Sukses

Hipertensi Picu Impotensi, Mitos atau Fakta?

Hipertensi dikatakan bisa memicu impotensi, mitos atau fakta? Simak kebenarannya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Impotensi, juga dikenal dengan istilah disfungsi ereksi, sering kali menjadi beban berat bagi kualitas hidup penderita dan pasangan seksualnya. Berdasarkan definisi National Institute of Health tahun 1993, impotensi atau disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan persisten untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk mencapai kepuasan seksual. Sebagian masyarakat menyebut kondisi ini bisa terpicu oleh adanya tekanan darah tinggi atau hipertensi. Mitos atau fakta?

Seputar penis dan ereksi

Penis memiliki struktur anatomis yang menunjang timbulnya ereksi. Bagian ini dinamakan corpora cavernosa. Corpora cavernosa merupakan jaringan berpori yang berisi arteri dan vena kecil, otot polos, dan ruang kosong.

Timbulnya ereksi diawali dengan pengiriman sinyal dari otak ke serabut saraf pada penis. Hal ini menyebabkan otot polos pada corpora cavernosa berelaksasi. Selain itu juga terjadi dilatasi atau pelebaran pembuluh darah arteri pada penis. Kedua hal ini memungkinkan aliran darah ke dalam penis dan mengisi ruang kosong dalam corpora cavernosa.

Selanjutnya, aliran darah yang masuk ke dalam penis ini akan menekan pembuluh darah vena, yang bertugas mengalirkan darah keluar dari penis. Akibatnya, darah menjadi “terjebak” dalam penis dan membuat penis kaku dan membesar. Kondisi inilah yang disebut sebagai ereksi. Ereksi akan berakhir jika terjadi kontraksi otot polos penis, sehingga darah bisa mengalir keluar dari pembuluh darah vena karena tidak ada tekanan pada vena.

Penyebab dari impotensi sendiri cukup banyak, yang antara lain adalah penyebab vaskuler (pembuluh darah), urologi (saluran kemih), neurologi (saraf), psikologis, endokrin (hormonal), dan iatrogenik. Agar dapat ditangani dengan baik, penting untuk mengetahui penyebab dari disfungsi ereksi ini.

Kaitan antara hipertensi dan impotensi

Lalu, benarkah hipertensi berkaitan dengan impotensi? Faktanya, impotensi sering ditemukan pada penderita darah tinggi. Bahkan, mereka yang menderita hipertensi ditemukan dua kali lipat lebih mungkin memiliki impotensi dibandingkan dengan mereka yang tekanan darahnya normal.

Secara umum, kurang lebih setengah dari pasien dengan hipertensi akan menderita impotensi, dan kejadian impotensi dapat meningkat seiring bertambahnya usia, tingkat keparahan dan durasi menderita hipertensi, dan juga adanya faktor risiko kardiovaskular lainnya.

Risiko timbulnya disfungsi ereksi meningkat pada pasien dengan faktor risiko kardiovaskular lain, misalnya diabetes, obesitas, sindrom metabolik, atau dislipidemia. Adanya penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung atau penyakit jantung koroner juga meningkatkan risiko impotensi.

Hipertensi yang menyebabkan impotensi dianggap sebagai penyebab vaskuler dari impotensi. Sering kali, hipertensi menyebabkan aterosklerosis yang menyebabkan aliran darah kurang lancar. Diperkirakan, hingga 89 persen impotensi pada penderita hipertensi disebabkan oleh aterosklerosis.

Penyumbatan akibat aterosklerosis dapat menimbulkan keluhan lebih dahulu pada arteri kecil, seperti pada penis, dibandingkan arteri berukuran besar, seperti pada jantung. Oleh karena itu, keluhan impotensi sering kali mendahului keluhan pada jantung pasien hipertensi.

Diperkirakan keluhan impotensi dapat muncul 3-5 tahun sebelum keluhan penyakit jantung koroner (misalnya nyeri dada). Sehingga, adanya gejala impotensi dapat menjadi penanda dini diagnosis penyakit jantung koroner, yang mungkin masih belum menimbulkan gejala saat gejala impotensi sudah dialami.

Selain aterosklerosis, disfungsi endotel pembuluh darah akibat hipertensi turut berkontribusi terhadap munculnya impotensi. Hipertensi dalam jangka panjang menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan pada sel endotelium, yang dapat mengganggu kemampuan arteri pada corpus cavernosa untuk melakukan dilatasi dengan baik saat akan timbul ereksi.

Jadi, kini Anda mengetahui fakta kaitan antara hipertensi dan impotensi. Data menunjukkan bahwa penanganan tekanan darah tinggi, baik dengan perubahan gaya hidup maupun konsumsi obat antihipertensi, dapat bermanfaat bagi pasien hipertensi dengan keluhan impotensi. Jika Anda mengalami hipertensi, sebaiknya segera dikontrol sebelum muncul impotensi atau munculnya komplikasi yang lebih serius.

[RN/RVS]

1 Komentar