Sukses

4 Penyakit Akibat Abu Vulkanik Letusan Gunung Agung

Gunung Agung meletus dan menyebabkan hujan abu vulkanik. Waspada, jangan sampai Anda terkena masalah kesehatan karenanya.

Klikdokter.com, Jakarta Gunung Agung kembali meletus dan mengeluarkan abu vulkanik yang menghujani sejumlah daerah di Kabupaten Karangasem, Bali, khususnya kawasan desa Bangli. Sebaran abu dikabarkan menuju ke arah barat daya dari kawah Gunung Agung.

Gara-gara abu vulkanik yang menyebar di udara, Bandara Ngurah Rai sempat ditutup selama beberapa waktu, walau kini dapat kembali digunakan. Namun, masyarakat tetap diminta untuk selalu waspada dan berhati-hati ketika beraktivitas. Ini karena abu vulkanik akibat letusan Gunung Agung tak hanya mengganggu pemandangan, tapi juga meningkatkan berbagai risiko kesehatan.

Berdasarkan fakta yang dibeberkan dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, abu vulkanik dari letusan Gunung Agung dapat menyebabkan sejumlah penyakit berikut ini:

1. Trauma inhalasi

Abu vulkanik, terutama sesaat setelah terjadi letusan, umumnya masih berada dalam suhu yang panas. Saat terhirup, abu panas tersebut dapat menyebabkan saluran pernapasan membengkak (edema) hingga tersumbat. Kondisi ini disebut dengan trauma inhalasi.

Bila hal tersebut terjadi dan tidak segera diatasi, penderitanya akan merasa sesak napas, batuk, terdengar mengi, hingga gagal napas.

2. Peradangan saluran pernapasan bagian atas

Udara yang tercemar abu vulkanik dapat menyebabkan timbulnya iritasi pada saluran pernapasan bagian atas, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga trakea. Gejala yang terjadi akibat keadaan itu sangat bervariasi, mulai dari iritasi hidung, batuk, nyeri tenggorokan hingga suara serak.

Peradangan pada saluran napas atas dapat terjadi pada segala usia. Namun, bayi, anak-anak dan orang usia lanjut lebih rentan mengalaminya.

3. Kambuhnya alergi dan asma

Bagi mereka yang mengidap asma atau mengalami alergi tertentu, menghirup abu vulkanik dapat menyebabkan gejala alergi dan asma kambuh lebih sering. Saat kambuh, yang terjadi adalah rasa sesak napas, dada terasa berat, suara napas terdengar mengi, dan batuk.

4. Gangguan paru-paru kronik

Secara jangka panjang, komponen mineral dalam abu vulkanik yang telah terhirup bisa tetap ada di jaringan paru-paru dan merusak sel paru (pneumosit). Medis menyebut kondisi ini sebagai silikosis.

Silikosis termasuk dalam kelompok penyakit pneumonitis, yang disebabkan oleh adanya partikel dalam paru. Partikel itu akan menyebabkan jaringan paru rusak dan terbentuk jaringan parut, yang membuat kemampuan paru untuk mengembang terganggu. Alhasil, penderitanya akan mengalami kesulitan bernapas.

1 dari 2 halaman

Apa yang harus dilakukan?

Bagi Anda yang berada di sekitar wilayah Gunung Agung dan tak ingin mengalami dampak buruk abu vulkanik, berikut beberapa saran dari dr. Sepri:

  • Hindari keluar rumah bila tidak ada keperluan yang mendesak. Tutup pintu dan seluruh jendela rumah. Hal ini dapat memperkecil masuknya abu vulkanik ke dalam rumah.
  • Apabila terpaksa harus keluar rumah atau berpindah tempat, gunakan alat pelindung, seperti topi, helm, masker, dan pakaian tertutup.
  • Sebelum makan, selalu cuci semua bahan makanan. Hal ini bertujuan agar seluruh bahan makanan benar-benar bersih dari abu vulkanik yang mungkin menempel.
  • Bagi pengidap asma atau alergi, siapkan obat di tempat yang mudah dijangkau. Jika sewaktu-waktu kondisi alergi atau asma kambuh, obat tersebut bisa segera Anda konsumsi.
  • Bila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala, seperti batuk tidak berhenti, sesak napas, nyeri dada atau suara mengi, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Abu vulkanik akibat letusan Gunung Agung dikabarkan masih menghujani sejumlah titik di kawasan sekitar. Tetap waspada, dan jaga kesehatan Anda dengan mengikuti cara di atas. Pastikan pula Anda selalu mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh pihak berwenang setempat.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar