Sukses

Ancaman Penyakit Pernapasan pada Anak, Akibat Erupsi Gunung Agung

Kenali penyakit pernapasan yang dapat terjadi pada anak akibat erupsi Gunung Agung.

Klikdokter.com, Jakarta Satu fenomena alam yang mengejutkan kembali terjadi beberapa hari belakangan. Gunung Agung mengalami erupsi pada hari Senin, 2 Juli 2018 malam hari. Selang dua hari kemudian, yaitu hari Rabu, 4 Juli 2018 dini hari, erupsi juga kembali terjadi dan kali ini bahkan setinggi 2000 meter. Status Gunung Agung saat ini ditetapkan Siaga (level III) dan radius 4 kilometer dari kawasan gunung dianggap berbahaya.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Gunung Agung mengalami erupsi. Gunung Agung telah mengalami erupsi beberapa kali sebelumnya. Erupsi kali ini bersifat eksplosif, meletuskan batu pijar karena ada tekanan dari dalam kawah. Sifat magma yang keluar pun lebih cair dibandingkan letusan tahun lalu. 

Ancaman penyakit pernapasan

Saat ini, warga di sekitar kawasan Gunung Agung sudah mulai melakukan evakuasi ke desa-desa lain. Namun, hal berikutnya yang harus diwaspadai oleh setiap warga adalah ancaman penyakit pernapasan.

Masalah saluran pernapasan memang sering terjadi pasca letusan gunung berapi. Debu vulkanik, kandungan mineral di dalamnya, serta suhu yang panas berpotensi memicu berbagai penyakit. Penyakit tersebut dapat menyerang siapa saja, tetapi anak-anak adalah yang paling rentan mengalaminya. Kondisi tubuh anak-anak yang masih rentan, serta daya tahan tubuh yang belum optimal, membuat mereka mudah mengalami beberapa penyakit pernapasan ketika terjadi erupsi gunung berapi.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Berikut ini adalah beberapa gangguan pernapasan karena abu vulkanik:

1. Trauma inhalasi

Trauma inhalasi adalah cedera saluran pernapasan akibat terpapar suhu yang sangat tinggi. Hal ini terutama terjadi bila anak menghirup debu vulkanik beberapa saat setelah letusan yang suhunya masih sangat panas. Saluran pernapasan akan mengalami pembengkakan dan tersumbat.

Biasanya, gejala yang tampak berupa batuk, sesak, suara napas berbunyi mengi, bahkan hingga gagal napas. Kondisi ini termasuk ke dalam kondisi gawat darurat sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

2. Radang saluran pernapasan atas

Abu vulkanik yang mencemari udara sekitar kawasan gunung dapat menimbulkan iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan bagian atas mulai dari hidung, tenggorokan, trakea, dan bronkus. Gejalanya bervariasi mulai dari rasa nyeri di tenggorokan, suara serak, batuk, dan sesak napas.

Gejala-gejala tersebut dapat muncul beberapa hari hingga beberapa minggu setelah erupsi. Bayi dan anak adalah kelompok yang sangat rentan mengalaminya. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar menjaga mereka dalam kondisi urgen tersebut.

3. Masalah paru-paru kronik

Silika merupakan salah satu komponen mineral yang terdapat dalam debu vulkanik. Komponen ini berukuran kecil, sehingga bila terhirup dapat mencapai jaringan paru, menetap, dan merusak sel paru (pneumosit). Kondisi ini disebut  silikosis.

Silikosis termasuk dalam kelompok penyakit pneumonitis, yaitu kelompok penyakit yang diakibatkan adanya partikel dalam paru. Partikel tersebut akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut sehingga mengganggu kemampuan paru untuk mengembang. Dampaknya, penderita akan kesulitan bernapas dan sering mengalami infeksi paru.

4. Kambuhnya asma dan alergi

Bagi mereka yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran pernapasan, menghirup abu vulkanik dapat mencetuskan kekambuhan. Saat kambuh, gejalanya dapat berupa sesak napas, batuk, suara napas terdengar mengi, dan dada terasa berat.

2 dari 3 halaman

Langkah pencegahan yang perlu dilakukan

Untuk mencegah terjadinya masalah pernapasan tersebut, beberapa hal berikut dapat Anda lakukan di rumah maupun di daerah evakuasi, yaitu:

  • Tetap di dalam rumah. Sedapat mungkin, bila tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah tinggal di rumah. Tutup pintu dan jendela untuk meminimalkan masuknya debu vulkanik ke dalam rumah.
  • Gunakan alat pelindung diri. Bila Anda dan anak harus keluar rumah, gunakan alat pelindung seperti masker, topi, atau helm.
  • Siapkan obat-obatan darurat. Hal ini penting terutama bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi.
  • Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Saat anak mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, suara mengi, berat saat bernapas, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Penyakit pernapasan memang kerap terjadi pasca erupsi gunung berapi, seperti halnya Gunung Agung. Gangguan ini bisa dialami oleh siapa saja, terutama anak-anak. Karena itu, tetaplah waspada dan lakukan kiat-kiat di atas untuk mencegah terjadinya gangguan pernapasan pada anak akibat abu vulkanik.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar