Sukses

Ketika Mood Swing Tak Lagi Normal

Anda kerap mengalami perubahan emosi atau mood swing? Kenali ketika mood swing tak lagi normal.

Klikdokter.com, Jakarta Perubahan emosi atau mood swing memang wajar dialami, terutama oleh wanita yang sedang memasuki masa menstruasi, hamil, atau menopause. Namun, ada kalanya mood swing harus dicurigai sebagai sesuatu yang tak normal, yaitu kelainan psikiatri berupa gangguan bipolar.

Dalam skala yang wajar, perubahan emosi dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti masalah dalam rumah tangga, percintaan, pertemanan, pekerjaan, dan keuangan, kurang tidur, akan memasuki menstruasi (sindrom pramenstruasi), sedang hamil, atau sedang memasuki masa pramenopause.

Namun, apabila mood swing yang Anda alami tidak dipicu oleh hal-hal yang jelas, atau dengan kata lain dapat terjadi begitu saja, maka ada kemungkinan Anda mengalami gangguan bipolar.

Perubahan emosi ekstrem

Pernahkan Anda merasa sangat bahagia, gembira, seperti berada di puncak dunia,  lalu tidak lama kemudian menjadi sedih, murung, dan merasa diri tidak berguna? Dalam skala tertentu, hal tersebut masih tergolong wajar, apalagi jika ada penyebab yang jelas dari perubahan emosi yang Anda rasakan.

Namun, apabila perubahan emosi atau mood swing tersebut terjadi terlalu sering, apalagi dalam tingkat yang berlebihan hingga mengganggu diri sendiri dan orang-orang di sekitar Anda, perlu dicurigai bahwa Anda mengalami gangguan bipolar.

Seseorang yang terkena gangguan bipolar memiliki gejala yang bertolak belakang. Pada suatu ketika ia bisa merasa sangat bahagia, bahkan mengalami euforia dan optimisme yang luar biasa.

Biasanya gejala yang didapati pada masa ini adalah ia sering menunjukkan emosi berlebihan, berbicara banyak dan keras hingga kerap mengganggu orang di sekitarnya, menyetir mobil dengan cepat (kadang bahkan tanpa tujuan yang jelas), merasa sangat berenergi sehingga tidak perlu tidur (bahkan selama berhari-hari), dan kerap menghambur-hamburkan uang (tiba-tiba dapat berbelanja dengan impulsif dan menghabiskan banyak uang), atau membagi-bagikan uang kepada orang lain. Fase ini disebut sebagai fase manik.

Setelah fase manik berlalu, orang yang memiliki gangguan bipolar akan jatuh ke dalam fase depresi. Pada masa ini, ia akan merasa sedih, murung, lelah, merasa tidak memiliki harapan, merasa diri tidak berguna, dan tidak berselera melakukan apapun – termasuk hal-hal yang disukai. Seseorang dikatakan mengalami depresi apabila gejala-gejala seperti di atas terjadi dalam 2 minggu atau lebih.

Cari bantuan medis secepatnya

Apabila Anda merasa mengalami gangguan bipolar, percayalah bahwa ini bukan akhir dari dunia. Anda tidak sendirian. Banyak orang yang juga mengalami gangguan bipolar, termasuk selebritas seperti Marshanda, Demi Lovato, Britney Spears, Robin Williams, Catherine Zeta-Jones, Amy Winehouse, Mel Gibson, Jim Carrey, dan Marilyn Monroe.

Gangguan bipolar, seperti gangguan mental lainnya, tidak bisa disepelekan karena dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Mengganggu kehidupan sekolah atau kuliah, pekerjaan, serta merusak hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar. Bahkan pengidap gangguan bipolar juga rentan bunuh diri ketika berada dalam fase depresi berat.

Anda dapat mencegah itu semua. Yang terpenting adalah mengenali gejala (termasuk tahu membedakan mood swing biasa dengan bipolar) dan mencari bantuan medis secepatnya. Dengan terapi yang cepat dan tepat, gangguan bipolar dapat ditangani. Anda pun bisa mendapatkan kehidupan yang tenteram, nyaman, dan bahagia meski memiliki bipolar. 

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar