Sukses

4 Penyakit Ini Rentan Menyerang Pengungsi Gunung Agung

Hati-hati, empat penyakit berikut ini rentan menyerang pengungsi, korban erupsi Gunung Agung. Apa saja keempat penyakit tersebut?

Klikdokter.com, Jakarta Belum lama meletus menjelang akhir tahun 2017 lalu, Gunung Agung kembali terbangun dari tidurnya dengan memuntahkan pijaran lava panas sejak awal Juli 2018. Bagi sebagian wisatawan yang sedang berada di Bali, erupsi Gunung Agung justru menjadi tambahan atraksi yang diabadikan melalui foto dan video. Namun sebagian besar warga yang tinggal dalam jarak dekat dengan kaki gunung, erupsi tersebut tentu membahayakan keselamatan.  Mereka pun diungsikan. Tetapi ancaman tidak berhenti di situ. Para pengungsi menjadi rentan terkena penyakit.

Kondisi yang serba terbatas di pengungsian, serta paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung, memang menjadi masalah tersendiri bagi para pengungsi. Ada beberapa penyakit yang rentan dialami oleh para pengungsi Gunung Agung. Beberapa penyakit tersebut, antara lain:

  1. Infeksi saluran pernapasan

Berada di tempat pengungsian bersama dengan banyak orang menyebabkan para pengungsi erupsi Gunung Agung rentan mengalami penyakit infeksi, terutama yang ditularkan melalui udara. Para pengungsi biasanya rentan terjangkit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Gejala ISPA yang umumnya dirasakan adalah  demam, batuk, dan pilek. Dalam lokasi pengungsian, biasanya begitu ada satu orang yang mengalaminya, orang di sekitarnya akan mudah tertular dalam waktu cepat.

Pada orang dewasa, ISPA umumnya bukanlah hal yang membahayakan. Kondisi ini biasanya berlangsung dalam waktu 3-7 hari, ISPA akan sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuh seseorang cukup baik.

Namun demikian, ISPA bisa berbahaya jika dialami bayi atau kaum lanjut usia. Daya tahan tubuh mereka yang umumnya tak begitu baik, mengakibatkan ISPA bisa berlanjut menjadi infeksi yang berat. Jika bayi, anak dan lansia mengalami ISPA, perlu segera mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  1. Diare

Tak hanya mudah terjangkit ISPA, pengungsi juga rentan mengalami diare. Ini terjadi khususnya jika makanan yang dikonsumsi terkontaminasi virus atau bakteri. Meskipun di tempat pengungsian disediakan makanan yang sudah dimasak dengan standar yang cukup baik, namun paparan udara yang tidak bersih, lalat, atau kuman lain dapat mengontaminasi makanan. Bermacam kontaminan tersebut dapat memicu timbulnya gejala diare, muntah, atau kram perut.

Diare yang terjadi karena kontaminasi kuman di makanan umumnya tak berlangsung lama. Dalam 1-3 hari umumnya keluhan akan membaik. Yang perlu dilakukan adalah minum air dan oralit dalam jumlah yang cukup agar tidak dehidrasi.

Namun Anda perlu waspada jika diare menyerang anak balita, karena bisa membahayakan nyawanya. Dalam kondisi tersebut, anak balita belum dapat mencukupi kebutuhan cairannya sendiri saat haus. Akibatnya, mereka jadi mudah mengalami dehidrasi. Jika tak diatasi segera, kondisi ini bahkan bisa menyebabkan kematian.

  1. Gizi kurang dan gizi buruk

Kondisi asupan makanan yang tak seperti biasanya, bisa menyebabkan kecukupan gizi para pengungsi tak terpenuhi. Belum lagi jika terserang muntah atau diare, asupan makanan akan makin berkurang. Bagi balita dan kaum lanjut usia, berada di pengungsian dalam waktu yang cukup lama bisa menyebabkan kondisi gizi kurang, bahkan bisa berlanjut hingga mengalami gizi buruk. Oleh karena itu, gizi balita, anak dan lansia dalam pengungsian harus mendapatkan perhatian yang lebih.

  1. Infeksi kulit

Kondisi di daerah pengungsian yang sangat padat pengungsi, menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah berkeringat. Selain itu, kurangnya air bersih dan kondisi yang tidak higienis, membuat pengungsi tidak bisa membersihkan tubuh dengan optimal. Akibatnya, mereka menjadi rentan mengalami infeksi kulit.

Infeksi kulit yang dialami umumnya disebabkan karena infeksi bakteri atau infeksi jamur. Infeksi bakteri umumnya ditandai dengan munculnya bisul atau bintik-bintik bernanah pada kulit. Sementara itu, infeksi jamur biasanya memiliki gejala bintik-bintik di kulit yang terasa gatal. Infeksi tersebut bisat terjadi di bagian tubuh manapun, mulai dari kepala hingga telapak kaki.

Kondisi pengungsian memang kerap kali tidak ideal dalam hal sanitasi, sehingga menyebabkan timbulnya beragam penyakit menular. Meski demikian, ada dua hal utama yang dapat dilakukan para pengungsi, untuk menurunkan risiko terkena penyakit-penyakit tersebut. Yang pertama adalah dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap akan makan. Yang kedua adalah menggunakan masker jika sedang batuk pilek atau jika berdekatan dengan orang yang sedang mengalami batuk pilek. Yang terpenting, jika mengalami keluhan kesehatan, segera kunjungi pos kesehatan di lokasi bencana.

Berkembangnya penyakit menular dalam pengungsian memang terkadang tidak bisa dihindari. Namun dengan melakukan hal-hal sederhana yang disarankan di atas, para pengungsi Gunung Agung diharapkan bisa terhindar dari risiko penyakit menular yang rentan terjadi di lokasi pengungsian.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar