Sukses

Gunung Agung Erupsi, Ini Risiko yang Bisa Terjadi

Gunung Agung kembali mengalami erupsi. Waspadai risiko yang bisa terjadi, berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Gunung Agung di Karangasem, Bali, kembali mengalami erupsi, Senin (2/7) pagi, sekitar pukul 06.19 WITA. Sebelumnya, gunung ini juga mengalami erupsi pada hari Kamis  28 Juni 2018, pukul 17.25 WITA. Berdasarkan informasi yang didapat dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, asap dan abu vulkanik keluar dari kawah Gunung Agung saat erupsi.

Hujan abu yang terjadi akibat erupsi yang terjadi akhir Juni tersebut sempat mengguyur beberapa kawasan desa di Bangli. Sebaran abu vulkanik kemudian bergerak ke arah barat daya dari kawah Gunung Agung. Sempat ditutup, kini Bandara Ngurah Rai dapat kembali digunakan.

Namun informasi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa pagi ini, Senin (2/7), sekitar pukul 06.19 Wita, Gunung Agung kembali mengalami erupsi.  Statusnya pun kembali dinaikkan ke Status Level III (Siaga).

1 dari 3 halaman

Waspada kondisi yang terjadi saat erupsi

Melihat kondisi di atas, masyarakat diminta untuk tetap tenang dan menjalani aktivitas seperti biasa. Meski demikian, ada sejumlah risiko yang bisa terjadi dari erupsi gunung, antara lain:

  1. Awan panas

Awan panas merupakan hasil letusan gunung api yang terdiri dari batu, pasir dan gas bersuhu tinggi. Ia bisa menjadi sangat berbahaya, sebab bisa meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi

“Suhu awan panas bisa mencapai hingga 600-800 derajat selsius. Kecepatannya menuruni lereng mencapai 200-300 kilometer per jam. Kondisi ini tentu saja sangat mengancam siapa pun yang ada dalam radius berbahaya,” ujar Sutopo.

Ada sejumlah cara untuk menghindari awan panas. Biasanya saat aktivitas gunung meningkat, perubahan jarak jangkau awan panas akan terjadi sangat cepat.

Hindari alur sungai atau lembah yang dialiri endapan awan panas pada saat musim penghujan. Tak lupa, hindari juga aktivitas di jalur sungai.

Hal itu dilakukan demi mewaspadai endapan awan panas yang ada di area tersebut. Sebab, jika terkena endapan awan panas, akan sangat berbahaya untuk tubuh Anda.

  1. Abu vulkanik

Hujan abu berasal dari letusan gunung api dan mampu menyebabkan pencemaran udara yang mengganggu pernapasan serta jarak pandang. Selain dari awan panas, abu vulkanik biasanya berasal dari piroklastik yang berjatuhan, yaitu material berbagai ukuran yang berasal langsung dari letusan gunung api.

Cara menghindarinya adalah menjauh dari jangkauan lontaran material gunung api. Ikuti imbauan radius aman dari pihak yang berwenang, yaitu BNPB dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)

 Saat terjadi abu vulkanik, sebaiknya jangan menggunakan kontak lensa pada mata. Selalu lindungi tubuh Anda dengan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan celana panjang.

Untuk memberi makan ternak, cucilah tanaman atau rumput terlebih dahulu sebelum diberikan pada hewan ternak untuk mencegah hewan mengalami gangguan pencernaan.

  1. Gas dan lahar panas

Awan panas yang keluar dari gunung api mengandung gas yang sangat berbahaya jika terhirup manusia. Untuk itu, jauhilah sumber gas jika mulai tercium bau yang sangat tajam dan menyengat. Daerah yang mengeluarkan gas biasanya ditandai dengan tanaman kering atau terdapat hewan mati di sekitar wilayah tersebut.

Hindari melakukan aktivitas di tempat yang memiliki bau gas tajam. Jika terpaksa harus keluar rumah, sebaiknya tidak melakukan aktivitas sambil duduk atau berjongkok di bawah 1 meter, terlebih saat udara mendung dan hujan.

Saat kondisi gunung api kritis, lahar dingin akan muncul ketika curah hujan tinggi. Jika ini terjadi, jangan melakukan aktivitas apapun di jalur sungai atau jalur yang dilalui lahar tersebut. Sebab derasnya arus lahar dapat merusak apapun yang dilaluinya.

2 dari 3 halaman

Lindungi diri Anda

Informasi dan kiat di atas sangat penting untuk diketahui agar Anda dan orang-orang di sekitar Anda terhindar dari bahaya gunung api. Gunakan juga topi, masker penutup hidung dan kacamata untuk melindungi diri dari abu vulkanik yang menyebabkan iritasi.

Selain itu, kurangilah aktivitas di luar ruangan seperti berkendara saat abu vulkanik menebal. Jika Anda berada di dalam bangunan, tutup semua jendela, pintu dan lubang ventilasi. Matikan penyejuk ruangan dan letakkan handuk lembap di antara pintu dan tanah.

“Jika Anda mengalami keluhan seperti sesak napas, iritasi pada mata, gangguan penglihatan, serta masalah kesehatan lain yang kunjung membaik, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Selanjutnya dokter akan mendiagnosis gangguan kesehatan yang Anda alami serta mencari penanganan yang tepat,” ujar dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter.

Jika Anda tinggal di sekitar Gunung Agung atau gunung api lainnya, waspadai erupsi yang mungkin terjadi demi keselamatan diri Anda. Pahami risiko dan penanganan di atas agar Anda tetap bisa menjalani aktivitas secara normal.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar