Sukses

Waspada Penyakit Pernapasan Akibat Erupsi Gunung Agung

Gunung Agung diguncang letusan sejak Senin (2/7) malam. Bagi masyarakat, hati-hati dengan kemungkinan penyakit pernapasan akibat erupsi ini.

Klikdokter.com, Jakarta Gunung Agung di Bali kembali meletus pada hari Senin (2/7) malam dan Selasa (3/7) pagi. Sebagai negara yang terletak di wilayah “Cincin Api”, potensi munculnya bencana alam seperti ini memang lebih tinggi. Dengan besarnya risiko letusan gunung api, masyarakat juga harus waspada terhadap dampak kesehatan akibat letusan tersebut, khususnya penyakit pernapasan.

Menurut laporan Liputan6, erupsi Gunung Agung berupa lontaran lava hingga 2 kilometer disertai suara dentuman keras menandakan aktivitas gunung berapi ini. Selain itu, tampak kolom abu tebal yang bisa dilihat hingga kurang lebih 2.000 meter di atas puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di area Gunung Agung sudah dievakuasi ke tempat aman.

Masalah pernapasan akibat abu vulkanik

Salah satu dampak kesehatan yang sering kali dikeluhkan pascaerupsi gunung api adalah masalah pernapasan. Terdapat beberapa faktor yang bisa berdampak terhadap organ pernapasan, antara lain ukuran partikel abu vulkanik yang dikeluarkan gunung api dan kandungan mineralnya.

Ukuran abu vulkanik memengaruhi efeknya terhadap sistem pernapasan. Partikel berukuran besar (10-100 μm) dikenal dengan partikel inhalable dan dapat terhirup pada saluran pernapasan atas sehingga menimbulkan iritasi. Keluhan yang dapat muncul berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan atas, antara lain iritasi hidung dan produksi ingus terus-menerus, iritasi tenggorokan dan nyeri tenggorokan yang dapat disertai batuk kering, juga rasa tidak nyaman saat bernapas.

Sementara partikel berukuran sedang (4-10 μm) dikenal dengan partikel thoracic. Partikel ini dapat menumpuk pada area trakea dan bronkus serta berpotensi menimbulkan penyakit akut. Misalnya saja gejala bronkitis seperti batuk, produksi dahak, mengi, dan sesak napas. Selain itu, iritasi saluran pernapasan dapat menimbulkan kambuhnya gejala asma, seperti sesak napas, mengi, dan batuk.

Partikel berukuran kecil (kurang dari 4 μm) dikenal dengan partikel respirable dan dapat terhirup lebih dalam lagi pada paru-paru, misalnya area alveoli. Partikel ini berpotensi menimbulkan masalah kronis pada pernapasan. Misalnya saja silikosis dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis). Jadi, makin kecil ukuran partikelnya akan makin dalam terhirup pada organ paru-paru.

Timbulnya silikosis tidak hanya tergantung dari ukuran partikel debu vulkanik, tapi juga dari kandungannya. Komponen crystalline silica (quartz, cristobalite, tridymite) yang tinggi menjadi faktor risiko silikosis. Penyakit ini memicu perlukaan pada jaringan paru-paru. Walau pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala, gejala penyakit dapat terus berkembang, bahkan ketika paparan terhadap abu gunung api sudah tidak ada lagi.

Penyakit PPOK sering kali timbul akibat paparan jangka panjang terhadap partikel debu gunung api. Kondisi ini dapat ditandai dengan penyempitan saluran pernapasan dan produksi mukus secara berlebihan dalam jangka panjang.

Selain silica, abu gunung api juga berpotensi mengandung gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan. Misalnya saja karbon dioksida, sulfat, asam hidroklorik, dan asam hidrofluorat.

Karena itu, bagi Anda yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Agung, harap selalu waspada. Sedapat mungkin usahakan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Jangan lupa tutup pintu dan jendela rumah, dan letakkan kain basah pada celah pintu dan jendela agar abu tidak dapat masuk. Berikan perhatian khusus pada anak-anak, orang lanjut usia, dan mereka dengan penyakit paru, yang mungkin lebih berisiko terkena penyakit pernapasan dari erupsi gunung api.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar