Sukses

Brace, Cara Menangani Skoliosis Tanpa Operasi

Selain lewat operasi, skoliosis juga dapat ditangani dengan penggunaan brace. Seberapa efektifkah alat ini untuk menangani skoliosis?

Klikdokter.com, Jakarta Operasi menjadi penanganan yang sering ditawarkan untuk kondisi skoliosis. Tapi tak semua bentuk skoliosis membutuhkan operasi. Ada pilihan lainnya yang dapat dilakukan, seperti penggunaan alat penunjang tubuh (brace).

Skoliosis merupakan gangguan tulang belakang yang melengkung ke samping. Sekitar 80% skoliosis adalah idiopatik, yakni skoliosis dengan kurva lebih dari 10 derajat. Selain lewat operasi, terapi nonoperasi juga bisa dilakukan untuk skoliosis. Metode yang ditempuh biasanya dengan pemakaian brace, olahraga, dan latihan fisik dengan alat fisioterapi untuk mengurangi rasa nyeri. 

Ahli fisiologi dan anatomi Labana Simanihuruk, B.Sc., mengemukakan bahwa brace secara klinis telah terbukti dapat mengurangi lengkung atau kurva pada kasus umum skoliosis. “Brace ini juga menurunkan rasa sakit, memperbaiki postur tubuh, memperlambat pertumbuhan kurva pada anak, memperbaiki bentuk tubuh dengan mengurangi tonjolan tulang iga, serta menyejajarkan bahu dan pinggang,” katanya, saat seminar media Scoliosis Care di Jakarta Pusat pada Selasa (17/7) siang.

“Bila kurva lebih dari 20 derajat, kami menyarankan untuk memakai brace. Bila kurva lebih dari 60 derajat, kami menyarankan untuk ketemu dokter bedah. Di dokter bedah, kami membiarkan pasien untuk menentukan pilihan. Kalau ada pasien lebih dari 60 derajat tetap ingin memakai brace karena ingin menghindari operasi, bisa saja. Tetapi pasien harus tanda tangan dulu, yang menyatakan bahwa itu sepenuhnya keinginan mereka,” lanjut Labana.

Dengan teknologi seperti brace, mitos bahwa pasien skoliosis yang sudah dewasa tidak bisa dikoreksi lagi tulangnya tanpa operasi menjadi tidak relevan. Selain penggunaan brace, Labana menyarankan pasien skoliosis untuk tetap aktif. Olahraga penting dilakukan pasien skoliosis agar otot-ototnya dapat bekerja secara maksimal. Rehabilitasi skoliosis dan berbagai program latihan khusus dinilai sangat berpengaruh dalam perawatan pasien skoliosis.

1 dari 2 halaman

Waspada gejalanya

Tak semua orang dengan skoliosis menyadari dirinya memiliki penyakit tersebut. Hal ini dialami oleh Sang Ayu Putu Cynthia Maharani (Cynthia), seorang penari dan karyawan swasta. Wanita berusia 22 tahun ini didiagnosis skoliosis idiopatik sebesar 45 derajat saat SMP. Kala itu ibunya lah yang menemukan kejanggalan di punggungnya, yakni saat Cynthia fitting baju kebaya.

“Menurut saya penting sekali untuk melakukan pemeriksaan dini begitu menemukan lengkungan atau merasakan nyeri di daerah punggung, bahu atau pinggul. Awalnya saya tidak merasakan nyeri sama sekali, tapi semakin lama nyeri itu muncul, bahkan sampai mengganggu kegiatan sehari-hari,” tuturnya, ketika ditemui pada acara yang sama.

Dilansir National Health Service UK, tanda dan gejala skoliosis meliputi tulang belakang terlihat melengkung, condong ke satu sisi, bahu yang tidak rata, satu sisi pada bahu atau pinggul mencuat, tulang rusuk menonjol di satu sisi, serta pakaian tidak pas. Beberapa orang dengan skoliosis bisa juga mengalami sakit punggung, dan ini cenderung lebih umum terjadi pada orang dewasa.

Sekitar 8 dari 10 kasus skoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut dengan skoliosis idiopatik, dan tidak dapat dicegah karena mungkin berkaitan dengan genetik. Penyebab lainnya dari skoliosis adalah kelainan bawaan dari lahir, kelainan pembentukan tulang, kebiasaan sehari-hari (misalnya, sering membawa barang berat), dan faktor bertambahnya usia.

Jika merasa diri Anda atau orang terdekat memiliki skoliosis, periksakan ke dokter. Bila Anda telah didiagnosis dengan skoliosis, diskusikan segala kekhawatiran Anda dengan dokter, termasuk apakah harus melakukan operasi atau cukup menggunakan brace. Apa pun perawatan yang Anda pilih, pastikan juga untuk menerapkan pola hidup sehat lainnya, salah satunya olahraga, untuk meringankan nyeri akibat skoliosis.

[RVS]

1 Komentar