya bersepeda, yoga, aerobik atau bahkan zumba.

Mitos PMS #3. Tidak boleh makan pedas

Mitos ini pasti benar-benar membuat penyuka makanan pedas geleng-geleng kepala. Ketahuilah, makanan pedas tidak memiliki kaitan dengan keluhan yang terjadi selama masa PMS. Ini karena makanan yang dikonsumsi akan masuk ke dalam saluran cerna, sedangkan haid berlangsung di saluran reproduksi. Jadi, keduanya tidak memiliki kaitan sama sekali.

Mitos PMS #4. Rasa nyeri adalah pertanda gangguan rahim

Kram atau nyeri perut ringan saat PMS merupakan kondisi yang umumnya terjadi secara normal. Keluhan tersebut disebabkan oleh pengaruh hormon prostaglandin, dimana rahim berontraksi melepaskan lapisan dindingnya untuk luruh bersama darah haid.

Selama hanya berlangsung 1-3 hari dan dapat reda dengan obat antinyeri standar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun apabila nyeri berlangsung terus-menerus, intensitasnya sangat berat, dan keadaan tidak membaik dengan obat antinyeri, maka segera periksakan diri ke dokter. Ini karena gejala nyeri yang seperti itu dapat menjadi pertanda adalah endometriotitis atau tumbuhnya sel rahim di luar rahim. Bila tidak ditangani dengan baik, endometriosis dapat menyebabkan gangguan kesuburan.

Mitos PMS #5. Obat antinyeri menyebabkan rahim kering

Bila nyeri saat PMS yang dialami cukup mengganggu, seorang wanita dapat mengonsumsi obat antinyeri seperti parasetamol atau asam mefenamat. Obat tersebut aman selama digunakan sesuai dosis yang dianjurkan dan hanya dikonsumsi untuk waktu singkat. Ini berarti, antinyeri dapat menyebabkan rahim kering hanyalah mitos belaka.

Dengan mengetahui fakta medis di balik mitos PMS, diharapkan Anda bisa lebih bijak dalam menyikapi setiap anggapan yang beredar. Terlebih lagi bila itu berkaitan dengan kesehatan. Tetap waspada, tetap jaga kesehatan Anda!

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar