Sukses

Tips agar Pengungsi Gunung Agung Tidak Kena Gangguan Pernapasan

Gunung Agung di Bali kembali mengalami erupsi. Bahaya gangguan pernapasan pun mengancam. Lakukan tips ini untuk menghindarinya.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari terakhir, Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali berulang kali mengalami erupsi. Pada hari Senin tanggal 2 Juli 2018 erupsi Gunung Agung terjadi sebanyak 3 kali. Esoknya pada hari Selasa (3/7) terjadi kembali erupsi 2 kali dan terakhir hari Rabu (4/7) dini hari Gunung Agung mengeluarkan lava pijar. Letusan Gunung Agung ditandai dengan abu vulkanik dan asap berwarna kelabu. Akibat letusan tersebut, sejumlah penyakit mengintai masyarakat di sekitar area. Salah satunya ialah gangguan pernapasan.

Saat ini Gunung Agung berstatus siaga III. Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat dan wisatawan dihimbau agar tidak melakukan aktivitas dan pendakian dalam radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung. Zona bahaya ini dapat terus berubah bergantung pada situasi Gunung Agung. Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Agung dievakuasi ke lokasi yang aman.

Dalam erupsi tersebut Gunung Agung mengeluarkan abu vulkanik, yang jika terhirup oleh saluran napas dapat menyebabkan peradangan pada saluran napas. Jika seseorang mengalami kondisi tersebut, gejala yang muncul bisa berupa hidung gatal, bersin-bersin, produksi lendir hidung berlebih, nyeri tenggorok, batuk, produksi dahak berlebih hingga sesak napas.

Gangguan pernapasan ini lebih rentan dialami mereka yang berisiko tinggi seperti anak-anak, orang usia lanjut, dan orang-orang dengan gangguan pernapasan (contoh asma). Meski demikian, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar Anda terhindar dari gangguan pernapasan akibat letusan Gunung Agung, antara lain:

1. Gunakan masker dan kaca mata pelindung

Partikel-partikel kecil dari abu vulkanik dapat terhirup oleh saluran napas. Oleh sebab itu, para pengungsi sebaiknya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, untuk mengurangi kemungkinan paparan terhadap abu vulkanik. Bila memungkinkan, gunakan masker khusus yang didesain untuk menyaring partikel-partikel kecil. Gunakan pula kaca mata pelindung untuk menghindari paparan abu terhadap mata.

2. Tetap di dalam ruangan

Selama status Gunung Agung masih siaga dan belum dikabarkan normal tinggallah di dalam rumah atau ruangan. Tutup pintu dan jendela rapat-rapat serta letakkan kain basah di celah jendela dan pintu, untuk mengurangi kemungkinan abu masuk ke dalam rumah.  Hindari aktivitas di luar rumah dan berpergian menggunakan kendaraan, terutama saat abu vulkanik masih berada di udara, karena menyebabkan jarak pandang saat berkendara menjadi lebih sempit.

3. Gunakan pakaian tertutup

Gunakan baju lengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi paparan dengan abu vulkanik.

4. Hindari aktivitas berlebih

Berlarian, bermain sepeda atau melakukan aktivitas yang berlebih akan membuat Anda bernapas lebih dalam sehingga dapat menghirup partikel abu vulkanik masuk ke bagian paru lebih dalam. Ingatkan anak-anak untuk tidak berlarian ketika abu vulkanik masih berada di udara.

5. Bersihkan rumah

Bersihkan area lantai, jendela, atap rumah dari debu abu vulkanik. Berikan sedikit air di bagian yang terkena abu vulkanik sebelum Anda sapu, untuk menghindari pergerakan partikel debu. Namun, Anda tetap harus berhati-hati saat membersihkan atap karena abu vulkanik dapat menyebabkan rumah runtuh. Saat membersihkan, pastikan tubuh Anda terlindungi dengan menggunakan masker, kacamata dan baju lengan panjang.

Erupsi Gunung Agung memang berpotensi mengakibatkan beragam penyakit, termasuk pada pernapasan. Bila Anda merasakan gejala gangguan pernapasan yang timbul akibat abu vukanik yang muncul dari letusan Gunung Agung, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan terdekat. Lakukan semua upaya pencegahan untuk melindungi kesehatan Anda dan keluarga, dan pantau informasi terbaru mengenai status Gunung Agung melalui radio dan televisi.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar